LombokPost-Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selaparang mendorong para calon pendaki Gunung Rinjani melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap. Langkah itu untuk memastikan para pendaki benar-benar sehat sebelum melakukan pendakian.
“Memang agak mahal biayanya, dibandingkan yang biasa dipakai sekarang ini. Karena itu ada cek laboratoriumnya, cek jantung dan lainnya,” terang Direktur RSUD Selaparang Muhammad Azwardi, Kamis (13/8).
Dia menjelaskan, untuk mengurangi cedera di perjalanan, para calon pendaki seharusnya melakukan pemeriksaan atau membuat surat kesehatan yang lebih lengkap. Mulai dari pemeriksaan jantung, riwayat penyakit, dan sebagainya. Sementara pemeriksaan kesehatan yang dilakukan saat ini hanya sebatas pengecekan tensi, nadi, dan pemeriksaan biasa.
Baca Juga: Kuota Pendakian Rinjani 15–17 Agustus Penuh
Pemeriksaan lengkap ini diakui memiliki banyak manfaat, terutama bagi pendaki sendiri. Misalnya, bagi pendaki yang memiliki riwayat penyakit jantung dapat diprediksi apakah bisa mencapai puncak atau hanya setengah jalan. Termasuk melihat kekebalan tubuh untuk melawan rasa dingin.
“Biayanya sekitar Rp 180 ribu. Tapi dengan pemeriksaan ini kita sudah bisa baca kekuatan kita,” jelasnya.
Untuk pemeriksaan lengkap ini, dia mendorong kesadaran masing-masing pendaki. Hal itu untuk mengantisipasi cedera atau gangguan kesehatan yang bisa berakibat fatal saat melakukan aktivitas pendakian.
Di satu sisi, jika pemeriksaan lengkap diwajibkan kepada para pendaki, dikhawatirkan akan berdampak terhadap menurunnya animo masyarakat untuk melakukan pendakian karena mahalnya biaya pemeriksaan kesehatan. Bahkan, dikhawatirkan akan mengakibatkan banyak pendaki ilegal.
“Kalau ini diterapkan susah juga, konsekuensinya nanti mereka naik dari jalur tikus karena mahal. Makanya kita mendorong lebih ke personal saja. Apalagi yang punya riwayat penyakit. Jadi bisa kita sarankan nanti,” ungkapnya.
Lebih jauh, Azwardi menyebutkan, peralatan di RSUD Selaparang dinilai sudah memadai dan lengkap untuk mendukung pemeriksaan. Hanya saja, rumah sakit masih kekurangan dokter spesialis. Saat ini tersedia tujuh dokter umum, sedangkan dokter spesialis baru satu orang.
Baca Juga: Sampah Menumpuk, Pendakian Pergasingan Ditutup Sementara
“Dokter umum kita ada tujuh orang, spesialis baru satu yang radiologi saja. Kita mau rekrut lagi ini, cuman dokter yang daftar belum ada. Karena dokter spesialis ini tidak seperti kita mencari dokter umum. Jumlahnya sedikit,” tutupnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post