Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harapan Ditha-Putu Tampil di Olimpiade Kian Menipis

Administrator • Selasa, 2 April 2019 | 10:13 WIB
BERLATIH KERAS: Pevoli pantai Ditha Juliana tetap berlatih meski belum menjalani pelatnas di Lapangan Voli Pantai GOR 17 Desember Mataram, kemarin (1/4).
BERLATIH KERAS: Pevoli pantai Ditha Juliana tetap berlatih meski belum menjalani pelatnas di Lapangan Voli Pantai GOR 17 Desember Mataram, kemarin (1/4).

MATARAM-Langkah pevoli pantai NTB Ni Putu Dini Jasita Utami-Ditha Juliana tembus ke Olimpiade Tokyo 2020 semakin berat. Dari release Federation International de Volleyball (FIVB) peringkat mereka merosot. Saat ini, mereka berada di peringkat 112 dunia.


Dari data FIVB pasangan Dhita-Putu berada di bawah pevoli pantai asal Denmark Tyndeskov- Trans. Ketua Pengprov Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) NTB Surya Bahari mengatakan, peringkat mereka terus menurun di level dunia. Karena, mereka banyak absen di beberapa kejuaraan internasional. ”Di tiap kejuaraan internasional itu menjadi ajang perebutan poin,” kata Surya kepada Lombok Post, kemarin (1/4).


Jika absen pada satu kejuaraan internasional itu poinnya akan terus berkurangan. Tercatat, Ditha-Putu terakhir mengikuti kejuaraan internasional pada Asian Games. ”Mereka meraih medali perunggu pada ajang itu,” jelasnya.


Menurutnya, alasan PP PBVSI tak mengikutsertakan diri mengikuti kejuaraan internasional karena anggaran tak cukup. Misalnya Tim Indonesia akan mengirim atlet berlaga di Eropa. Satu atlet bisa menghabiskan Rp 100 juta. ”Itu untuk biaya akomodasi, transportasi, dan konsumsi,”bebernya.


Jika satu tim terdiri dari dua pemain dan satu pelatih, maka sekali mengikuti kejuaraan internasional bisa menghabiskan Rp 300 juta. ”Bayangkan, jika anggaran PP PBVSI Rp 1 miliar. Terhitung, tim Indonesia hanya bisa mengikuti tiga kejuaraan,” jelasnya.


Jika Indonesia mengirim tiga tim, diperkirakan menghabiskan Rp 900 juta. ”Anggaran sebesar itu sangat besar. Tidak mungkin mampu PP PBVSI menjalankan progres latihan dengan benar. Kata dia.


Sampai saat ini, dua atlet tersebut belum juga menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas) untuk mengikuti kejuaraan internasional. ”Ya, karena terkendala anggaran,” ucapnya.


Potensi Putu-Dini ke Olimpiade sebenarnya cukup besar. Di Asian Games mereka berhasil meraih medali perunggu. ”Itu capaian yang sangat luar biasa,” ungkapnya. Prestasi itu menjadi tolok ukur untuk bisa tembus Olimpiade. ”Tetapi, kalau kondisinya seperti ini, rasanya berat,” pungkasnya. (arl/r10)


Editor : Administrator
#Sportivo