LombokPost--Sejumlah petambak udang di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, menolak masuknya udang impor ke pasar nasional.
Mereka khawatir produk impor membuat harga udang lokal semakin tertekan dan me ngancam keberlanjutan usaha budi daya masyarakat.
Aspirasi tersebut disampaikan Kelompok Tani Tambak Udang Lokal Desa Padak Guar dalam aksi yang digelar Rabu (23/9).
Para petambak meminta pemerintah memperhatikan kondisi pelaku usaha budi daya udang lokal yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.
Ketua Kelompok Tani Tambak Udang Lokal, Nandang mengatakan masuknya udang impor berpotensi memperlemah posisi tawar petambak di tingkat lokal.
Terlebih, biaya produksi budi daya udang tetap tinggi dan harus dibayarkan saat masa panen.
“Bagi kami, persoalan ni bukan semata-mata soal produk impor. Ini menyangkut keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari usaha tambak,” katanya.
Baca Juga: Lotim Tambah Tiga Kampung Nelayan Merah Putih
Nandang menyebut perbedaan harga menjadi salah satu kekhawatiran utama petambak.
Saat harga udang lokal di tingkat petambak berada di kisaran Rp 65 ribu per kilogram, udang impor disebut dapat dipasarkan sekitar Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi membuat udang lokal semakin sulit bersaing.
Apalagi jika industri pengolahan memiliki alternatif bahan baku dari luar negeri dengan harga lebih rendah.
“Kalau harga jual kami sebagai petambak lokal Rp 65 ribu per kilogram, semen -tara udang impor bisa Rp45 ribu sampai Rp50 ribu, otomatis kami yang lokal kalah bersaing,” ujarnya.
Tekanan harga dikhawatirkan berdampak pada keberlanjutan produksi.
Jika harga jual turun sementara biaya pakan, benur dan kebutuhan operasional tambak tetap tinggi, margin keuntungan petambak akan semakin tipis.
“Kalau kondisi ini terus terjadi, petambak bisa mengurangi produksi. Bahkan ada yang bisa tidak mampu melanjutkan usaha budi daya,” tambah Nandang.
Dampaknya juga dinilai tidak hanya dirasakan petambak.
Menurut Nandang, usaha budidaya udang melibatkan banyak sektor pendukung, mulai dari pekerja tambak, pemasok pakan dan benur, jasa transportasi, pengepul hingga in -dustri pengolahan.
Karena itu, tekanan terhadap usaha tambak dikhawatirkan ikut memengaruhi kesempatan kerja dan perputaran ekonomi masyarakat di sentra budidaya.
Baca Juga: Sorot Diskresi PT TCN di Gili Trawangan, Dewan Minta Pemda Segera Kaji Pembangunan Pipa Bawah Laut
Kepala Dusun Dasan Baru, Desa Padak Guar, Herman, turut menyuarakan dukungan terhadap aspirasi para petambak.
Menurutnya, persoalan harga menjadi semakin berat karena sebagian petambak menjalankan usaha dengan sistem pembayaran biaya produksi setelah panen.
“Usaha kami menggunakan sistem bayar panen. Artinya, biaya produksi dan utang dibayar saat panen. Kalau harga jual turun dan keuntungan semakin tipis, bagaimana kami bisa menutup biaya usaha?” ujarnya.
Para petambak berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan usaha budidaya udang lokal serta memastikan kebijakan perdagangan tidak semakin menekan harga di tingkat petambak.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan