LombokPost-Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur (Lotim) mendorong pemerintah pusat untuk mengembangkan potensi rumput laut jenis Sargassum yang banyak ditemukan di Teluk Ekas, Kecamatan Jerowaru. Rumput laut ini dinilai memiliki kandungan hormon sitokinin yang dapat digunakan di pertanian sebagai pupuk cair maupun padat.
"Manfaat rumput laut banyak sekali, yang dibudidayakan maupun yang tumbuh alami," terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim M Tasywirudin.
Tasywir menyebutkan, sebelumnya Desa Seriwe dan Desa Ekas Buana menjadi sentra budi daya rumput laut. Namun, saat ini masyarakat Ekas lebih banyak memilih budi daya lobster karena dinilai lebih menguntungkan. Hanya beberapa kelompok yang masih eksis dalam budi daya rumput laut.
Padahal, kata dia, Teluk Ekas memiliki potensi sangat besar untuk pengembangan rumput laut, terutama jenis Sargassum yang memiliki banyak kandungan dan bisa dibuat menjadi berbagai produk. Sejauh ini, rumput laut Sargassum belum ada yang dibudidayakan masyarakat.
"Rumput laut Sargassum ini merupakan rumput laut yang punya waktu-waktu tertentu dipanen, karena dia tumbuh alami di pinggir tebing-tebing," katanya.
Tidak adanya masyarakat yang melakukan budi daya rumput laut ini salah satunya dikarenakan harganya yang sangat murah, berkisar antara Rp 2.000 per kilogram. Sehingga masyarakat akan mencari ketika ada permintaan saja atau hanya dipungut di pinggir pantai yang terbawa ombak.
Melihat kandungan dan potensi rumput laut ini, pihaknya tengah berupaya meningkatkan nilai jual dengan berkoordinasi langsung bersama pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Kami sedang mencoba komunikasi dengan pemerintah pusat, supaya kita diberikan fasilitas atau teknologi untuk ekstrak sitokinin dari Sargassum itu, atau dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai," katanya.
Terlebih, kata dia, adanya rencana dari Universitas Mataram yang akan membuat laboratorium rumput laut di Ekas akan sangat mendukung pengembangan rumput laut Sargassum di Ekas. Sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.
Sementara untuk rumput laut yang dibudidayakan, pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan salah satu BUMD di Kabupaten Sumba Timur yang mengolah rumput laut agar rumput laut di Lotim bisa diserap.
"Sekarang ini sedang kita jajaki pengiriman rumput laut ke Sumba Timur. Harganya sedikit mahal dari di sini," katanya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post