Hutan Sambelia Makin Gundul, Mata Air Mengering

Supardi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 07:38 WIB
HUTAN SAMBELIA: Seorang pengendara sedang melintas di jalan raya Labuhan Lombok-Sambelia di depan hutan Sambelia
HUTAN SAMBELIA: Seorang pengendara sedang melintas di jalan raya Labuhan Lombok-Sambelia di depan hutan Sambelia

 

LombokPost-Masyarakat Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur meminta pemerintah serius menangani persoalan hutan Sambelia yang setiap tahun kondisinya semakin parah. Terlebih ketika musim kemarau seperti saat ini.

“Embulan mata air di hutan yang dulunya banyak sekali, sekarang sudah tidak ada lagi kita temukan. Karena pohon-pohon besar sudah tidak ada,” terang tokoh masyarakat Desa Sugian sekaligus Pembina Gema Alam Suhirman, Rabu (2/9).

Kata dia, selama ini pemerintah telah melakukan upaya rehabilitasi hutan Sambelia. Namun, pola rehabilitasi yang dilakukan dinilai belum tepat, hanya sekadar menyerahkan bantuan bibit kepada masyarakat.

Baca Juga: Festival Gila Merdeka Dorong Wisata Bahari Sambelia

Tidak ada pengawasan, pendampingan, dan perawatan yang dilakukan untuk memastikan bibit yang diberikan betul-betul ditanam di hutan dan hidup. Sehingga, bibit yang diberikan banyak yang tidak tumbuh.

“Karena di hutan tidak ada perawatan dan banyak yang mati, maka sebagian bibit itu ditanam di pekarangan rumah oleh masyarakat,” jelasnya.

Kerusakan hutan ini dikarenakan alih fungsi lahan menjadi lahan jagung masih masif terjadi. Tanaman jagung di Sambelia menjadi kegiatan utama masyarakat sehingga hal ini kontraproduktif dengan pengelolaan hutan.

Baca Juga: Polres Lotim Bekuk Tiga Terduga Pengedar Uang Palsu di Sambelia

Kondisi ini menjadi dilema, karena tanaman jagung dinilai mampu menjaga ketahanan pangan. Di satu sisi, pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan terus disuarakan. Di sisi lain, perusakan hutan terus terjadi untuk menghasilkan pangan.

“Kecamatan Sambelia ini sebagai kecamatan kedua penghasil jagung terbesar di Lotim, setelah Jerowaru. Ini juga menjadi dilema bagi kita. Di satu sisi menjaga lingkungan terus kita suarakan, terus kita kemanakan petani jagung ini,” katanya.

Dia melihat, kerusakan hutan ini salah satunya juga dipicu karena hilangnya kewenangan kabupaten untuk mengelola dan mengawasi hutan seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, Pemkab Lotim membuat lang-lang gawah (penjaga hutan) untuk mengawasi hutan.

Baca Juga: Melihat Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia, Ada Ritual Pelarungan Kepala Sapi di Tengah Laut sebagai Bentuk Rasa Syukur Tangkapan Ikan yang Mel

Saat ini, penjaga hutan yang dibentuk Pemkab Lotim sudah tidak ada, hanya mengandalkan polisi hutan (Polhut). Sementara jumlah Polhut yang ada masih terbatas. Sehingga, ia berharap regulasi sebelumnya bisa dikembalikan.

Sebelumnya, anggota Gema Alam Diar Ruly Juniari menyampaikan, kondisi hutan Sambelia, terutama Hutan Kemasyarakatan (HKM), saat ini sudah banyak beralih fungsi menjadi lahan jagung.

Dari luas HKM sekitar 420 hektare, 200 hektare lebih sudah rusak akibat alih fungsi. Sehingga, hal ini mengakibatkan masyarakat Desa Sugian dan Sambelia mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

“Dari temuan kami bersama kelompok perempuan pemantau hutan Desa Sambelia dan Desa Sugian. Kondisi hutan kita sudah tidak ada lagi pohon tegakan, sudah tidak ada pohon-pohon besar,” terangnya.

Baca Juga: Hutan Sambelia Beralih Fungsi, Mata Air Mengering

Kata dia, sekitar tahun 2008 hingga tahun 2010 lalu, kondisi hutan Sambelia dan Sugian masih sangat rimbun. Masih banyak pohon besar yang tumbuh yang didominasi kayu sonokeling, sengon, jati, dan jenis lainnya.

Namun, saat ini ratusan hektare hutan Sambelia sudah berubah total menjadi kawasan yang gundul, hanya menyisakan beberapa biji pohon. Seperti pohon jambu mente yang dimanfaatkan masyarakat untuk diolah menjadi makanan.

“Nah akibat gundulnya hutan ini sekarang masyarakat Sugian betul-betul merasakan dampaknya terutama terhadap sumber mata air yang banyak mengering,” katanya.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Sambelia Lahan Jagung mata air hutan Alih Fungsi