LombokPost-Puluhan pesepakbola junior ambil bagian dalam seleksi pemain yang digelar Ricky Nelson Academy (RNA).
Seleksi yang berkolaborasi dengan Asprov PSSI NTB ini untuk menjaring sejumlah bibit muda berbakat.
”Ada 42 anak usia SMP yang kita seleksi,” kata Direktur RNA Ricky Nelson.
Ricky menjelaskan RNA menggunakan metode sepakbola modern dengan kurikulum internasional. Pada seleksi kali ini, RNA fokus pada anak-anak kelahiran 2009-2011.
Tahun sebelumnya, ada sekitar enam anak kelahiran 2007-2009 yang terjaring masuk bergabung bersama RNA.
Penjaringan bibit-bibit muda berbakat tahun ini di NTB tidak menargetkan jumlah.
“Seberapa yang kita dapat. Kalau bagus dan punya potensi, kita bawa,” cetusnya.
Menurut Ricky, anak-anak yang terjaring nantinya diharapkan bisa menjadi pemain bola profesional.
Tak hanya bermain di tingkat nasional, tapi juga dapat berlaga di level internasional. NTB memiliki cukup banyak potensi bibit-bibit berbakat.
”Kita berharap nanti kedepannya akan muncul lagi bintang-bintang kita,” katanya.
Lebih lanjut, Ricky mengatakan bibit muda berbakat ini bisa maksimal sekitar lima sampai enam tahun kedepan.
Karena itu, Ricky berharap kerjasama atau proses penjaringan ini akan tetap berlangsung setiap tahunnya.
”Saya harap kerjasama ini tetap terus berlanjut setiap tahunnya. Kami merasa sangat terbantu dan dimudahkan dengan Asprov PSSI NTB,” tandasnya.
Terpisah, Ketua Asprov PSSI NTB Mori Hanafi menyambut baik program seleksi RNA yang berlanjut lagi tahun ini.
Seleksi ini sangat positif untuk kemajuan sepak bola NTB.
”Kita memiliki banyak pemain muda berpotensi. Jadi kerjasama ini memang bagus sekali,” katanya.
Mori menjelaskan keberadaan SSB di NTB cukup banyak.
Dengan kehadiran RNA ini merupakan suatu kesempatan bagi anak-anak NTB untuk mengembangkan diri.
NTB memiliki banyak talenta muda berbakat, hanya saja mereka belum pernah diberikan kesempatan. Maka dari itu, ini merupakan kesempatan baik.
”Kita harap banyak pemain NTB yang lolos seleksi. Kemudian terus mengembangkan skillnya untuk bisa menembus kompetisi nasional atau internasional,” pungkasnya. (puj/r12)
Editor : Kimda Farida