Hari Jadi ke-131 Tahun, Haerul Warisin: Lombok Timur Harus Lebih Maju dan Sejahtera

Supardi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 07:35 WIB
HARI JADI: Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi saat memberikan tausiyah kepada masyarakat yang hadir pada puncak peringatan hari jadi Lotim yang ke-131 Tahun di Taman Tugu Selong
HARI JADI: Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi saat memberikan tausiyah kepada masyarakat yang hadir pada puncak peringatan hari jadi Lotim yang ke-131 Tahun di Taman Tugu Selong

LombokPost-Peringatan Hari Jadi ke-131 Lombok Timur (Lotim) dijadikan momentum evaluasi pembangunan daerah. Bupati Lotim Haerul Warisin menegaskan, pembangunan ke depan harus semakin menyentuh kesejahteraan masyarakat, tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik.

“Hari jadi ini sebagai momentum introspeksi, sejauh mana kita sudah berjalan, apa yang sudah kita capai, dan apa yang masih harus kita perjuangkan,” terang Bupati Lotim Haerul Warisin pada puncak peringatan Hari Jadi Lotim ke-131, Senin (31/8).

Pemkab Lotim berkomitmen untuk menjadikan masyarakat Lotim semakin sejahtera, maju, adil, religius, dan transparan. Pembangunan bukan hanya terlihat dari jalan dan gedung, tetapi harus sampai ke rumah-rumah masyarakat.

Baca Juga: Rayakat HUT, Pemkab Lotim Siapkan 10 Ribu Kupon Makan-Minum Gratis

Selain itu, dia juga berkomitmen dan menaruh harapan besar agar anak-anak di Lotim memiliki masa depan yang lebih cerah dan lebih baik. Masyarakat semakin sehat, semakin berpendidikan, semakin produktif, dan semakin sejahtera.

“Kita ingin Lotim tetap menjadi daerah yang masyarakatnya rukun, saling menghormati, dan menjaga persaudaraan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dia menceritakan perjalanan panjang Lotim yang dimulai pada 1895. Di mana saat itu masih dalam masa penjajahan pemerintah Hindia Belanda. Pulau Lombok dibagi menjadi dua afdeeling, yakni Lombok Barat (Lobar) dengan ibu kota di Mataram dan Lombok Timur dengan ibu kota Sisik di Labuhan Haji.

Baca Juga: Jaga Rumah Adat, Pemkab Lotim Perkuat Mitigasi Kebakaran

Namun, setelah terjadi Perang Gandor pada 1897, kemudian pada 1898 Kabupaten Lotim kembali dibagi menjadi dua, yakni Lombok Tengah (Loteng) dan Lotim. Sehingga saat itu Pulau Lombok dibagi menjadi tiga afdeling, yakni Lobar, Loteng, dan Lotim.

“Pada kesempatan hari lahir ini, tentu ada rasa syukur, rasa bahagia dan haru. Karena sesungguhnya yang kita rayakan bukan hanya sekadar usia daerah, lebih daripada itu, bahwa Lotim memiliki perjalanan yang sangat panjang yang harus kita ketahui sejarahnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, dia mengapresiasi para pemimpin Lotim terdahulu yang telah melakukan berbagai pembangunan sehingga Lotim bisa seperti saat ini. Tugas pemimpin sekarang dan selanjutnya adalah menjaga dan terus membangun apa yang menjadi peninggalan pemimpin terdahulu agar semakin bagus dan semakin maju.

Baca Juga: Bupati Lotim Tegaskan Jangan Persulit Pelayanan karena BPJS Kesehatan

“Kita satukan kembali hati kita dalam satu kalimat Lotim adalah rumah kita bersama,” jelasnya.

Pelaksanaan kegiatan ini disebut juga menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu menghadirkan kegiatan besar meskipun tidak masuk dalam APBD dan tidak memiliki anggaran khusus.

“Setiap keringat yang jatuh untuk menyelesaikan acara ini merupakan bagian dari sejarah Lotim,” ungkapnya.

Baca Juga: Lotim Unggul dari 30 Daerah, Raih Program LSDP

Sementara itu, TGB Muhammad Zainul Majdi dalam tausiyahnya mengajak seluruh masyarakat Lotim mengikuti empat sifat yang telah diwariskan oleh para ulama dan pendahulu di Lotim, yakni cinta ilmu, berani merantau, mencari kebaikan, serta berani menegakkan kebenaran.

“Anak-anak Lotim harus pergi ke tempat-tempat yang jauh, Belajar Nak, nanti pulang dan bangun Lotim. Tidak ada ceritanya masyarakat bisa maju dengan sebenar-benar kemajuan tanpa ilmu,” jelasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
HUT Lotim sejarah hari jadi evaluasi pembangunan daerah