Para Perempuan Desa Jeruk Manis Menitip Masa Depan pada Sapi-Sapi di Kandang

Supardi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:40 WIB
NYABIT RUMPUT:
NYABIT RUMPUT:Nahyuaini dan Warnijwita saat menyabit rumput untuk sapi ternak mereka di salah satu sawah di daerah Jeruk Manis.

LombokPost-Sebagian besar masyarakat Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, menjadi peternak. Tidak sedikit di antaranya merupakan ibu-ibu atau perempuan. Setiap hari, mereka menyusuri hutan untuk mencari rumput, baik sendiri maupun berkelompok.

Dua perempuan terlihat fokus menyabit rumput di pematang sawah berundak di Desa Wisata Jeruk Manis. Usia keduanya terlihat terpaut belasan tahun. Satu perempuan terlihat masih muda. Satunya lagi sudah berumur sekitar 40 tahun.

Sesekali mereka terlihat berhenti untuk sekadar beristirahat, bercerita, dan meneguk sedikit air. Setelah itu, keduanya kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka adalah Nahyuaini dan Warnijwita, warga Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur. Keduanya merupakan dua di antara puluhan peternak perempuan lainnya di Desa Jeruk Manis.

 Baca Juga: Desa Jeruk Manis Padukan Gawe Adat dan Peringatan HUT RI Melalui Festival Jeruk Manis

Nahyu bercerita, beternak menjadi salah satu pekerjaan yang sudah lama digelutinya. Bahkan sejak masih muda, ia sudah membantu orang tuanya menyabit rumput. Hingga saat ini setelah menikah, pekerjaan itu tetap ia teruskan bersama sang suami.

“Sejak masih muda, sudah bantu orang tua menyabit rumput. Sampai sekarang juga masih bersama suami,” terang Nahyu, Selasa (25/8).

Nahyu menyebutkan, saat ini ia merawat empat ekor sapi. Namun, dari empat ekor itu, hanya satu miliknya. Sisanya milik orang yang dipelihara dengan sistem bagi hasil. Hampir sebagian besar peternak menerapkan sistem beternak seperti ini, terutama mereka yang kurang modal untuk membeli sapi sendiri.

Baca Juga: Sensasi Rope Swing dan Canyoneering Tertinggi di Lombok Hadir di Jeruk Manis, Peminat Didominasi Perempuan untuk Uji Adrenalin sekaligus Mengobat

Kata dia, hampir sebagian besar perempuan Desa Jeruk Manis bekerja sebagai peternak sapi. Bahkan, pekerjaan ini sudah turun-temurun dari orang tua.

“Rata-rata perempuan di sini jadi pengarat (peternak, red). Di sini tidak ada yang malu untuk jadi pengarat, apalagi gengsi, walaupun perempuan masih muda,” ujarnya.

Kata dia, pekerjaan sebagai pengarat mereka ibaratkan sebagai tempat menabung jika sewaktu-waktu membutuhkan biaya. Baik untuk kebutuhan pendidikan anak, kesehatan, membeli kendaraan, maupun kebutuhan mendesak lainnya.

Baca Juga: Berkunjung ke Desa Penerima Manfaat yang “Dipeluk” Sinyal Komdigi (2): Wisata Tumbuh, Budaya Lokal Menyapa Dunia dari Desa Jeruk Manis

Tidak sedikit warga yang sukses dari pekerjaan ini. Banyak masyarakat memiliki kebun dan ladang luas berangkat dari beternak sapi. Hal itu membuat para perempuan di Desa Jeruk Manis enggan meninggalkan pekerjaan ini.

“Kalau kita gengsi di sini rugi kita,” ujarnya.

Namun, kata dia, hasil beternak tidak bisa dinikmati secepatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, mereka mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh tani. Mulai dari buruh menanam padi, memetik sayur dan cabai, hingga memanen padi.

Selain itu, saat musim hujan mereka biasanya menjadi pencari sayur pakis. Setiap pagi hingga siang hari, mereka berkelompok masuk ke hutan di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) untuk mencari pakis yang kemudian dijual.

Baca Juga: Melihat Program Mahasiswa KKN PMD Unram di Desa Wisata Jeruk Manis

Selain mencari pakis, mereka juga masuk ke hutan untuk memelihara rumput. Tempat khusus itu cukup membantu para peternak mencari pakan ternak. Terlebih saat musim panas seperti sekarang. Rumput biasanya sangat sulit didapatkan di pematang sawah. Karena itu, rumput di hutan menjadi harapan para peternak.

“Kalau sudah waktu rumputnya dipanen, kami biasanya berangkat bareng-bareng ke hutan. Di sana kami bawa nasi, ada bawa kopi, untuk kita makan bareng bersama ibu-ibu yang lain,” bebernya.

Sementara itu, Warnijwita menambahkan, sejak berpisah dengan suaminya ia memilih menjadi peternak. Meskipun masih berusia 23 tahun, pekerjaan ini membantu kebutuhan keluarga. Terlebih saat ini ia sudah memiliki empat ekor sapi.

Baca Juga: Cerita Dua Pemuda Jeruk Manis Membangun Peternakan Puyuh, Kuail Farm, dari Nol

“Yang empat ini punya orang tua juga. Kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya ikut jadi buruh tani, sama seperti ibu-ibu yang lain, kadang cari Pakis, terus jadi buruh tani,” terang janda anak satu ini.

Menjadi peternak bukan hanya sekadar memelihara sapi. Bagi Warnijwita, melalui peternakan ini ia sedang menanam dan menyiapkan masa depan ekonomi yang lebih baik.

“Pekerjaan ini sudah turun temurun. Bukan karena kami sebagai kepala keluarga saja. Tapi karena memang sudah menjadi mata pencaharian juga,” jelasnya. (*/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Jeruk manis sapi ternak Lotim Perempuan peternak