LombokPost-Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Lombok Timur (Lotim) memastikan kondisi pangan Lotim masih aman di tengah ancaman kemarau. Ketersediaan pangan Lotim diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga empat bulan ke depan.
“Stok kita InsyaAllah aman sampai empat bulan ke depan. Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan instansi terkait untuk antisipasi potensi dampak perubahan cuaca ini,” terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lotim M. Taufik, Senin (12/10).
Kendati demikian, pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman kemarau panjang. Kondisi cuaca saat ini juga menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi memengaruhi sektor pertanian serta ketersediaan bahan pangan.
Baca Juga: Pilu Petani Kakao di Desa Bebidas Lombok Timur saat Musim Kemarau
“Berbagai langkah antisipasi telah kami lakukan dan koordinasi lintas sektoral kami perkuat,” katanya.
Dia menyebutkan, Pemkab Lotim juga telah menyiapkan langkah penanganan apabila terjadi indikasi kenaikan harga bahan pangan, terutama beras. Salah satunya dengan melakukan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan melibatkan Bulog.
Langkah itu diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mengurangi tekanan pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi masyarakat yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Termasuk sekarang juga ada program Bantuan Pangan (Bapang) bagi masyarakat di desa. Ada bantuan lagi yang akan disalurkan untuk tiga bulan ke depan. Masing-masing mendapatkan 10 kilogram beras, tanpa minyak goreng,” ujarnya.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Kementerian PU Suplai 100 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Lombok
Program itu untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, terutama di tengah ketidakpastian kondisi cuaca dan potensi tekanan ekonomi akibat perubahan harga pangan.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Lotim Muhamad Hirsan menyampaikan, sejauh ini belum ada laporan yang diterima terkait dampak dari kekeringan yang menimpa tanaman para petani.
“Cuaca saat ini memang sangat panas sekali. Tapi tidak ada laporan yang kami terima adanya tanaman petani rusak akibat kemarau. Bahkan sejak empat tahun terakhir ini gak ada laporan yang masuk,” katanya.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Kasus ISPA di Mataram Melonjak 46 Persen
Kata dia, saat ini petani yang menanam padi rata-rata di daerah utara, bahkan sampai ada yang menanam hingga tiga kali karena kondisi irigasi di daerah utara sangat mendukung. Sementara di daerah selatan saat ini rata-rata menanam tembakau.
“Kalau di daerah selatan, kita tahu sendiri debit air yang kurang dan irigasi gak ada. Makanya lebih difokuskan untuk tembakau saja saat ini,” terangnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post