Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Babad Lombok Bait 10-14, Ketika Iblis Menyamar Jadi Mukmin tentang Awal Pemujaan Patung

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 27 Mei 2025 | 21:00 WIB
BABAD LOMBOK BAIT 10-14: Ketika Iblis Menyamar Jadi Mukmin tentang Awal Pemujaan Patung
BABAD LOMBOK BAIT 10-14: Ketika Iblis Menyamar Jadi Mukmin tentang Awal Pemujaan Patung

 

Ketika Iblis Menyamar Jadi Mukmin: Tragedi Spiritual Anak-Anak Nabi Adam

LombokPost - Setelah air bah, setelah kapal Nabi Nuh mengambang di atas dunia yang dibasuh ulang, kisah manusia kembali dimulai.

Namun bukan dari kemenangan, melainkan dari pencarian. Di bait 10 hingga 14 Babad Lombok, kita disuguhkan kisah tragis namun sangat relevan: perjalanan manusia mencari hukum, lalu tertipu oleh wajah palsu yang tampak suci.

Diceritakan, sekelompok laki-laki dan perempuan meninggalkan rumah. Mereka ingin mencari hukum, mencari jalan kebenaran. Namun di tengah jalan raya—simbol kehidupan terbuka yang penuh persimpangan—mereka berjumpa dengan sosok yang tampaknya saleh.

Ia berwajah lembut. Bertutur manis.
Ia berkata: “Wahai anak cucu Nabi Adam, jangan menangis, jangan resah. Dengarlah kata-kataku.”

Tapi ia bukan siapa-siapa. Ia adalah iblis laknatullah, yang telah menyamar sebagai Mukmin.

Dalam bait berikutnya, iblis mulai menyebar narasi. Ia berkata Nabi Adam tidak mati. Ia menjelma menjadi dewa, lalu menghilang.

Iblis ingin mengaburkan antara manusia dan ketuhanan, antara sejarah dan mitos. Inilah awal mula penyimpangan spiritual yang dibungkus dengan kelembutan.

Dan ketika manusia mulai merindukan Nabi Adam, si iblis memberi “solusi”:
“Kalau rindu, buat saja patungnya. Tirulah wajahnya. Tempatkan di tengah kalian.”

Begitulah, dengan dalih cinta, dimulailah pemujaan berhala pertama. Laki-laki mulai membuat sanggah. Tempat arwah leluhur. Awalnya dari batu. Meniru para dewata. Katanya sebagai penghormatan. Tapi semua itu adalah kelicikan yang menyamar jadi budaya.


Baca Juga: BABAD LOMBOK BAIT 1-4, Kisah Leluhur dalam Bait Pangkur Malam Jumat Wage

Refleksi untuk Kita Hari Ini

Bait-bait ini menelanjangi satu realitas yang tak pernah mati:
kebohongan tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar. Ia bisa hadir lewat wajah lembut, suara penuh empati, atau jargon "kita hanya ingin menghormati leluhur".

Babad Lombok mengingatkan:
Jika kita tidak berhati-hati, kita akan membingungkan cinta dengan sesembahan, menghormati dengan memuja, dan akhirnya menjauh dari jalan yang benar, meski niat awalnya suci.

 

Tentang Naskah Ini

Narasi ini disusun dari bait 10–14 Babad Lombok versi 1994. Bagian ini memuat tragedi spiritual pasca Nabi Adam, kisah pemalsuan kebenaran oleh iblis, dan awal mula kemunculan praktik pemujaan patung leluhur. Diterjemahkan ulang dengan pendekatan naratif agar menyentuh kesadaran generasi kekinian.

 

Lampiran Teks Asli Babad Lombok (Bait 10–14)

Bait 10

Kemudian berangkat mereka,
laki-laki wanita mencari hukum,
Nabi Adam dahulu,
semua bertekad mengembara,
lalu mereka bertemu di jalan raya,
iblis laknat menipu daya,
berwujud diri seperti Mukmin.

Pangkur:
Yata sami mangkat sira,
lanang wadon mungulati kriya neki,
hing Nabi Hadam ring dangu,
sami ayun anglarat,
yata yan kapanggih neng dalan dalan gung,
iblis la’nat ngrecanang,
harupa kadi wong Mu’min.

Bait 11

Lalu si iblis laknat berkata,
ucapannya manis lembut,
“Duh semua anak cucu,
baginda Nabi Adam,
diamhlah jangan menangis berjalan,
dengarkanlah kata-kataku
aku disuruh menyampaikan.”

Pangkur:
Dan iblis la’nat hangucep,
pengucep ngasih-ngasih,
"Duh sakehe hanak putu, nira Baginda Hadam,
lah meneng haja nangis hiya lumaku,
rungunen wujur ring ngwang,
hingsun kinen mamarahing."

Bait 12

Di zaman Nabi Adam,
aku bertanya kepada beliau,
jangan kau ingkar semua kamu,
ada yang menyebutkan,
Nabi Adam tidak mati,
tetapi menjelma jadi dewa,
musnah tak dapat dilihat.

Pangkur:
Wayah nira Nabi Adam,
hikang takan ningsun mareng sireki,
haywa maering sakehmu,
hana hamuhune samiya,
yen Nabi Adam hike pan norana lampus,
hanging haminda dewa,
hagaib datang kahaksi.

Bait 13

Pesan Nabi Adam dahulu,
aku disuruh menyampaikan padamu,
bila kalian rindu padanya,
kepada baginda Nabi Adam,
buatlah olemu patung meniru,
Nabi Adam di dunia,
saat berada di antara kita.

Pangkur:
Hujare Adam hing ngwang,
hingsun kinen hamajari sireki,
yen sira kangen ning besuk,
mring wayah Nabi Adam,
lah tesira karya tapel samiya tiru,
hing dunya Nabi Adam,
duk taya hana hing riki.

Bait 14

Yang laki-laki membuat Sanggah,
dengan tempat arwah leluhur,
(buatlah) dari batu,
menirukan para Dewata,
bila telah selesai semua itu,
buatlah persembahan,
sebagai babaten suci.

Pangkur:
Mwah lanang gawe Sanggah,
lawan miyuka buyutanning,
hakarya watu,
minda para Dewata,
yen wus dadi samapta sakabah hiku,
hakarya humapelan Sanggah,
kadi babanten hasuci.

 

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#kisah iblis #babad lombok #sejarah spiritual sasak #bait babad lombok 1994 #pemujaan patung #sanggah leluhur #nabi Adam dan umatnya #tradisi dan penyimpangan #awal penyembahan #cerita leluhur lombok #bait pangkur #iblis menyamar