Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Babad Lombok Bait 21-29, Dari Tumpeng Berdarah ke Penyebaran Budaya Iblis di Tanah Jawa

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 29 Mei 2025 | 21:00 WIB

 

BABAD LOMBOK BAIT 21-30: Dari Tumpeng Berdarah ke Penyebaran Budaya Iblis di Tanah Jawa
BABAD LOMBOK BAIT 21-30: Dari Tumpeng Berdarah ke Penyebaran Budaya Iblis di Tanah Jawa

Ketika Sesat Diwariskan: Dari Tumpeng Berdarah ke Penyebaran Lintas Pulau

 

LombokPost - Mulanya hanya suara. Lalu menjadi ritual. Kini, di bait 21 hingga 29, kesesatan menjelma sistem, lengkap dengan makanan, persembahan, aturan, dan bahkan... doktrin yang diajarkan kepada anak cucu.

Iblis tak hanya merayu manusia untuk berbuat dosa. Ia mendesain peradaban tandingan—yang dibungkus seolah warisan suci dari leluhur Nabi Adam.

Bait 21 menunjukkan instruksi: jangan pilih makanan. Makan saja semua: darah, arak, brem, babi, anjing. “Begitulah pesan leluhur kita, Nabi Adam,” kata si iblis. Dan tragisnya, orang-orang percaya. Mereka tak bertanya. Mereka hanya ikut.

Bait 22–23 menggambarkan prosesi ritual lengkap: nasi tumpeng disiapkan, lauk berdarah dicacah, hati diambil, arak dituangkan, dan persembahan dinaikkan ke sanggah. Dupa dibakar, lonceng dibunyikan. Semua terlihat sakral. Tapi sesungguhnya... roh kegelapan yang diundang.

Bait 24–25 menyentuh titik paling menyedihkan: orang-orang memakan sajian sesat itu, lalu berdoa kepada leluhur. Mereka percaya, kalau mereka mengikuti ini, maka mereka akan sembuh, kaya, dan diberkati. Bahkan mereka pulang dengan hati gembira, dan mengajarkan kepada anak cucu bahwa semua ini adalah wasiat dari Nabi Adam.

Lalu... kebohongan ini menjalar.

Di bait 26–28, disebutkan penyebaran ke Pulau Jawa. Agama kafir “werat sari” menyebar lewat tokoh bernama Garendah dan Brahmana Sakelar, yang berasal dari Buda Keling. Disebutkan pula bahwa orang Jawa belum paham agama Islam, lalu mengikuti begitu saja. Membuat sanggah, meniru ajaran Garendah, bahkan jika mati, ingin dikubur dengan “pengikut".

Dan akhirnya, bait 29 membawa kita ke bayangan siksa:
bulan di negeri Arab dipenuhi api bergejolak, tulang dan otot meleleh, semuanya jadi abu. Karena semua ini bukan semata adat, tapi arahan dari iblis dan setan yang menolak Tuhan.

Refleksi untuk Kita Hari Ini

Apa yang dulu disebut “ajaran leluhur” bisa saja bukan berasal dari leluhur yang benar. Bisa jadi itu warisan dari suara yang berhasil menyamar sebagai terang.

Bait-bait ini bukan sekadar cerita moral. Ini adalah alarm spiritual bagi kita:
Jangan terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai "warisan".
Ujilah setiap tradisi dengan akal dan hati.

Babad Lombok mengajarkan bahwa yang waras bukan yang banyak, tapi yang mampu mengurai antara cinta dan penyimpangan.


Baca Juga: Lirik Lagu Awak Jaok dan Chord Gitar Lengkap, Lagu Daerah Sasak oleh Erni Ayuningsih

Tentang Naskah Ini

Narasi ini diangkat dari bait 21–29 Babad Lombok versi 1994. Kisah ini mencakup puncak penyesatan lewat persembahan berdarah, penyebaran budaya iblis ke Pulau Jawa, serta ancaman kosmik berupa api neraka. Diterjemahkan secara naratif agar mampu menggugah kesadaran zaman kini.

 

Lampiran Teks Asli Babad Lombok (Bait 21–29)

Bait 21

Jangan kau pilih makanan,
brem, arak dan darah kau makan,
begitulah pesannya,
leluhur kita Nabi Adam,
nah pulanglah kalian semua,
jalan kau seperti itu,
jangan kau ubah lagi.

Pangkur:
Haywa milih panganan,
brem harak lan getih den sangani,
mangkana pawekas hipun,
wayah hira Nabi Adam la mulya ta sira kabeh sireku,
lampahi kadiya hika,
haja hing ngowahken malih."

Bait 22–23

Maka setelah selesai semua,
nasi tumpeng bebandang siap,
lengkap dengan lauknya,
bekatah babi dan anjing,
dicacah bercampur darah babi anjing,
diambil juga hatinya,
bersama tuak arak minumannya.

Setelah semua lengkap,
bantenan dinaikkan Sanggah,
dupa pun dibakar segera,
membunyikan gentanya,
sambil memuji makan di Sanggah,
tak lama ada yang datang, dan ikut menyembah.

Pangkur:
Tembe yen wus dadi samiya,
segah tumapelan bebandang nasititi,
samapta lan nulam nipun,
bekatah celeng sona,
lan hangecok winor-getih celeng ngasu,
mulang hatine pisan,
lan tuwak harak balarih.

Sawuse rahing samapta,
bantenan hagung hangungga hing Sanggah reki,
basmi nama dupa hasruh,
tabuh kekeleng ngira,
sarwi mujiya buktiya kita haneng miyi,
tana suwe hana prapta,
lan nungsun hika nunuti.

Bait 24–25

Di tempat berhala itu,
menyantap semua sajian itu,
setelah makan minum,
nah apa pula permohonanmu,
mintalah pada leluhur
akan dikabulkan,
agar kau sehat segar,
dapat makan dan kaya.

Suka hati semua orang itu,
setelah melakukan persembahan pulang,
setelah sampai di rumahnya,
semua mereka bahagia,
memberi tahu anak cucunya yang tinggal,
dibuat sebagai pesan,
dari leluhur Adam dahulu.

Pangkur:
Linggih hira brahala,
hambuktiya sakweh sasajen neki,
sawusing buktiya nginum,
lah paran de paneda,
jaluknamering wayah hira dana pasung,
deraponya burat waras,
lan hantuk muktiya sugih.

Hegar tiyas wong ngiku samiya,
yeti sukani ratu mulya mulih,
saprapta neng wisma ripun,
yata samiya grahita,
hasiyaran hanak putune kang kantun,
hakarya kadi pawekas,
hing yayane Adam huni.

Bait 26–27

Begitulah asal mulanya,
dahulu agama kafir werat sari,
terkabul apa dimintanya,
si Pendeta bernama Garendah,
dan Brahmana Sakelar, namanya itu,
mendengar orang di Pulau Jawa,
konon dari Buda Keling.

Orang Jawa belum lagi tak paham,
apakah Agama Islam dan kapir itu,
orang Jawa semua ikut,
membuat Sanggah leluhur,
diajarkan oleh Garendah,
bila mati pakai pengikut.

Pangkur:
Mangkana purwanira,
duking kuna gama kapir werat sari,
kabul sawuwusing nganebu,
wong kang ngaran Garendah,
lan Brahmana Sakelar, reke ranipun,
harungu wong nusa Jawa,
nenggih saking Buda Keling.

Wong Jawa pan lagi norak,
wruh yan nira gama Islam kapir,
wong Jawa prenameya tinut,
pada nggawa Sanggah kabuyutan kang den tinut,
pinajar dening Garendah,
duke mati hapa ngiring.

Bait 28–29

Mereka membela satya,
supaya ada temannya mati,
orang Pulau Jawa ikut,
kedua matanya tak melihat,
kedua kupingnya tak mendengar,
akan sabda Tuhan Mulia,
tak melihat syareat Nabi.

Bulan di negeri Arab,
dimasuki api bergejolak,
panasnya mencairkan,
kuti tulang otot,
keduanya semua jadi abu,
sebab dimasukkan api,
perintahnya setan iblis.

 

Pangkur:
Pada hambela satyia,
darapone hana rewang siyargi,
wong nusa Jawa pan tinut,
netra karo tan mulat,
kuping ngira karo tutanana ngrungu,
hing sabdanira Hyang Sukma,
tan mulat sarehat Nabi.

Ngulan ring dunya Ngarab,
haleboning hapi murub hanginggil,
tan sipi panase hajur,
kulit balung hototniya,
sakelire kabeh pada dadi hawu,
prandene den lebonana,
parentahe setan belis.

 

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#warisan leluhur palsu #siksa api di negeri Arab #babad lombok #sejarah penyebaran ajaran palsu #petaka dari buda keling #persembahan sanggah #garendah dan agama werat sari #ritual berdarah #bait 21 hingga 30 babad lombok #bait pangkur #budaya sesat #cerita spiritual sasak