Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Permainan Tradisional Butuh Sosialisasi yang Lebih Masif, Berpotensi Masuk dalam Muatan Lokal

Lombok Post Online • Sabtu, 20 Desember 2025 | 10:26 WIB
SELODOR: Beberapa siswa bermain selodor di lapangan Sangkareang, Kota Mataram, belum lama ini. Selodor kini dijadikan salah satu praktik untuk murid di beberaoa sekolah.
SELODOR: Beberapa siswa bermain selodor di lapangan Sangkareang, Kota Mataram, belum lama ini. Selodor kini dijadikan salah satu praktik untuk murid di beberaoa sekolah.

LombokPost - Permainan tradisional di NTB masih ada, namun sayangnya kurang mendapat eksposur yang memadai di tengah gempuran modernisasi dan permainan digital. Hal ini diungkapkan Bunyamin, Pamong Budaya Ahli Madya Museum NTB.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan masyarakat di lapangan, beberapa permainan tradisional masih lestari dan memiliki komunitasnya sendiri. Permainan mangke atau gasing masih terawat di Lombok Utara. “Di sana, masyarakat secara rutin mengadakan acara permainan gasing yang dikenal dengan nama lokal mangke,” terangnya.

Komunitas permainan gasing juga masih aktif di wilayah tersebut. Begitu juga dengan peresean dan karachi. Permainan khas Suku Sasak, peresean, disebut masih cukup terjaga eksistensinya. Sementara di Pulau Sumbawa, permainan rakyat seperti karachi masih rutin dilaksanakan oleh komunitas lokal.

Meskipun komunitas orang dewasa masih melestarikan permainan seperti gasing, Bunyamin menyoroti kekhawatiran mengenai minimnya partisipasi dari generasi muda. "Sayangnya tidak banyak. Permainan seperti gasing umumnya dimainkan oleh orang dewasa saja saat ini," ujarnya.

Adapun jenis permainan lain, seperti benteng, juga sudah jarang terlihat dimainkan oleh anak-anak sekolah. Bunyamin melihat tantangan terbesar dalam pelestarian ini adalah melawan pengaruh teknologi dan bersaing dengan permainan digital di gawai.

Namun, ia optimis bahwa tantangan ini dapat diatasi. "Dari pengalaman kami dulu, saat anak-anak dikenalkan kembali pada permainan tradisional, mereka sebenarnya merasa senang," jelasnya.

Untuk mengatasi krisis minat ini, Museum NTB mendesak adanya sosialisasi yang lebih masif. Bunyamin menyarankan agar permainan tradisional dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal atau program pendidikan lainnya.

“Mengingat permainan ini mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi, seperti kerja sama, kejujuran, gotong royong, dan kekompakan,” tegasnya.

Museum NTB sendiri pernah memiliki program penyuluhan untuk memperkenalkan berbagai permainan tradisional di sekolah, di mana anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi. “Melalui sosialisasi tersebut, anak-anak tampak sangat antusias, sehingga penting untuk mengenalkan lagi nilai-nilai budaya melalui permainan tradisional kepada mereka,” bebernya.

Punya Daya Tarik Wisata

Selain aspek pendidikan, permainan tradisional juga dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik pariwisata, khususnya dalam mendukung konsep desa wisata. “Dengan memadukan wisata budaya, seperti museum dan unsur budaya tak berwujud seperti upacara adat serta permainan tradisional, desa wisata bisa menjadi destinasi yang menarik," kata Bunyamin.

Dengan ini, iya yakin wisatawan asing pun sering diajak berpartisipasi. “Bule-bule senang kalau ikut bermain,” tambahnya.

Sementara itu, di Museum NTB, koleksi benda-benda terkait permainan tradisional juga tersimpan. Ada enam jenis permainan tradisional. Tak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, beberapa permainan tradisional itu juga diketahui memberikan manfaat bagi kesehatan.

Melihat kondisi sekarang, ia berharap akan ada festival permainan tradisional rakyat yang melibatkan komunitas lokal. Festival semacam itu dinilai mampu mengangkat kembali permainan rakyat ke permukaan sekaligus menjadi media kajian budaya. “Museum juga secara rutin melakukan kajian tahunan terhadap permainan tradisional ya, kami juga pernah mengadakan pameran,” ujarnya.

Bunyamin menilai permainan gangsing dapat menjadi fokus awal festival karena komunitasnya masih aktif dan solid. Upaya ini dapat menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal serta menekan dominasi aktivitas modern yang kurang relevan secara budaya.

“Melalui langkah-langkah tersebut, kami berharap permainan tradisional tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi masyarakat masa kini,” tandasnya.

Kabid Kebudayaan Dikbud NTB Lalu Abdurrahim menegaskan, sudah saatnya semua elemen bergerak untuk melakukan rekonstruksi permainan tradisional secara masif. Ajakan itu ditujukan bagi orang tua, tokoh masyarakat, RT, RW, hingga kepala lingkungan. “Kita harus punya kreativitas untuk merekonstruksi permainan tradisional agar menjadi tameng lokalitas,” ujar pria yang juga pemerhati budaya ini.

Ia mengusulkan agar sekali seminggu tersedia ruang waktu bagi generasi muda, mulai PAUD, SD, SMP, SMA, mahasiswa untuk berkumpul di musala, balai desa, atau ruang publik lainnya. Kegiatan ini menjadi ruang bermain sekaligus mengenalkan kembali properti dan jenis-jenis permainan tradisional NTB.

Beberapa jenis permainan tradisional yang perlu dihidupkan kembali antara lain dengkleng, kideng, manuk kurung, amba ure-ure, baluan dara, loncat tali, hingga main kelabang. Selain menyenangkan, permainan ini sarat manfaat dan nilai karakter seperti kejujuran, kecerdasan, keadilan, hingga kebersamaan. “Permainan tradisional itu hiburan sekaligus media pembentukan karakter,” tegasnya.

Identitas Daerah

Secara budaya, permainan tradisional juga berfungsi sebagai identitas daerah. Banyak di antaranya diwariskan turun-temurun, mulai permainan fisik seperti belompongan, bawi ketik, karaci, empak asila, hingga permainan strategi seperti balogo, begatrik, dan jumpring.

Abdurrahim menambahkan, permainan tradisional bisa dikenalkan kembali sesuai usia. Anak-anak bisa kembali belajar bermain kelereng, ciwe, til, atau ketek, sementara remaja dapat diarahkan ke permainan ketangkasan seperti ketik bawi atau sebok-sebo’an. Semuanya mengandung pesan moral disiplin, sabar, jujur, patuh pada orang tua, hingga kebersamaan.

Dukungan Peraturan Daerah

Meski manfaatnya besar, penerapan permainan tradisional sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah masih terkendala. Hingga kini belum ada dasar hukum berupa perda atau pergub yang menjadi pijakan. Banyak guru kebingungan memasukkan nilai mulok dalam rapor maupun ijazah.

Karena itu, Abdurrahim mendesak agar regulasi resmi seperti perda dan pergub mulok dapat terbit pada 2026. “Jika mulok sudah punya dasar hukum, semua pihak pasti lebih peduli menggali potensi lokal,” ujarnya.

Rekonstruksi permainan tradisional disebut sebagai gerakan kolektif agar generasi muda tidak tercerabut dari warisan budaya. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya terpaku pada gadget atau pengaruh global, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat.

Strategi Multisektor

Wakil Bupati (Wabup) Lombok Tengah (Loteng) M Nursiah mengatakan, permainan yang ditinggalkan leluhur ini patut dilestarikan dan aktulisasikan kembali. “Pemkab Loteng akan mengupayakan pelestarian ini melalui strategi multisektor,” terang politisi Golkar itu.

Pertama, sinergi instansi. Keterlibatan terpadu antara Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), dan Dinas Pariwisata menjadi kunci keberhasilan program.

Kedua, jalur sekolah. Wabup Nursiah secara spesifik menekankan bahwa agar permainan ini diketahui anak-anak, diperlukan keterlibatan pihak sekolah melalui ekstrakurikuler. “Sekolah menjadi gerbang utama untuk menanamkan kembali warisan budaya ini secara terstruktur,” ujar mantan Sekda Loteng ini. (yun/jay/ewi/r3)

Editor : Prihadi Zoldic
#Sumbawa #gasing #permainan #Lombok #tradisional