Desa Jeruk Manis Padukan Gawe Adat dan Peringatan HUT RI Melalui Festival Jeruk Manis

Supardi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:17 WIB
FESTIVAL JERUK MANIS: Sekda Lombok Timur saat mengikuti pembukaan acara gawe adat sekaligus peringatan HUT RI
FESTIVAL JERUK MANIS: Sekda Lombok Timur saat mengikuti pembukaan acara gawe adat sekaligus peringatan HUT RI 

LombokPost-Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur menggelar festival gawe adat Jeruk Manis yang ke-4. Kegiatan ini sekaligus sebagai pembukaan kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 81 tahun. 

"Kegiatan gawe adat ini sebenarnya selalu dilakukan setiap saat oleh masyarakat ketika ada kegiatan begawe (Pesta) di masyarakat. Tapi ini hari ini cakupannya lebih besar. Karena yang pesta negara, yakni HUT RI ini sendiri" Terang Kepala Desa Jeruk Manis Nasipudin, Selasa (11/8). 

Dalam acara ini menampilkan prosesi yang kerap dilakukan oleh masyarakat setempat ketika acara gawe atau pesta. Mulai dari penyerahan kayu jejeneng yakni, sebuah kayu yang diikat dengan posisi duduk dan berdiri dengan jumlah berbeda-beda. Kemudian akan diserahkan oleh juru masak kepada inan gawe atau yang punya acara.  

Baca Juga: Desa Sambelia Gelar Gawe Adat Selametan Otak Reban

Selain itu juga diserahkan beras oleh inan nasik atau juru masak nasi kepada inan gawe. Hal ini dalam kepercayaan masyarakat setempat, bertujuan menghindari hal-hal yang dapat merusak atau mengganggu kelancaran acara gawe. 

"Kemudian juga ada penyerahan Gegaok. Gegaok ini ialah memberikan ayam kepada orang baru yang datang ke desa kami, sebagai penanda orang itu sudah diterima sebagai keluarga. Tapi tidak semua orang bisa dikasih gegaok ini, " Jelasnya. 

Selain itu, pada acara ini juga dipamerkan hasil bumi yang terdiri dari berbagai jenis umbi-umbian yang sebelumnya menjadi makan pokok masyarakat setempat, yang saat ini sudah mulai langka. Seperti umbi uwi, Gadung, umbi sudak, Ubi jalar, talas dan berbagai umbi-umbian lainnya. 

Pameran hasil bumi ini dalam rangka memberikan edukasi terhadap masyarakat khususnya anak muda, bahwa umbi-umbian ini dulunya menajdi makanan pokok masyarakat dan umbi ini mengandung banyak vitamin dan menyehatkan. 

Baca Juga: Pemda KLU Tutup Tahun dengan Gawe Beleq Dayan Gunung, Perkuat Identitas sebagai Daerah yang Kaya Tradisi dan Kearifan Lokal

"Bahkan pada festival sebelum-sebelumnya itu, kami bawa anak-anak keliling, kita kenalkan kepada mereka umbi-umbian ini," Katanya. 

Peringatan HUT RI ini diakui sengaja dirangkaikan dengan kegiatan kebudayaan untuk memberikan kesan yang lebih sakral terhadap peringatan HUT RI. Karena perayaan dengan mengadakan kegiatan lomba-lomba dinilai menjadi hal yang sudah biasa dilakukan. 

Kegiatan ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan asing yang berkunjung ke desa wisata di empat desa, seperti Tetebatu Selatan, Tetebatu, Jeruk Manis dan kembang kuning. 

Baca Juga: Pemdes Kesik Lotim Kembali Gelar Gawe Adat Nunas Nede

"Tapi kami juga tetap melakukan berbagai kegiatan seperti gerak jalan, pawai dan sebagainya. Tapi ini sengaja kami lakukan agar peringatan HUT ini lebih sakral, karena hari kemerdekaan ini memang sangat sakral, " Katanya.

Sementara itu, Sekda Lotim M Juaini Taofik menyampaikan apresiasi atas kemandirian Desa Jeruk Manis dan masyarakatnya yang tetap dapat menyelenggarakan kegiatan tanpa dukungan dana Pemerintah Kabupaten. Terlebih di tengah efisiensi di mana dana desa juga banyak difokuskan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. 

“Tidak banyak desa yang secara mandiri mau menyelenggarakan acara ini, karena kami tahu di tahun 2026 ini dana desa di seluruh Indonesia difokuskan dulu untuk membangun Koperasi Desa Merah Putih, sehingga hanya sebagian kecil yang turun ke desa, "katanya.

Namun, ia melihat desa Jeruk Manis semangatnya tidak surut untuk membangun masyarakatnya menggelar acara-acara seperti ini.

Baca Juga: Ada Gawe Adat Menyunat di KLU

Dia jua memuji konsistensi masyarakat dan Pemdes menjaga adat budaya seperti Adat Kayu Jejeneng. Adat yang berisi banyak nilai dan kebijaksanaan, sekaligus keselarasan antara adat dan ajaran agama. 

“Kayu Jejeneng ini kita liat banyak sekali nilai yang terkandung di dalamnya, tidak ada persoalan di Lombok ini antara agama dan adat, semuanya sudah menjadi satu kesatuan. Paling tidak itu hikmah yang bisa kita ambil,” lanjutnya.

Nilai-nilai tersebut juga diyakini menjadi dasar interksi masyarakat Jeruk Manis dengan lingkungan dan alam sekitar. Letaknya di ujung selatan Rinjani menjadi penjaga hutan dan alam sehingga manfaatnya dapat dirasakan, tidak saja oleh masyarakat sekitar tetapi juga seluruh Lotim.

Baca Juga: Bermalam di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Desa dengan Seribu Pantangan

Ia menambahka pula rencana Pemerintah untuk memasang lampu jalan di delapan ribu titik, yang diprioritaskan di desa wisata. Diharapkan rencana tersebut dapat terwujud pada 2027 mendatang guna mendukung pengembangan pariwisata sekaligus peningkatan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan masyarakat. (par) 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Lombok Post
HUT RI 17 Agustus gawe adat menyunat Lotim Adat Pariwisata