LombokPost-Ombak besar tak menyurutkan langkah nelayan Pantai Maik Anyir, Kelurahan Ijobalit, untuk tetap melaut. Bagi mereka, risiko di tengah cuaca buruk harus dihadapi karena berhenti melaut berarti dapur tak mengepul.
Gemuruh ombak Pantai Maik Anyir, Selasa pagi (22/9), terdengar keras menghantam bibir pantai yang terkikis abrasi hingga puluhan meter.
Di tengah cuaca buruk itu, Jamudin dan seorang rekannya baru tiba dari laut, membawa hasil tangkapan yang langsung diserbu warga.
Puluhan ibu-ibu sudah menunggu di sekitar tempat parkir perahu. Kresek berada di tangan masing-masing. Mereka menanti ikan segar yang baru dibawa pulang para nelayan.
Baca Juga: Pria Ditemukan Tewas dengan Luka-luka di Pantai Wadu Baba Bima, Polisi Amankan ABG Ini dan Pacarnya
Jamudin, nelayan asal Kelurahan Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, sibuk mengeluarkan ikan dari perahunya.
Hari itu hasil tangkapannya cukup banyak dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Ikan pun langsung habis dibeli warga.
“Lumayan hasilnya, karena kemarin tidak sebanyak ini. Dua sampai tiga hari lalu hasilnya sedikit,” terang Jamudin sembari mengeluarkan ikan dari perahunya.
Jamudin melaut berdua bersama rekannya. Hasil tangkapan dibagi dua. Hari itu, masing-masing bisa membawa pulang sekitar Rp 100 ribu. Beberapa hari sebelumnya, penghasilan mereka hanya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu.
Bahkan, tak jarang pulang tanpa hasil. Cuaca menjadi kendala utama. Angin kencang dan gelombang tinggi membuat mereka hanya bisa melaut sekitar dua hari dalam sepekan.
Baca Juga: Cara Pokdarwis dan Masyarakat Ijobalit Menjaga dan Perkenalkan Pantai Maik Anyir
“Kendalanya kita saat ini ombak, angin, cuacanya buruk sekali. Cuaca buruk seperti ini biasanya akan berlangsung sampai bulan November. Biasanya dalam seminggu itu hanya dua hari cuacanya bagus,” katanya.
Meski cuaca buruk, Jamudin tetap melaut. Pengalaman puluhan tahun sebagai nelayan membuatnya berani mengambil risiko demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, tidak jarang ia pulang dengan tangan kosong. Kadang hanya membawa ikan untuk dikonsumsi di rumah. Modal bensin pun tidak kembali. Sekali melaut, ia membutuhkan 4-5 liter bensin.
Baca Juga: Menjelajahi Pantai Pink Lambu Bima yang Memikat Hati
Bensin dibeli eceran seharga Rp 13 ribu per liter. Ia tidak bisa membeli di SPBUN karena tidak memiliki barcode, meski sudah terdaftar sebagai nelayan dan memiliki kartu Kusuka.
Saat ini Jamudin hanya melaut beberapa kilometer dari pantai. Ikan yang didapat pun terbatas, seperti layur dan cotek. Hasil tangkapan biasanya langsung dijual di pantai karena pembeli sudah menunggu.
“Kalau tidak habis dijual di pantai, kita jual di rumah. Tapi kalau hari Minggu biasanya di pantai ramai pengunjung, itu yang biasanya beli,” ujarnya.
Baca Juga: Merawat Kehangatan Madak Mare di Pantai Kuta Mandalika
Jamudin berharap pemerintah memberi kemudahan bagi nelayan kecil mendapatkan BBM di SPBUN, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui cara membuat barcode.
“Saya tidak tahu cara buatnya seperti apa. Sudah saya pergi beli ke SPBN katanya harus ada barcode. Kami juga berharap mudah-mudahan ada bantuan juga dari pemerintah,” tandasnya. (*/r1)
Sumber : Lombok Post