LombokPost-Di tangan ibu-ibu Desa Paremas, Kecamatan Jerowaru, cangkang kepiting yang sebelumnya dianggap sebagai sampah tak bernilai kini berubah menjadi kerupuk yang enak. Produk itu cukup laris di pasaran, bahkan rutin dikirim ke luar daerah.
Sekelompok ibu-ibu terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang bertugas membuat adonan, menggoreng, hingga membungkus produk yang sudah siap. Tanpa banyak arahan, mereka bekerja dan menyelesaikan tugas masing-masing.
Mereka adalah ibu-ibu Dusun Kranji, Desa Paremas, Kecamatan Jerowaru, yang tergabung dalam kelompok UMKM ingin maju. Hari itu, mereka tengah memproduksi kerupuk yang terbuat dari cangkang kepiting.
Baca Juga: Atap Bocor Ganggu Belajar Siswa SMP Satap 4 Jerowaru Lombok Timur
Ketua kelompok Eli Marsiana menceritakan, pembuatan kerupuk cangkang kepiting itu bermula pada 2017. Mereka mendapatkan pembinaan dari salah seorang dosen Universitas Mataram (Unram) setelah berkunjung ke Desa Paremas.
“Dulu ada dosen Unram berkunjung ke rumah Pak Kades, dan kita jamu pakai kepiting. Kemudian kami diberitahu kalo cangkang kepiting itu bisa diolah menjadi makanan enak. Makanya kami langsung minta untuk diajarkan,” beber Eli kepada Lombok Post, Senin (1/9).
Saat itu, belum ada kelompok yang dibentuk. Produksi hanya dilakukan bersama beberapa orang dari keluarganya. Jumlah produksinya pun masih sangat sedikit, hanya 2 sampai 3 kilogram dan dilakukan saat ada pesanan.
Pemasaran saat itu juga masih dilakukan di Desa Paremas dan desa-desa sekitar. Hasil penjualan masih sedikit, berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu dalam sekali produksi.
“Paling jauh dulu kita pasarkan ke Selong. Setelah agak lancar, kita akhirnya membuat kelompok dengan jumlah 13 orang dari kalangan Ibu-ibu rumah tangga,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, pada 2020 setelah mengikuti berbagai pelatihan, produk itu mulai banyak dilirik. Mereka memanfaatkan jaringan UMKM untuk pemasaran sehingga kerupuk cangkang kepiting mulai rutin diproduksi. Bahkan, dalam satu minggu mereka bisa berproduksi tiga kali.
Saat ini, kerupuk cangkang kepiting tidak hanya dipasarkan di Lotim. Pemasarannya sudah sampai ke luar daerah, seperti Jawa, Bali, dan daerah lainnya. “Yang rutin itu ke Jawa dan Bali, untuk di luar daerah. Kalau di Lombok ke Mataram, Selong. Karena sekarang kita sudah ada reseller juga,” jelasnya.
Kata dia, selain produk yang sudah jadi, banyak juga yang membeli produk mentah dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan yang sudah siap saji dijual dengan harga Rp 10 ribu per bungkus.
Selain kerupuk cangkang kepiting, saat ini mereka juga mengembangkan produk chips rumput laut. Produk ini juga tidak kalah laris di pasaran. Semua produk yang dihasilkan sudah memiliki legalitas dan dilengkapi label halal.
RumBaca Juga: Unram Jadi Pusat Kolaborasi Global Rumput Laut dan Ekonomi Biru
“Kalau legalitas semuanya sudah lengkap, tinggal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang belum kami punya dan yang menjadi kendala adalah kita belum punya gudang produksi khusus, kita masih produksi di rumah,” katanya.
Bahan baku didapatkan langsung dari masyarakat sekitar. Sebagian besar masyarakat Paremas melakukan budi daya rumput laut dan kepiting. Sebelum ada pengolahan kerupuk, cangkang kepiting hanya menjadi sampah yang dibuang ke laut.
Keberadaan usaha ini diakui sangat membantu perekonomian anggota, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di dapur. Sebab, anggota kelompok merupakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Paremas.
“Alhamdulillah cukup membantu Ibu-ibu untuk memenuhi kebutuhan,” tutupnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post