LombokPost-Pepohonan rindang di Taman Rinjani Selong menjadi saksi perjuangan Rizky Pradana bersama rekan-rekannya membudayakan membaca di Lombok Timur (Lotim). Di bawah pepohonan itu, mereka menggelar buku-buku secara gratis.
Lapak baca buku gratis yang digagas Komunitas Bawah Pohon Pustaka menarik perhatian anak-anak di Taman Rinjani Selong. Puluhan buku sengaja digelar agar pengunjung bisa membaca. Anak-anak juga bisa menggambar di tempat yang telah disiapkan.
Pengelola Bawah Pohon Pustaka Rizky Pradana menceritakan, komunitas itu berdiri pada 2024. Namun, jauh sebelum nama Bawah Pohon Pustaka digunakan, mereka sudah lama bergerak di bidang literasi. Hanya saja, saat itu mereka belum memiliki nama komunitas.
Baca Juga: Literasi dan Numerasi Loteng Masih Rendah, Wabup Nursiah Dorong Sekolah Tingkatkan Minat Baca
“Nama Bawah Pohon Pustaka ini kami buat pertengahan 2024 dengan anggota tiga orang dan sekarang menjadi 15 orang,” terang Rizky, Senin (10/8).
Rizky mengatakan, komunitas itu awalnya dibentuk sebagai sarana penyegaran di tengah kesibukan bekerja. Sekaligus mempermudah masyarakat mengakses buku-buku koleksi miliknya.
Sebagian besar buku yang tersedia di lapak merupakan koleksi pribadi dan titipan teman-temannya. Karena itu, sebagian besar buku diperoleh secara swadaya.
“Lapak ini juga kami buat karena berangkat dari keresahan kami, karena melihat budaya literasi di Lotim ini sangat kurang,” bebernya.
Nama Bawah Pohon Pustaka pun tidak muncul begitu saja. Setiap menggelar kegiatan baca gratis, mereka selalu memilih tempat di bawah pohon yang rindang. Nama itu sekaligus membawa harapan agar minat masyarakat untuk membaca terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi sesama, layaknya pohon.
Dari bawah pohon pula mereka mengampanyekan budaya membaca di Lotim. Buku-buku berkualitas disiapkan agar bisa diakses masyarakat secara gratis.
“Kegiatan lapak baca ini rutin dilakukan pada saat acara car free day (CFD) di Taman Rinjani Selong, Taman Tugu Selong, maupun tempat-tempat keramaian lainnya, agar bisa lebih mudah diakses masyarakat,” katanya.
Saat ini, koleksi yang dimiliki mencapai sekitar 200 buku lebih. Koleksi itu terdiri atas novel, buku umum, dan buku anak-anak. Kegiatan Bawah Pohon Pustaka juga tidak berhenti pada lapak baca. Mereka rutin menggelar bedah buku, pelatihan menulis, dan berbagai kegiatan literasi lainnya.
Di tengah perjalanan itu, Rizky melihat ketertarikan masyarakat Lotim terhadap buku mulai meningkat. Setiap lapak digelar, cukup banyak masyarakat yang datang untuk membaca. Pegiat literasi di Lotim juga terus bermunculan.
“Selain di sini kami juga setiap bulan itu ada kegiatan membaca se-Lotim, yang diadakan oleh semua pegiat literasi. Dari sana saya simpulkan bahwa minat membaca kita sedang berkembang di Lotim,” katanya.
Buku-buku yang berjajar di lapak pun tidak harus selesai dibaca di bawah pohon. Pengunjung diperbolehkan meminjam dan membawanya pulang. Pilihan itu diberikan karena tidak sedikit pengunjung tertarik dengan buku yang dipajang, tetapi belum tuntas membacanya.
“Kita izinkan untuk membawa pulang bukunya, tapi kita data. Atau kita minta satu buku bacaan dari mereka untuk dilepas di lapak, sebagai jaminan dan supaya buku di lapak juga tidak berkurang,” tandasnya. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post