Samuhita Sakra, Cara Pemuda Sakra Menjaga Tradisi

Supardi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 14:51 WIB
BURSA KERIS: Sejumlah pengunjung bursa senjata tradisional pada acara pagelaran budaya dan tosan aji ke-2 di Bale Sangkep Desa Sakra, Kecamatan Sakra.

 
BURSA KERIS: Sejumlah pengunjung bursa senjata tradisional pada acara pagelaran budaya dan tosan aji ke-2 di Bale Sangkep Desa Sakra, Kecamatan Sakra.  

LombokPost-Dari jalan-jalan yang bermuara di simpang empat Desa Sakra, Kecamatan Sakra, ratusan pemuda dan tokoh adat datang mengenakan pakaian adat lengkap. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Berbagai pusaka turut dibawa, lalu dipertemukan di tengah persimpangan dalam sebuah ritual yang membawa satu pesan, bersatu menjaga kebudayaan.

Ritual itu bernama Samuhita Sakra. Samuhita berarti bersatu. Ia menjadi pembuka sekaligus napas utama Pagelaran Budaya dan Tosan Aji ke-2 yang kembali digelar Milenial Berkerisan Desa Sakra, Minggu (9/8).

Jika tahun lalu kirab hanya membawa pusaka dari Desa Sakra, penyelenggaraan kali ini dibuat lebih luas. Para pemuda dan pemerhati budaya dari berbagai daerah di Lombok, bahkan luar daerah, dipertemukan bersama pusaka yang mereka bawa.

Baca Juga: MTsN 3 Mataram Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Budaya Religius dan Sasak

“Kita ingin mempertemukan pusaka yang ada terutama dari empat penjuru,” terang Ketua Milenial Berkerisan Desa Sakra Lalu Romi Agustana Putraji.

Bagi Romi, Samuhita bukan sekadar nama yang dipasang sebagai tema pagelaran. Di balik kata itu tersimpan semangat untuk mempertemukan generasi muda, pemerhati budaya, hingga para pemilik dan perajin pusaka untuk merawat budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Budaya yang hendak dirawat pun tidak berhenti pada batas Desa Sakra. Romi ingin semangat itu menjangkau kebudayaan yang tumbuh di berbagai wilayah Lombok, bahkan Indonesia. Karena itu, sejumlah tokoh adat dari berbagai daerah ikut hadir. Mereka datang dari Jawa, Bali, hingga provinsi lainnya.

Baca Juga: Alunan Budaya Pringgasela Ditutup dengan Alunan Music Experience

Pertemuan budaya itu kemudian berlanjut ke pameran dan bursa keris. Sebanyak 40 pegiat atau perajin keris dari Pulau Lombok maupun luar daerah memamerkan karya mereka. Keris, aksesori, hingga senjata tradisional menjadi bagian dari pagelaran yang tahun ini kembali menarik perhatian masyarakat.

“Pameran ini juga ada kegiatan lelang keris yang bisa diikuti pengunjung. Selain dapat membeli di bursa yang sudah disiapkan. Termasuk juga ada aksesoris keris dan senjata tradisional juga dijual,” jelasnya.

Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat. Sebagian memilih membawa pulang benda-benda yang dipamerkan. Anak-anak muda juga terlihat mengikuti rangkaian kegiatan dan pameran perkerisan.

Baca Juga: Pagelaran Budaya SDN 43 Mataram Hidupkan Tradisi Sasak dan Sedot Antusias Warga

Ketertarikan bahkan datang dari wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung ke Lombok Timur. Beberapa di antara mereka membeli barang yang dipamerkan sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya.

Namun, tidak semua benda yang menarik perhatian bisa berpindah tangan. “Ada juga Turis dari Jerman yang ingin membeli keris yang dipamerkan. Tapi itu tidak dijual. Itu pusaka peninggalan, jadi tidak bisa kami jual,” katanya.

Ketertarikan wisatawan asing terhadap peninggalan budaya Sakra bukan hanya muncul saat pagelaran berlangsung. Sejak tahun lalu, wisatawan asing beberapa kali datang ke Museum Desa Sakra. Mereka melihat berbagai senjata dan benda peninggalan masyarakat zaman dahulu yang tersimpan di sana.

Baca Juga: Tingkatkan Tata Kelola Pemerintahan, Gubernur NTB Dorong Manajemen Risiko Jadi Budaya Kerja ASN

Dari kunjungan-kunjungan itu, tumbuh harapan agar Sakra tidak hanya dikenal sebagai tempat berlangsungnya pagelaran tahunan. Desa itu diharapkan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata budaya di Lombok Timur.

Harapan tersebut tidak berdiri sendiri. Sejumlah desa di Lombok Timur telah lebih dahulu memiliki kegiatan budaya dengan karakter masing-masing. Pringgasela memiliki Alunan Budaya Desa. Pengadangan memiliki Pesona Budaya. Sementara wilayah selatan memiliki Roah Pesisi dan berbagai tradisi lain. Sakra berada di antara bentang kebudayaan itu.

“Kalau masyarakat yang di utara lebih kepada budaya yang menyangkut gunung, kemudian di bagian pesisir menyangkut budaya sekitar laut. Maka kita di tengah-tengah ini terkait budaya ini,” katanya.

Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Tekankan Pentingnya Budaya Kerja dan Investasi Masa Depan, 46 Calon PMI NTB Tujuan Jepang Ikut Pelatihan

Karena itu, pameran keris yang digelar tidak berhenti pada urusan jual beli. Setiap keris membawa pengetahuan yang ingin diteruskan kepada pengunjung. Mereka dapat memperoleh penjelasan mengenai keris langsung dari empu atau pembuatnya.

“Kegiatan ini cukup mangkat perekonomian para pelaku keris. Karya-karya mereka bisa dihargai. Sehingga acara ini selain untuk menjaga budaya juga cukup membantu para perajin,” ujarnya. (*/r7)

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
tosan aji sakra Pagelaran Budaya budaya keris