LombokPost - Dunia sepak bola berduka.
Diogo Jota, penyerang andalan Liverpool dan Timnas Portugal, dikabarkan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tragis pada usia 28 tahun.
Kepergiannya bukan hanya kehilangan besar bagi dunia olahraga, tapi juga menyisakan luka mendalam bagi klub, negara, dan jutaan fans di seluruh dunia.
“Untuk tiba di musim khusus ini dengan gelar yang telah saya kejar selama bertahun-tahun dan di liga terbaik di dunia, bagi saya di mana saya bermimpi bermain sebagai seorang anak, ini adalah momen yang akan saya hargai selamanya,” kata Jota dalam wawancara terakhirnya, tak lama sebelum peristiwa nahas itu terjadi.
Lahir di Gondomar, Portugal pada 1996, Jota memulai karier profesionalnya di klub kecil Pacos de Ferreira, lalu membuat lompatan besar dengan direkrut Atletico Madrid pada 2016.
Meski tak sempat tampil di tim utama Atletico, Jota menunjukkan ketajamannya saat dipinjamkan ke FC Porto, dan kemudian ke Wolverhampton Wanderers.
Musim 2017-18 menjadi titik balik. Bersama Wolves, ia mencetak 17 gol dan membantu klub promosi ke Premier League.
Setelah itu, kariernya melesat cepat. Kemampuan bermain di berbagai posisi menyerang, kecepatan, ketenangan di depan gawang, semuanya menjadikannya aset berharga di Liga Inggris.
Jota bergabung dengan Liverpool pada September 2020, saat klub berada di puncak kejayaan sebagai juara Premier League.
Meski harus bersaing dengan trio maut Sadio Mane, Mohamed Salah, dan Roberto Firmino, ia segera menunjukkan kelasnya.
Jota mencetak gol dua digit hanya dalam 21 penampilan pertamanya untuk The Reds, termasuk hat-trick luar biasa ke gawang Atalanta di Liga Champions.
Meski cedera beberapa kali mengganggunya, dia tak pernah kehilangan ketajaman.
“Dia akan membawa kita menuju kemenangan,” begitu nyanyian yang menggema di Anfield dan Jota, lebih sering dari yang bisa dibayangkan, benar-benar melakukannya.
Musim 2021/22 jadi momen puncaknya. Ia menjadi elemen vital dalam skuat Jürgen Klopp yang nyaris meraih quadruple, dan mencetak gol-gol penting dalam perjalanan Liverpool menjuarai Piala FA dan Piala Carabao.
Di musim terakhirnya, 2024/25, Jota mencetak gol penentu di derby Merseyside melawan Everton yang kelak dikenang sebagai gol terakhir dalam hidupnya, sekaligus memastikan gelar Premier League ke-20 Liverpool.
Bersama tim nasional, Jota tampil 49 kali dan menyumbang 14 gol.
Ia menjadi bagian dari skuat Portugal yang menjuarai UEFA Nations League 2025, hanya beberapa minggu sebelum kematiannya.
“Ini adalah pencapaian luar biasa bagi seorang pria kecil yang datang dari Gondomar, di mana saya memiliki mimpi ini. Tiba pada saat ini luar biasa,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca kala itu.
Pada 22 Juni 2025, ia merayakan pernikahan indah bersama istrinya, Rute, dan ketiga anak mereka.
Hanya berselang beberapa hari setelahnya, kabar tragis datang, Jota meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Portugal.
“Namanya Diogo,” bunyi paduan suara khas suporter Liverpool.
Kini, namanya abadi di hati para fans. Sebuah mural tengah disiapkan di sekitar Anfield sebagai penghormatan terakhir, dan nomor punggung 20 yang ia kenakan telah diajukan untuk dipensiunkan.
Dalam hidupnya yang singkat, Diogo Jota telah menulis kisah luar biasa tentang kerja keras, ketenangan, dan mimpi yang menjadi nyata.
RIP Diogo Jota (1996–2025)
Selamanya merah. Selamanya dikenang.