Petambak Udang Lotim Tolak Udang Impor Masuk Pasar Nasional

Kimda Farida • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 10:15 WIB
ASPIRASI PENOLAKAN: Perwakilan massa aksi kelompok tani tambak udang lokal Desa Padak  Guar,  Kecamatan  Sambelia,  Lombok  Timur,  menyampaikan  aspirasi  menolak masuknya udang impor ke pasar nasional, Rabu (23/9)
ASPIRASI PENOLAKAN: Perwakilan massa aksi kelompok tani tambak udang lokal Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, menyampaikan aspirasi menolak masuknya udang impor ke pasar nasional, Rabu (23/9)

 LombokPost--Sejumlah  petambak   udang   di   Desa Padak  Guar,  Kecamatan Sambelia,  Lombok  Timur, menolak masuknya udang impor  ke  pasar  nasional.

Mereka  khawatir  produk impor   membuat  harga udang  lokal  semakin  tertekan   dan   me ngancam keberlanjutan  usaha  budi daya masyarakat.

Aspirasi tersebut disampaikan   Kelompok   Tani Tambak Udang Lokal Desa Padak  Guar  dalam  aksi yang  digelar  Rabu  (23/9).

Para  petambak  meminta pemerintah memperhatikan kondisi pelaku usaha budi daya  udang   lokal yang   selama   ini   menggantungkan  penghasilan dari sektor tersebut.

Ketua Kelompok Tani Tambak  Udang  Lokal,  Nandang mengatakan masuknya udang  impor  berpotensi memperlemah  posisi  tawar petambak  di  tingkat  lokal.

Terlebih,  biaya  produksi budi daya udang tetap tinggi dan  harus  dibayarkan  saat masa panen.

“Bagi  kami,  persoalan ni  bukan  semata-mata  soal produk impor.   Ini menyangkut  keberlangsungan  mata  pencaharian masyarakat yang menggantungkan  pendapatan  dari usaha tambak,” katanya.

Baca Juga: Lotim Tambah Tiga Kampung Nelayan Merah Putih

Nandang menyebut perbedaan  harga   menjadi salah  satu  kekhawatiran utama   petambak.  

Saat harga   udang   lokal   di tingkat  petambak  berada di  kisaran  Rp  65  ribu  per kilogram,   udang   impor disebut  dapat  dipasarkan sekitar  Rp  45  ribu  hingga Rp 50 ribu per kilogram.

Kondisi  tersebut,  menurutnya,  berpotensi  membuat  udang  lokal  semakin sulit  bersaing. 

Apalagi  jika industri  pengolahan  memiliki alternatif bahan baku dari  luar  negeri  dengan harga lebih rendah.

“Kalau harga jual kami sebagai petambak lokal Rp 65 ribu  per  kilogram,  semen -tara udang impor bisa Rp45 ribu sampai Rp50 ribu, otomatis kami yang lokal kalah bersaing,” ujarnya.

Tekanan harga dikhawatirkan berdampak pada keberlanjutan  produksi. 

Jika harga  jual  turun  sementara  biaya  pakan,  benur dan kebutuhan operasional tambak  tetap  tinggi,  margin  keuntungan  petambak akan semakin tipis.

“Kalau  kondisi  ini  terus terjadi,  petambak  bisa  mengurangi  produksi.  Bahkan ada yang bisa tidak mampu melanjutkan  usaha  budi daya,” tambah Nandang.

Dampaknya  juga  dinilai tidak hanya dirasakan petambak.

Menurut Nandang, usaha budidaya udang melibatkan banyak sektor pendukung, mulai dari pekerja tambak,  pemasok  pakan dan  benur,  jasa  transportasi,  pengepul  hingga  in -dustri pengolahan.

Karena itu, tekanan terhadap  usaha  tambak  dikhawatirkan  ikut  memengaruhi kesempatan kerja dan perputaran  ekonomi  masyarakat di sentra budidaya.

Baca Juga: Sorot Diskresi PT TCN di Gili Trawangan, Dewan Minta Pemda Segera Kaji Pembangunan Pipa Bawah Laut

Kepala Dusun Dasan Baru, Desa  Padak  Guar,  Herman, turut  menyuarakan  dukungan  terhadap  aspirasi  para petambak. 

Menurutnya, persoalan  harga  menjadi semakin berat karena sebagian  petambak  menjalankan  usaha  dengan  sistem pembayaran biaya produksi setelah panen.

“Usaha  kami  menggunakan sistem bayar panen. Artinya,  biaya  produksi dan  utang  dibayar  saat panen.  Kalau  harga  jual turun   dan   keuntungan semakin tipis, bagaimana kami  bisa  menutup  biaya usaha?” ujarnya.

Para  petambak  berharap pemerintah  memberikan perhatian  terhadap  keberlangsungan  usaha  budidaya  udang  lokal  serta memastikan   kebijakan perdagangan tidak semakin menekan  harga  di  tingkat petambak.  

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
Petambak Udang Udang Impor Budidaya Udang Padak Guar Lombok Timur