Delapan Tahun Pascagempa, Sekolah SD di Lombok Timur Ini Belum Diperbaiki

Supardi • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:42 WIB
GEDUNG RUSAK: Siwa-siswi SDN 2 Seruni Mumbul saat belajar di ruangan yang rusak akibat dihantam gempa Bumi 2018 lalu. 
GEDUNG RUSAK: Siwa-siswi SDN 2 Seruni Mumbul saat belajar di ruangan yang rusak akibat dihantam gempa Bumi 2018 lalu. 

LombokPost-Tujuh tahun lebih pascagempa Lombok 2018, kerusakan bangunan SDN 2 Seruni Mumbul belum juga diperbaiki. Tiga dari enam ruang kelas kini rusak parah, bahkan siswa terpaksa belajar di teras saat hujan.

“Yang roboh ini gudang sekaligus ruangan guru. Kalau kelasnya tidak ada yang roboh, hanya saja kondisinya sudah sangat parah, plafon dan atapnya sudah berjatuhan,” terang Kepala SDN 2 Seruni Mumbul Haerudin saat dikonfirmasi Lombok Post.

Haerudin menyebutkan, dari enam kelas yang ada saat ini, tiga kelas kondisinya sangat parah dan mengkhawatirkan. Atap dan plafon sudah jatuh sehingga mengakibatkan kelas bocor saat hujan.

Baca Juga: Warga Bisa Gugat Pemerintah Soal Sekolah Rusak

Kondisi itu bahkan membuat pihak sekolah terpaksa memindahkan anak-anak belajar ke teras sekolah ketika hujan. Sebab, sudah tidak ada lagi kelas yang bisa dimanfaatkan.

“Sebenarnya semua bangunan sekolah sudah rusak. Hanya saja kami masih manfaatkan karena tidak ada lagi tempat anak-anak belajar,” jelasnya.

Kata dia, sejak 2015 bangunan sekolah sudah mulai rusak. Namun, kerusakan diperparah setelah diguncang gempa bumi. Terlebih, saat itu gempa susulan terus terjadi hingga membuat ruang guru roboh.

Baca Juga: Rumah, Sekolah, dan Gereja Rusak, Picu Tsunami Kecil Pasca Gempa Filipina M7,8

Tahun sebelumnya, jumlah rombongan belajar (rombel) di SDN 2 Seruni Mumbul sebanyak tujuh. Untuk menutupi kekurangan ruang belajar, pihak sekolah membuat satu kelas darurat di bekas perumahan guru.

“Tahun lalu kelas enam itu ada dua rombel. Jadi kami buat satu kelas darurat di bekas perumahan. Dan itu kami sekat lagi untuk jadi kantor,” jelasnya.

Sejak kejadian gempa itu, pihaknya telah melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim. Bahkan, tim Dikbud sudah turun langsung meninjau kondisi sekolah. Namun, hingga hari ini perbaikan belum juga terealisasi.

Baca Juga: Bupati Lotim Laporkan Kondisi Sekolah Rusak ke Menteri Pendidikan

Haerudin mengakui pihaknya juga sudah mengajukan revitalisasi. Namun, pengajuan itu belum juga mendapat respons. Padahal, kata dia, data pokok pendidikan (Dapodik) sudah beberapa kali diperbarui.

“Awal diajukan itu memang dapodiknya belum diupdate. Jadi di sana (dapodik) terbaca kondisi sekolah bagus semua. Tapi sudah diperbaiki oleh operator kami, dan terbaca tingkat kerusakan hingga 70 persen lebih,” jelasnya.

Dia berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan. Dikhawatirkan, musim hujan akan memperparah kerusakan bangunan sekolah dan membahayakan anak-anak.

Baca Juga: Pemkab Lotim Kolaborasi dengan NGO Bangun Sekolah Rusak

Sementara itu, salah seorang guru SDN 2 Seruni Mumbul, Supratman Hadi, menambahkan, selain masalah gedung sekolah yang rusak berat, akses menuju sekolah juga kerap menjadi kendala. Terutama saat hujan deras.

Jalan menjadi becek dan tergenang sehingga siswa harus mencari jalur lain untuk menuju sekolah. Lokasi sekolah dari jalan raya berjarak sekitar 3 kilometer.

“Kalau sedang hujan, jalannya menjadi becek dan dipenuhi lumpur. Sehingga anak-anak harus mencari jalan lain yang jaraknya lebih jauh. Kondisi ini membuat anak-anak kadang jarang masuk sekolah saat musim hujan,” katanya. (par/r7)

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Sambelia Sekolah Gempa sekolah rusak Lotim