Nelayan Pare Mas Kini Punya ‘Mata’ di Bawah Laut, Fishfinder Bantu Cari Ikan Lebih Efisien

Kimda Farida • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:17 WIB
Nelayan Desa Pare Mas mengikuti pelatihan penggunaan fishfinder untuk membaca kondisi bawah permukaan laut dan mendukung aktivitas penangkapan ikan.
Nelayan Desa Pare Mas mengikuti pelatihan penggunaan fishfinder untuk membaca kondisi bawah permukaan laut dan mendukung aktivitas penangkapan ikan.

LombokPost--Selama bertahun-tahun, nelayan Desa Pare Mas, Lombok Timur, membaca laut dengan cara yang sama.

Arah angin, kondisi cuaca, arus, lokasi yang pernah menghasilkan ikan, hingga pengalaman sesama nelayan menjadi petunjuk sebelum perahu bergerak meninggalkan pantai.

Kini, cara membaca laut itu mulai mendapat tambahan informasi dari teknologi.

Sebanyak 13 nelayan Pare Mas mengikuti pelatihan penggunaan fishfinder, perangkat yang membantu melihat kondisi bawah permukaan laut melalui pantulan gelombang suara.

Teknologi tersebut diperkenalkan untuk membantu nelayan memperoleh gambaran mengenai kedalaman perairan, karakter dasar laut, serta indikasi keberadaan objek atau gerombolan ikan.

Kegiatan berlangsung 28 Juli 2026 di Stasiun Lapangan Hilyana Marine and Coastal Research Center, Desa Pare Mas, Lombok Timur.

Program pengabdian tersebut dipimpin Yulianto Suteja sebagai ketua tim, bersama anggota Paryono, Abd. Saddam Mujib, dan Wiwid Andriyani Lestariningsih.

Baca Juga: RSUD Ruslan Mataram Matangkan Akreditasi, Keselamatan Pasien Jadi Fokus

Tim pengabdian melibatkan Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram bersama akademisi Universitas Sriwijaya.

PELATIHAN FISHFINDER: Tim pengabdian memberikan pelatihan penggunaan fishfinder kepada nelayan Desa Pare Mas, Lombok Timur, untuk membantu membaca kondisi bawah permukaan laut.
PELATIHAN FISHFINDER: Tim pengabdian memberikan pelatihan penggunaan fishfinder kepada nelayan Desa Pare Mas, Lombok Timur, untuk membantu membaca kondisi bawah permukaan laut.

Bagi nelayan, teknologi tersebut bukan sekadar perangkat elektronik tambahan. Ada harapan pencarian ikan dapat dilakukan lebih terarah sehingga waktu berkeliling di laut dan penggunaan bahan bakar bisa lebih efisien.

Ketika Insting Nelayan Bertemu Teknologi

Selama ini, sebagian nelayan Pare Mas menentukan lokasi penangkapan berdasarkan pengalaman, informasi dari nelayan lain, kondisi cuaca serta lokasi yang sebelumnya pernah menghasilkan tangkapan.

Pengetahuan tersebut menjadi modal penting karena terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi karakter perairan setempat.

Namun, keberadaan ikan tidak selalu menetap di lokasi yang sama.

Ketika ikan berpindah atau hasil tangkapan tidak sesuai perkiraan, nelayan harus mencari lokasi lain.

Pencarian yang lebih lama berarti waktu melaut bertambah dan bahan bakar yang digunakan ikut meningkat.

Di sinilah fishfinder diperkenalkan sebagai alat bantu.

Perangkat tersebut bekerja dengan memancarkan gelombang suara ke dalam air. Pantulan gelombang kemudian diterjemahkan pada layar menjadi informasi yang dapat membantu pengguna membaca kondisi bawah permukaan.

Nelayan diperkenalkan pada bagian utama perangkat, mulai layar monitor, sensor atau transducer, sumber daya listrik hingga pemasangan alat pada perahu.

Mereka juga belajar melakukan pengaturan awal dan memahami sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kualitas informasi, seperti kecepatan perahu, kondisi gelombang serta posisi sensor.

Baca Juga: Belanja Mataram Naik Rp215 Miliar, Banggar Soroti Parkir dan Reklame

Bukan Alat Ajaib Pencari Ikan

Tim pengabdian menekankan bahwa fishfinder bukan alat yang secara otomatis menunjukkan lokasi ikan atau menjamin hasil tangkapan.

Informasi pada layar tetap perlu dibaca bersama pengetahuan nelayan mengenai musim, arus, cuaca, jenis ikan sasaran dan karakter perairan.

Dengan demikian, teknologi tidak dimaksudkan menggantikan pengalaman nelayan. Perangkat tersebut justru menjadi informasi tambahan untuk memperkuat pengambilan keputusan saat berada di laut.

Setelah memperoleh materi dasar, peserta diajak mempraktikkan penggunaan fishfinder secara langsung di perairan Pare Mas.

Nelayan belajar memasang sensor, melakukan pengaturan dan membaca tampilan layar secara bergantian. Pada tahap awal, sebagian peserta masih mengalami kesulitan memahami gambar yang muncul.

Melalui praktik dan diskusi, mereka mulai mengenali informasi mengenai kedalaman perairan serta indikasi objek di bawah permukaan.

Satu unit fishfinder kemudian diserahkan kepada kelompok nelayan Pare Mas.

Perangkat tersebut dapat digunakan bersama sekaligus menjadi sarana bagi nelayan untuk terus berlatih setelah kegiatan pelatihan berakhir.

Laut Tidak Selalu Bisa Diprediksi

Sekitar satu bulan setelah pelatihan, tim kembali melakukan pendampingan dan evaluasi.

Perangkat telah mulai digunakan, meskipun belum secara rutin. Kondisi alam menjadi salah satu kendala. Gelombang tinggi, angin kencang dan kondisi perairan yang kurang stabil membatasi aktivitas nelayan selama periode evaluasi.

Baca Juga: Wali Kota Jambi Belajar Tata kelola Pariwisata ke Lotim

Dalam beberapa kali penggunaan, perangkat mampu memberikan informasi mengenai objek di bawah permukaan serta indikasi keberadaan ikan.

Sejumlah nelayan juga melaporkan memperoleh hasil tangkapan yang relatif baik ketika kondisi laut memungkinkan dan perangkat digunakan secara optimal.

Namun, hasil tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya peningkatan jumlah tangkapan secara pasti.

Masa pemantauan masih terlalu singkat untuk membandingkan hasil sebelum dan setelah penggunaan fishfinder secara kuantitatif.

Karena itu, pendampingan lanjutan diperlukan agar nelayan semakin terbiasa menghubungkan tampilan pada layar dengan kondisi nyata yang mereka temui di laut.

Pengetahuan Lama Mendapat Tambahan Informasi

Penerapan teknologi pada perikanan skala kecil bukan berarti mengesampingkan pengalaman nelayan.

Pengetahuan mengenai perubahan musim, arah angin, arus, lokasi penangkapan dan perilaku ikan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan daerah tangkap.

Fishfinder memberikan tambahan informasi yang sebelumnya sulit diperoleh hanya dengan mengamati permukaan laut.

Ketika keduanya digunakan bersama, nelayan memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum menentukan lokasi penangkapan.

Bagi tim pengabdian yang dipimpin Yulianto Suteja, proses pembelajaran tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi perlu diperkenalkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pengguna.

Baca Juga: TPU Harum Belum Dibuka, Pemkot Pastikan Kawasan Tetap Terawat

Nelayan tidak cukup hanya diberi perangkat, tetapi juga membutuhkan pemahaman, praktik dan pendampingan agar teknologi benar-benar dapat dimanfaatkan.

Program di Pare Mas pun tidak diarahkan untuk menggantikan cara nelayan membaca laut. Sebaliknya, teknologi menjadi pendamping bagi pengetahuan yang telah mereka miliki.

Dampak terhadap penghematan bahan bakar, waktu pencarian ikan maupun peningkatan hasil tangkapan masih membutuhkan pengamatan dalam jangka lebih panjang.

Bagi nelayan Pare Mas, perubahan itu mungkin belum langsung terlihat besar. Namun, ketika perahu kembali bergerak mencari ikan, mereka kini memiliki cara baru untuk melihat laut.

Mereka tetap membaca angin, arus dan pengalaman.

Bedanya, kini ada satu informasi tambahan yang datang dari bawah permukaan.

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Nelayan Pare Mas fishfinder teknologi perikanan nelayan NTB Lombok Timur