Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Syahdu dan Penuh Makna, Peringatan Maulid di Lombok Merajut Tradisi dan Silaturahmi

Nurul Hidayati • Kamis, 11 September 2025 | 16:58 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lombok selalu memiliki nuansa istimewa.

Bukan sekadar perayaan, tradisi ini adalah perpaduan harmonis antara nilai-nilai keagamaan, budaya, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Setiap tahun, seluruh desa di penjuru Lombok serentak menyambut bulan Rabiul Awal dengan kemeriahan yang meriah namun tetap khusyuk.

Di berbagai desa, tradisi dimulai dengan "Pawai Dulang".

Para ibu-ibu berbondong-bondong membawa hidangan istimewa yang diletakkan di atas nampan atau dulang, ditutup dengan tudung saji, dan diarak menuju masjid atau mushola.

Dulang ini tidak hanya berisi makanan, melainkan juga simbol gotong royong dan kebersamaan.

Setelah dulang-dulang terkumpul, acara dilanjutkan dengan pembacaan salawat dan Barzanji yang menggema di seluruh penjuru desa.

Suara khas Barzanji, yang mengisahkan perjalanan hidup Rasulullah, menciptakan suasana haru dan syahdu.

Setelah itu, barulah sesi makan bersama atau "Begibung" dimulai.

Seluruh masyarakat, tanpa memandang status sosial, duduk melingkar dan menyantap hidangan dari dulang-dulang yang telah dibawa.

Dengan Perayaan Maulid ini Merawat Tradisi, Menjaga Solidaritas.

Peringatan Maulid di Lombok bukan hanya tentang makan-makan. Ia adalah momen untuk mempererat tali silaturahmi.

Para perantau yang pulang kampung, sanak saudara yang jarang bertemu, semua berkumpul dalam satu meja panjang.

Tradisi ini secara efektif meredam sekat sosial dan menyuburkan rasa persaudaraan.

Para tokoh agama dan budayawan di Lombok seringkali menekankan bahwa Maulid adalah momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah.

Tokoh adat Desa Songak, saat memimpin acara maulid adat sebelum melakukan ritual Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman di Masjid Kuno Desa Songak, Sabtu malam (6/9)
Tokoh adat Desa Songak, saat memimpin acara maulid adat sebelum melakukan ritual Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman di Masjid Kuno Desa Songak, Sabtu malam (6/9)

Kisah hidupnya yang penuh teladan—mulai dari kesederhanaan, kasih sayang, hingga kepedulian sosial—dijadikan bahan renungan bagi seluruh umat.

Peringatan Maulid di Lombok adalah bukti bahwa modernisasi tidak mampu menggerus tradisi luhur.

Justru, ia menjadi pengingat bagi setiap generasi akan pentingnya menjaga akar budaya dan spiritualitas, sekaligus memperkuat fondasi kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Lombok.

Editor : Pujo Nugroho
#tradisi #maulid #budaya #solidaritas #Gotong Royong #Lombok