Sanchia Vaneka, MATARAM
Taman Budaya NTB yang biasanya terlihat lengang dengan rerumputan hijaunya, pekan ini dikunjungi banyak tamu. Berkunjung tentu memiliki tujuan, entah hanya duduk duduk dengan seruput kopi atau kegiatan lainnya.
Kali ini, pengunjung berbondong-bondong datang untuk menyaksikan gelaran seni media. Nyaris padat seperti sedang mengantre pembagian sembako. Mulai dari ibu-ibu muda dengan membawa anak balitanya, hingga muda mudi yang sibuk menyoroti tiap sudut taman untuk mengabadikan moment.
Galeri seni ibarat ruang kosong yang diperuntukkan untuk para seniman memamerkan karya seninya. Selaras dengan berkembangnya teknologi yang pesat, berbagai aspek kehidupan seolah dituntut ikut lari bersamanya. Pun dengan seni yang mulai mengawinkan karyanya dengan unsur digital. Entah itu cahaya, suara, atau jenis maya lainnya.
Dalam seni pertunjukkan saat itu, euforia penggunaan teknologi canggih terlihat dari sudut manapun. Iringan musik wayang, dentuman sound system memutarkan filmnya, dan berkas cahaya yang menembus lapisan kaca. Sepertinya pengunjung kehabisan pose untuk berswafoto.
“Ayok fotoan disana lagi, mumpung sepi,” ajak seorang pengunjung kepada temannya sambil menunjukkan pertunjukkan dengan spot kaset jadul berbagai era.
Di belakang sana, tepatnya teater arena terbuka taman budaya tampak ada pertunjukan juga. Seorang dengan balutan baju kaos abu rokok bersama teman-temannya tampak sedang sibuk menyiapkan proyektor.
“Nanti setelah shalat maghrib kami ada pemutaran film,” kata laki-laki itu saat ditanyai seorang pengunjung. Beberapa pengunjung sudah mulai duduk manis menunggu film nya.
Muhammad Sibawaih, seorang Direktur Program Yayasan Pasir Putih. Komunitas yang bergerak dalam seni modern. Dengan modal mengumpulkan arsip cerita, budaya, dan adat yang ada di tanah Lombok Utara. Arsip itu disebutnya sebagai bale data. Kumpulan arsip dikembangkannya dengan segala metodologi seni yang bisa dilakukan dalam komunitas itu.
Seperti penyilangan media. Cerita rakyat yang biasanya disampaikan secara bertutur, disulapnya menjadi film komik yang unik. Dan ini luar biasa menarik.
Penonton menikmati sajian audio visual dari karya ini. Dengan seksama menyimak cerita rakyat, yang mungkin tidak banyak yang tahu sebelumnya.
Cerita rakyat yang dikisahkan kembali dalam film komik waran berjudul Amaq Terobong Lekong. Cerita tentang seorang ayah yang memiliki anak anak laki-laki seperti ayam jago. Versi ini dari Dusun Kerujuk Desa Menggala, Lombok Utara. Yang diceritakan oleh Inaq Saadah.
Film kedua disuguhkan cerita rakyat berjudul Maq Rambut dari Bayan Lombok Utara. Cerita tentang tokoh cerdik dan jenaka. Hidup bersama sang Datu atau raja. Datu selalu memberikan titah yang tidak masuk akal. Contohnya, membendung sebuah sungai.
Komunitas yang hadir di 2010 ini merangkul anak-anak Lombok Utara yang mau belajar dan memiliki potensi yang harus dikembangkan dalam seni.
“Ada yang fokus pertunjukkan, suka nulis, film, atau bahkan seni rupa,” jelas Ka Siba, sapaan akrabnya.
Sesuai dengan orang yang tergabung di dalam nya, Pasir Putih ini diperuntukkan sebagai ruang belajar.
“Wah ga kebayang kalau melestarikan itu,” ucap Siba saat ditanyakan tujuan Pasir Putih.
Menurutnya, tujuan dengan kata melestarikan adalah suatu amal yang sangat mulia. Dan ia merasa belum sampai pada tahap itu.
“Kita belajar saja, kalau memang ada dari kita sebagai bentuk melestarikan itu bonus,” ujar pria berkacamata ini.
Diakhir ia berpendapat bahwa seni tetaplah seni. Hanya media yang digunakan sebagai pemantik seni dalam proses kreatifnya sudah mulai dikembangkan. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post