Lombokpost-Deretan usaha tumbuh dari lingkungan Pondok Pesantren Tohir Yasin Lendang Nangka, Lombok Timur (Lotim). Jumlahnya belasan unit usaha, dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, hingga laundry, yang menjadi penopang kemandirian pondok sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Tiga green house berukuran raksasa berdiri secara terpisah di lahan seluas belasan hektare. Green house itu dipenuhi dengan tanaman cabai dan melon golden yang baru berumur sekitar tiga minggu. Tanaman-tanaman itu terlihat sangat subur di dalam polybag dengan bantuan irigasi tetes.
Bibit-bibit melon itu tumbuh subur di kompleks Pondok Pesantren Tohir Yasin Lendang Nangka. Green house ini merupakan satu dari 16 unit usaha yang dibangun Ponpes untuk memperkuat perekonomian dan mewujudkan kemandirian melalui Badan Usaha Milik Pesantren (Bumpes).
Baca Juga: Melihat Prosesi Nyeleng Minyak Seribu Hajat di Ponpes Tohir Yasin Lendang Nangka, Lombok Timur
Direktur Bumpes Tohir Yasin Syahrullah menyampaikan, bumpes memilih usaha di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, laundry, hingga bakery. “Kami mengelola 16 unit usaha,” terang Syahrullah, Selasa (6/10).
Diceritakan, usaha ini dirintis sejak tahun 1997 lalu, namun baru resmi dan memiliki badan hukum pada 2021. Unit-unit usaha ini telah memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pondok dan masyarakat sekitar.
Selain melibatkan alumni, pengembangan usaha ini juga melibatkan masyarakat sekitar, baik sebagai karyawan maupun mitra. Bumpes juga menyerap gabah dari para petani, kemudian menjual berasnya kepada masyarakat.
Baca Juga: Wagub Luncurkan Aplikasi Sidik Gari Digital di Ponpes Salaf Tohir Yasin
“Sebagian masyarakat bahkan membeli di pondok sambil berniat sedekah,” tambahnya.
Kata dia, unit usaha yang dijalankan saling berkaitan satu sama lain. Misalnya, limbah peternakan dan sekam yang dihasilkan dari mesin penggilingan padi dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk yang kemudian digunakan untuk bidang perkebunan maupun pertanian.
“Jadi pertanian dan perkebunan kami hanya menggunakan pupuk kompos, tidak menggunakan kimia, terutama untuk tanaman melon, cabai,” jelasnya.
Selain itu, Ponpes juga memiliki Rumah Potong Unggas (RPU). Di RPU ini, Bumpes menyediakan daging ayam untuk kebutuhan santri maupun masyarakat. Termasuk juga menyuplai kebutuhan beberapa dapur makan bergizi gratis (MBG) di Lendang Nangka.
Unit usaha lain yang dijalankan adalah penggilingan daging untuk pembuatan cilok dan nugget. Permintaan cilok diakui cukup tinggi di tengah masyarakat, termasuk dari dapur MBG.
“Dari bahan baku yang ada kita bisa kelola sampai hilirnya. Misalnya daging ayam bisa jadi cilok. Karena pesanan cilok ini cukup banyak, bahkan ada permintaan 15 ribu cilok untuk MBG,” ujarnya.
Baca Juga: Gubernur Iqbal Dukung Kemandirian Ekonomi Masjid dan Pondok Pesantren
Usaha lainnya adalah Harmoni Rasa yang memproduksi roti, gorengan, dan snack. Produk-produk ini kemudian dipasarkan di toko pondok langsung untuk kebutuhan santri dan santriwati.
Pada 2027 mendatang, Bumpes Tohir Yasin juga berencana untuk pengadaan alat produksi tepung skala besar. Karena selama ini tepung, minyak, dan telur masih dibeli dari luar untuk bahan pembuatan roti maupun lainnya.
Disebutkan, hasil dari belasan usaha itu tidak hanya untuk operasional dan pembangunan Ponpes. Namun, sebagian hasilnya juga digunakan untuk membiayai beasiswa sekitar 200 santri.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Syariah Melalui Pondok Pesantren
“Alhamdulillah sudah banyak santri dan santriwati yang mendapat beasiswa. Total santri kami sekarang 1.300 santri dari TK sampai SMA. Tapi yang mondok 750 orang. Alhamdulillah dengan adanya Bumpes ini kita sudah bisa mandiri, sehingga tidak selalu bergantung kepada pihak luar,” pungkasnya. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Lombok Post