Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dua Inzaghi, Dua Takhta! Filippo Bawa Pisa Promosi, Simone Incar Juara Liga Champions

Alfian Yusni • Selasa, 13 Mei 2025 | 14:33 WIB

Simone Inzaghi dan Filippo Inzaghi. (Foto: instagram)
Simone Inzaghi dan Filippo Inzaghi. (Foto: instagram)

LombokPost - Tahun ini menjadi tahun yang tidak akan dilupakan oleh keluarga Inzaghi. Dua bersaudara legendaris Italia, Filippo dan Simone Inzaghi, sukses besar di dunia kepelatihan.

Filippo Inzaghi berhasil membawa Pisa SC kembali ke Serie A setelah 34 tahun. Sementara adiknya, Simone Inzaghi, tengah menatap final Liga Champions bersama Inter Milan.

Sebuah kebetulan yang manis: dua pelatih, dua prestasi besar, satu keluarga. Filippo, yang akrab disapa Pippo, tidak hanya meraih promosi bersama Pisa.

Momen saat Filippo Inzaghi mengangkat tinggi bendera Palestina saat berdiri di atas bus parade kemenangan timnya. (Foto: istimewa)
Momen saat Filippo Inzaghi mengangkat tinggi bendera Palestina saat berdiri di atas bus parade kemenangan timnya. (Foto: istimewa)

Ia juga menuai pujian karena aksi simboliknya mengangkat bendera Palestina saat parade kemenangan. Momen itu bukan hanya selebrasi, tapi juga bentuk solidaritas yang kuat.

“Di Pisa, dukungan pada Palestina bukan hal baru. Sudah jadi identitas,” ucap Pippo dalam wawancara.

Pippo ditunjuk sebagai pelatih Pisa pada Juli 2024. Tanpa banyak waktu, ia langsung tancap gas menyusun fondasi tim. Hasilnya: 22 kemenangan, 6 imbang, 8 kekalahan, dan 72 poin.

Pisa finis sebagai runner-up Serie B di bawah Sassuolo. Meski kalah dari Bari di pekan ke-36, promosi tetap dikunci karena Spezia juga kalah.Euforia pun meledak. Parade kemenangan digelar meriah keliling kota Toscana.

Di tengah keramaian itulah, Pippo berdiri gagah di atas bus terbuka. Dengan tangan terangkat, ia mengibarkan bendera Palestina di hadapan ribuan suporter. “Ini bukan hanya soal sepak bola. Ini tentang nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Sikap itu mendapat pujian luas, dari fans Pisa hingga aktivis internasional. Klub kecil dari kota kecil, tapi bersuara besar.

 

Di sisi lain Eropa, Simone Inzaghi tak kalah bersinar. Pelatih Inter Milan ini sukses mengantarkan timnya ke Final Liga Champions.

Ini adalah final kedua Inter dalam tiga tahun terakhir. “Luar biasa. Dua final UCL dalam tiga musim adalah pencapaian besar,” kata Pippo. Ia bahkan berencana hadir langsung ke Munich untuk menyaksikan final.

“Saya pikir ini akan jadi puncak kariernya,” lanjutnya. Filippo tak segan melontarkan pujian untuk sang adik. “Simone layak mendapatkan semua ini. Dia profesional, rendah hati, dan penuh dedikasi.”

Simone Inzaghi. (Foto: instagram)
Simone Inzaghi. (Foto: instagram)

Pippo juga menyebut bahwa Simone adalah sosok yang ia kagumi secara personal. “Saya harap dia bisa mengulang apa yang saya lakukan untuk Milan,” katanya tersenyum.

Sebagai pelatih, Pippo dan Simone memiliki gaya berbeda namun visi yang sama. Disiplin, kerja keras, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di ruang ganti.

“Bagi saya, hubungan antarmanusia jauh lebih berharga daripada trofi,” tutur Pippo. Ia mengaku bangga tidak pernah memberikan denda atau menegur pemain di Pisa.

“Semua datang tepat waktu, semua saling menghormati,” tambahnya. Tahun ini menjadi bukti bahwa darah juara memang mengalir di keluarga Inzaghi.

Sepak bola Italia kembali bangkit, dan di baliknya ada dua saudara dari Piacenza yang menulis sejarah baru. (***)

 

 

 

Editor : Alfian Yusni
#inter milan #keluarga #Simone Inzaghi #filippo inzaghi #Pisa SC