Melihat Cara KPPI Berdayakan Perempuan Pesisir

Supardi • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 08:24 WIB
RUMPUT LAUT: Salah seorang anggota KPPI Lotim sedang menjemur rumput laut jenis Ulva untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

 
RUMPUT LAUT: Salah seorang anggota KPPI Lotim sedang menjemur rumput laut jenis Ulva untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.  

LombokPost-Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Lombok Timur (Lotim) bukan hanya sekadar wadah perkumpulan untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan pesisir. Komunitas ini juga menjadi wadah pemberdayaan bagi ibu-ibu pesisir.

Puluhan bungkus produk UMKM yang siap dipasarkan berjejer di atas meja sederhana. Produk olahan rumput laut dengan merek Ulva chips itu akan dikirim ke beberapa pelanggan yang sudah memesan sebelumnya.

Produk chips rumput laut itu dibuat oleh kelompok ibu yang tergabung dalam UMKM Dende Inges Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru. Kelompok ini juga tergabung dalam komunitas Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Lombok Timur (Lotim).

Baca Juga: NBDI Latih Perempuan Pesisir di Lombok Barat Mengolah Ikan

Ketua UMKM Dende Inges sekaligus Ketua KPPI Lotim Sri Wahyuni menyampaikan, produk Ulva chips ini dibuat dari rumput laut liar. Bahkan, rumput laut ini sebelumnya hanya menjadi sampah laut. Untuk mendapatkannya, mereka biasanya menunggu air laut sedang surut.

“Rumput laut ini jenis rumput laut ulva, ini merupakan rumput laut liar, biasanya tumbuh di tebing dan bebatuan pantai. Makanya untuk mendapatkannya kita keliling cari di beberapa pantai yang ada di Jerowaru saat air laut sedang surut,” terang Sri Wahyuni, Selasa (8/9).

Wahyuni menyebutkan, pembuatan chips rumput laut ini pertama kali dilakukan setelah mendapatkan pendampingan dari Universitas Mataram dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pendampingan dilakukan setelah melihat banyaknya rumput laut ini yang terbuang sia-sia.

Baca Juga: Pemkab Lotim Diminta Beri Perhatian Serius untuk Masalah Perempuan Pesisir

Biasanya masyarakat sekitar pesisir Jerowaru hanya mengambil dan mengolah rumput laut hijau atau merah yang dibudidayakan, baik dengan dijual langsung maupun dibuat menjadi dodol dan manisan.

“Sehingga rumput laut jenis ulva ini hanya jadi sampah laut. Untuk pembuatan chips rumput laut ini membutuhkan proses cukup lama, mulai dari panen, kemudian dicuci hingga bersih dari kotoran dan pasir. Direndamkan, cuci lagi dan dijemur, baru digoreng,” jelasnya.

Usaha ini dikembangkan pada 2024 lalu. Saat ini, usaha itu sudah mulai berkembang. Bahkan, beberapa produk sudah berhasil dibuat, seperti garam kesehatan Pemongkong, chips rumput laut, kerupuk cangkang kepiting, kerupuk cangkang kerang, dan berbagai produk lainnya.

Baca Juga: APIKM Lotim dan CEF Latih Perempuan Pesisir Merancang Usaha

Namun, usaha ini dibagi menjadi dua kelompok UMKM. Satu kelompok berada di Desa Pemongkong dan satu lagi UMKM Desa Paremas di Kecamatan Jerowaru, dengan jumlah anggota sebanyak 17 orang. Setiap kelompok UMKM memiliki fokus masing-masing.

“Dua kelompok UMKM ini di bawah naungan KPPI. Karena lokasi anggota tersebar di beberapa Desa di Jerowaru, makanya kita buat dua kelompok,” katanya.

Dalam sekali produksi, kelompok menghasilkan sebanyak 80 bungkus. Satu bungkus chips ulva dijual dengan harga Rp 10 ribu. Chips rumput laut ini cukup diminati masyarakat. Hal ini terlihat dari rutinnya proses produksi dan stok yang selalu habis.

Baca Juga: Perempuan Pesisir KLU Dibantu Budidaya Vaname

Pemasaran sejauh ini dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, mulai dari Facebook, WhatsApp, TikTok, dan Instagram. Produk juga dipasarkan melalui bazar UMKM, bahkan kerap dikirim ke Bali, Jawa, dan Jakarta. Sebelumnya, produk ini juga sempat masuk menjadi menu kering Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saat menggunakan menu kering, produk ini juga masuk ke dapur MBG. Sekarang kan sudah tidak Pakai makanan kering,” ungkapnya.

Diakui, yang masih menjadi kendala saat ini adalah daya tahan atau keawetan produk dalam kemasan plastik yang belum bisa bertahan lama. Biasanya rasa mulai berubah jika disimpan lebih dari dua bulan. Meskipun sejauh ini produk yang dihasilkan selalu habis dan jarang tersimpan lama.

Baca Juga: Budidaya Udang Vaname Sejahterakan Perempuan Pesisir di Lombok Utara

Keberadaan produk ini dinilai cukup membantu perekonomian kelompok yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Produk itu juga dinilai cukup membantu ibu-ibu yang tergabung dalam KPPI untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. (*/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
kppi Perempuan Pesisir rumput laut Pemberdayaan Lotim