LombokPost - Flare kembali jadi momok. Meski suporter Persebaya sudah berusaha mencegah, nyala flare justru kembali terlihat di Gelora Bung Tomo. Persebaya kini terancam sanksi berat dari PSSI.
Laga panas Persebaya vs Bali United di pekan pamungkas BRI Liga 1 2024/2025 kembali tercoreng aksi penyalaan flare.
Padahal, sebelum pertandingan, para suporter Persebaya sudah bersepakat untuk mencegah penyalaan flare di dalam stadion Gelora Bung Tomo.
Aksi bertajuk Wall of Fire itu digalang Green Nord, Tribun Timur, Tribun Kidul, hingga Gate Jhoner 21. Mereka menciptakan barikade penyambutan yang semarak di luar stadion, dengan harapan suporter tidak membawa flare ke dalam stadion.
Namun sayangnya, nyala flare tetap muncul di akhir laga.Wasit sempat menghentikan pertandingan sesaat, ketika sejumlah titik flare menyala di tribun.
Momen itu terjadi jelang berakhirnya babak kedua. Meski tidak berlangsung lama, insiden ini berpotensi besar berujung sanksi bagi Persebaya.
Terancam Denda Maksimal Rp 200 Juta
Merujuk Kode Disiplin PSSI 2023, penyalaan flare di stadion termasuk pelanggaran serius. Dalam Lampiran 1 Nomor 5, disebutkan bahwa sanksi untuk flare adalah:
Denda Rp 50 juta untuk 1–5 flare,
Rp 100 juta untuk 6–10 flare,
Di atas 10 flare, sanksi bisa mencapai Rp 200 juta atau lebih.
Jika terbukti ada lebih dari 10 flare yang menyala di GBT, maka Persebaya hampir pasti bakal menerima sanksi denda maksimal.
Kasus serupa terjadi di laga PSS Sleman vs Persija Jakarta di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (17/5). Ketika itu, pertandingan juga sempat dihentikan wasit karena flare menyala di sekeliling lapangan.
Kalah 1-3 dari Bali United
Selain terancam sanksi, Persebaya juga harus menerima kekalahan menyakitkan di kandang sendiri. Bertanding di hadapan ribuan Bonek, Persebaya takluk 1-3 dari Bali United.
Tiga gol Bali United dicetak oleh Irfan Jaya (4’), Rahmat Arjuna (27’), dan Boris Kopitovic (82’). Satu-satunya gol Persebaya dicetak Francisco Rivera di menit ke-66.
Kekalahan ini menutup musim BRI Liga 1 Persebaya dengan catatan pahit. Ditambah dengan nyala flare dan potensi sanksi, akhir musim ini menjadi refleksi besar bagi manajemen dan suporter.
Flare Masih Jadi Masalah Lama
Meski suporter sudah melakukan langkah preventif, flare tetap menjadi masalah lama yang belum selesai.
Edukasi dan pengawasan lebih ketat di stadion masih harus digencarkan, agar tidak merugikan klub kesayangan.
Penyalaan flare di stadion memang menjadi simbol semangat, tapi jika tidak terkontrol, justru berbalik menjadi bumerang. Persebaya dan suporter kini harus menunggu keputusan Komdis PSSI atas insiden ini. (***)
Editor : Alfian Yusni