LombokPost--Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Mataram mendorong inovasi edukasi kesehatan di tingkat desa melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) 2026 di Desa Pringgasela Timur, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.
Tim dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) menghadirkan Virtual Reality (VR) Game “Pacuan Dende” untuk mengedukasi masyarakat mengenai penyakit infeksi tropis.
“Inovasi VR ‘Pacuan Dende’ hadir untuk memutus rantai masalah ini melalui pendekatan visual dan simulasi interaktif,” kata Ketua Tim Pengabdi Yunan Jiwintarum, S.Si, M.Kes.
Kegiatan pengabdian berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (15-16/8), dengan melibatkan 100 peserta yang terdiri atas kader kesehatan atau Posyandu, anggota Karang Taruna, ibu hamil, dan anak-anak.
Yunan mengatakan, program tersebut dilatarbelakangi minimnya edukasi mengenai penyakit infeksi utama.
Sebanyak 85 persen kader dan remaja setempat sebelumnya belum mendapatkan edukasi, pendampingan, serta manajemen perawatan di rumah terkait malaria, diare, ISPA, kecacingan, dan TBC.
“Penyakit infeksi tropis seperti malaria dan kecacingan menguras nutrisi dan hemoglobin tubuh,” ujarnya.
Kondisi infeksi kronis dan berulang juga menjadi salah satu faktor pemicu anemia defisiensi besi serta penurunan sistem kekebalan tubuh.
Baca Juga: Diduga Cemari Laut, Penanggung Jawab Kapal Pengangkut Batu Bara yang Tenggelam di KSB Dipolisikan
Program PPDM dirancang melalui empat rangkaian utama. Yakni edukasi dan transfer inovasi VR, pemberdayaan pangan lokal dan tanaman obat keluarga (TOGA), skrining kesehatan, serta pembentukan Kebun “CEMARA” Desaku sebagai area percontohan kebun gizi dan tanaman herbal.
“Prevalensi anemia pada remaja putri di NTB tercatat mencapai 31,1 persen,” terang Yunan.
Karena itu, skrining dilakukan terhadap remaja putri dan ibu hamil melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), serta skrining infeksi kecacingan pada anak-anak dan ibu hamil.
Skrining dilaksanakan Sabtu (15/8). Dari target 100 peserta, seluruhnya berhasil dilayani tim gabungan dosen, mahasiswa, dan tenaga medis Puskesmas.
Hasilnya menjadi data dasar bagi Puskesmas dan pemerintah desa untuk merumuskan intervensi pemulihan gizi serta pemberian tablet tambah darah.
Data skrining ini dapat menjadi dasar untuk menentukan intervensi secara tepat sasaran.
Baca Juga: Nanik Dorong Optimalisasi Pariwisata NTB, Minta Kemasan Produk UMKM Dipercantik
Sementara melalui VR “Pacuan Dende”, kader dan Karang Taruna mempelajari siklus hidup parasit, mekanisme penularan penyakit tropis, serta langkah pencegahan dan pengobatan melalui simulasi tiga dimensi.
Program tersebut juga dilengkapi pembentukan Kebun “CEMARA” Desaku.
Kebun ini diarahkan menjadi investasi berkelanjutan untuk menyediakan buah, sayur, dan tanaman herbal bagi kebutuhan pangan sehat keluarga.
“Kehadiran teknologi VR sangat disukai pemuda Karang Taruna kami,” kata Kepala Desa Pringgasela Timur H Hadeli. Pihak desa menyatakan siap merawat Kebun CEMARA bersama warga untuk mendukung kesehatan generasi mendatang.
Dalam kegiatan itu, Poltekkes Kemenkes Mataram juga menyerahkan investasi alat kesehatan dan bibit tanaman. Penyerahan simbolis dilakukan Sabtu (15/8) di Halaman Kantor Desa Aik Dewa, lokasi kemitraan wilayah Pringgasela.
“Kami tidak ingin program ini berhenti setelah seremonial selesai,” tegas Rohmi, S.Si, M.Sc., anggota Tim Pengabdi.
Seluruh sarana yang diberikan diharapkan terus dimanfaatkan kader dan Karang Taruna untuk mendukung keberlanjutan layanan kesehatan desa.
Investasi tersebut meliputi empat unit VR headset, dua Easy Touch GCHb, tiga tensi digital, dua timbangan digital, satu microtoise, serta berbagai perlengkapan pemeriksaan seperti blood lancet, autoclick, swab, plaster, strip Hb, handscoon, dan masker.
“Semua alat laboratorium kit, VR headset, hingga bibit Kebun CEMARA harus terus bergerak di tangan kader dan Karang Taruna,” ujar Rohmi.
Selain peralatan kesehatan, diserahkan pula 30 paket bibit buah dan sayur, bahan minuman herbal, multivitamin dan mineral, serta 25 botol Sakatonik ABC.
Tim TLM juga memperkenalkan inovasi pangan lokal berupa “Wedang Sampun Sehat” dan “Rajalom Plus Madu”.
Kader dan Karang Taruna dilatih mengolah minuman herbal tersebut agar dapat diproduksi secara mandiri di Posyandu maupun dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif desa.
Baca Juga: Dikpora dan Dinas PUPRPKP NTB Masih Jadi Perhatian, Inspektorat Terus Kejar Tindak Lanjut BPK
“Bentuk investasi yang diberikan sangat penting untuk pemberdayaan dan keberlanjutan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pringgasela Timur,” kata Rohmi.
Program PPDM 2026 diharapkan menjadi model percontohan bagi desa lainnya di NTB dalam mewujudkan desa sehat dan mencegah anemia serta infeksi kronis.
Editor : Kimda FaridaSumber : siaran pers