Suara Leluhur: Warisan Cerita dari Kakek ke Canggah
LombokPost - Sebelum ada kitab, sebelum pena mengenal kertas, sejarah diturunkan dari mulut ke telinga. Dari ayah ke anak. Dari datuk ke cucu. Dari canggah ke buyut. Begitulah cara kisah-kisah hidup dalam ingatan masyarakat Lombok.
Bait 5 sampai 9 dalam Babad Lombok tidak langsung berbicara tentang perang atau kejayaan. Ia berbicara tentang asal mula cerita itu sendiri. Dari siapa ia didengar, bagaimana ia diwariskan, dan siapa yang bertanggung jawab menjaganya. Ada satu garis yang dijaga ketat: bahwa ini bukan karangan. Ini adalah tutur yang dirawat dengan cinta.
Di bait 5, sang penulis memulai dengan meminta permisi kepada “warga sanak semua”. Ia ingin menceritakan kisah leluhur, seperti yang ia dengar dari orang tuanya. Tapi bukan berhenti di situ. Orang tuanya mendengar dari datuknya. Datuk dari kakek. Kakek dari, Canggah hingga ke Goneng.
Nama ini penting. Ia bukan sekadar orang tua biasa. Ia adalah penyambung zaman. Penjaga cerita. Bisa jadi Goneng inilah figur awal penyusun struktur naratif Babad Lombok, atau bahkan tokoh sejarah yang mewakili satu klan intelektual lokal.
Kemudian cerita bergeser ke kisah suci umat manusia.
Setelah Nabi Adam, datang Nabi Idris. Setelah Idris, datang Nabi Nuh. Dan di sini kisah menjadi getir. Nabi Nuh, meski dikaruniai mukjizat berupa bahtera, harus menghadapi kenyataan pahit: anak-anak dan sebagian umatnya menolak agama suci. Bahkan banyak yang ditipu iblis.
Cerita ini tidak diceritakan dengan nada dendam. Tapi dengan nada sedih. Nada kehilangan.
Bait 9 menceritakan tentang anak cucu Nabi Tis yang menangis, yang masih menyayangi Nabi Adam, meski mereka hidup jauh setelahnya.
Baca Juga: Lirik Lagu Awak Jaok dan Chord Gitar Lengkap, Lagu Daerah Sasak oleh Erni Ayuningsih
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Leluhur kita sangat paham: cerita tidak boleh putus. Karena jika putus, kita kehilangan bukan hanya sejarah, tapi identitas. Bait-bait ini mengajarkan bahwa bukan hanya kitab suci yang perlu dijaga, tapi kisah mulut ke mulut juga adalah bentuk wahyu kecil yang menyala dalam keluarga.
Dan ketika kita membaca bagaimana umat Nabi Nuh tersesat, kita diajak merenung: berapa banyak dari kita hari ini yang sudah jauh dari akar, tapi tidak sadar sedang digiring oleh “iblis baru” bernama ego, arus teknologi, atau bahkan lupa pada sejarah?
Baca Juga: BABAD LOMBOK BAIT 1-4, Kisah Leluhur dalam Bait Pangkur Malam Jumat Wage
Tentang Naskah Ini
Narasi ini diambil dari bait 5–9 Babad Lombok versi transliterasi dan terjemahan 1994,. Bait-bait ini membentangkan asal-usul cerita dan tragedi spiritual dalam sejarah manusia pertama. Ditafsirkan ulang agar bisa menyentuh kesadaran generasi hari ini.
Lampiran Teks Asli Babad Lombok (Bait 5–9)
Bait 5
Permisi warga sanak semua,
cerita leluhur masa dahulu,
tatkala di zaman purba,
cerita dari orang tuaku,
ayah itu diberitahu,
oleh datuknya pula.
Pangkur:
Tabe yayi suntana,
caritane luluhung sang rumingin,
duk lagi samaning dangu,
tutur wong tuwaning ngurang,
pinujaran dening wayahe ring dangu,
wayahe hiku pinajar,
dening buyute ring nguni.
Bait 6
Datuknya itu diceritakan,
oleh kakeknya bercerita,
si kakek itu dahulu diceritakan,
oleh Wariga (tata) ku,
Si tata mendapat tuturan,
oleh si Canggah (toker),
si Canggah dari Goneng.
Pangkur:
Buyute hika pinajar,
dening Hyang nganturin,
Hyang Muni ta den tutur,
dening wariganing ngwang,
kang Wariga punika huga den tutur,
denira Canggah hing kuna,
Canggah saking reming nguni.
Bait 7
Alisah di masa kuno, itu,
setelah masa Nabi Adam,
diganti oleh Baginda,
Nabi Idris yang mulia,
setelah itu diganti pula,
oleh baginda Nabi Nuh,
yang dikaruniai mukjizat tinggi.
Pangkur:
Nenggeh reke hung kina,
sawus sira jengniya Nabi Adam nguni,
kagenten jeng nipun,
Nabi Idris kang mulya,
sawuse hiku reke ginenting dang,
hing jeng Nabi Nuh hika,
kang sinung kumijisate kang luwih.
Bait 8
Mukjizatnya membuat bahtera,
berlayar di air bah,
Nabi yang kasih itu,
Nabi Nuh bersengketa,
dengan pendeta dan anak cucunya,
semua tak hendak ikut,
masuk agama suci.
Pangkur:
Wisaya tar ngwang bahitra,
hamala gung hamoting sindu neki,
Nabi kang sih hiku,
Nabi Noh hambantan,
lawan Dulatamwah hanakang putu,
sami tan nayun milu,
maring ngagama kang suci.
Bait 9
Kaum Nabi Nuh semua,
semua sudah ditipu iblis,
di masa Nabi Adam dahulu,
sepeninggal Nabi Adam,
Anak cucu dari Nabi Tis,
yang jauh sama menangis,
menyayangi Nabi Adam.
Pangkur:
Kaum Nabi Noh sedaya,
pan sedaya kapusan dening belis,
nohune Hadam ring dangu,
satilar Nabi Hadam,
hanak putu liyan saking Nabi Tis luhung,
kang ngadoh samiya karuna,
kangening Nabi Hadam nguni
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin