Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wimbledon Langgar Tradisi Demi Diogo Jota! Dunia Tenis dan Sepak Bola Menangis Bersama

Alfian Yusni • Jumat, 4 Juli 2025 | 16:39 WIB
Petenis ganda asal Portugal, Francisco Cabral, langsung menyatakan akan mengenakan pita hitam di pertandingan berikutnya. (Foto: instagram)
Petenis ganda asal Portugal, Francisco Cabral, langsung menyatakan akan mengenakan pita hitam di pertandingan berikutnya. (Foto: instagram)

LombokPost - Turnamen tenis tertua di dunia, Wimbledon, membuat keputusan mengejutkan dan menyentuh.

Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1877, Wimbledon melanggar tradisi ketatnya: pemain kini diizinkan mengenakan atribut hitam, seperti pita lengan, untuk menghormati wafatnya bintang Liverpool dan timnas Portugal, Diogo Jota.

Langkah ini merupakan penghormatan luar biasa dan sangat langka dari dunia tenis, yang selama hampir satu setengah abad dikenal kaku dalam aturan berpakaian serbaputih.

Francisco Cabral Jadi Simbol Duka di Lapangan

Petenis ganda asal Portugal, Francisco Cabral, langsung menyatakan akan mengenakan pita hitam di pertandingan berikutnya.

Cabral mengaku terkejut dan terpukul dengan kabar wafatnya Jota, terutama karena mereka berasal dari kota yang sama, Porto.

"Ini bukan sekadar duka bagi sepak bola, tapi juga duka bagi seluruh dunia olahraga Portugal," ujar Cabral dikutip dari TalkSport. "Saya akan mengenakan pita hitam sebagai bentuk penghormatan untuk Diogo."

Kecelakaan Tragis yang Mengguncang Portugal dan Dunia

Diogo Jota, 28, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil tragis di Zamora, Spanyol, bersama saudaranya, André Silva.

Keduanya dikabarkan sedang dalam perjalanan menuju Portugal saat mobil Lamborghini yang mereka tumpangi mengalami pecah ban dan terguling.

Kabar duka ini langsung mengguncang dunia sepak bola. Klub Liverpool, Federasi Sepak Bola Portugal, bahkan UEFA langsung menyampaikan belasungkawa.

Baca Juga: Diogo Jota Berpulang, Liverpool : Kami Sangat Terpukul

Sejumlah pertandingan sepak bola Eropa menggelar satu menit hening untuk mengenang Jota dan Silva.

Solidaritas Lintas Cabang Olahraga

Ungkapan duka juga datang dari para bintang besar tenis dunia. Rafael Nadal dan Carlos Alcaraz menyampaikan belasungkawa melalui media sosial.

“Semua cinta dan doa saya untuk keluarganya. Istirahatlah dengan damai, Jota,” tulis Nadal.

Langkah Wimbledon yang mengizinkan atribut hitam menunjukkan bahwa solidaritas olahraga bisa melampaui batas cabang dan tradisi. Hal ini menjadi simbol bahwa saat duka datang, dunia bersatu.

Simbol Sederhana, Makna Mendalam

Dengan tradisi yang sangat ketat, perubahan kecil di Wimbledon memiliki makna besar. Pita hitam yang dikenakan para petenis bukan hanya tanda belasungkawa, tetapi juga bentuk solidaritas universal dari dunia tenis kepada dunia sepak bola.

Langkah ini dipandang sebagai bentuk empati dan kemanusiaan yang menyentuh jutaan hati, terlebih mengingat ketenaran dan kerendahan hati sosok Diogo Jota.

Wimbledon Pecah Tradisi, Dunia Tenis Menangis

Perubahan aturan di Wimbledon ini dinilai banyak pihak sebagai momen bersejarah. Tradisi serbaputih selama 148 tahun akhirnya dilonggarkan demi sebuah nilai: kemanusiaan.

Wimbledon, Diogo Jota, dan pita hitam menjadi simbol menyatunya hati-hati dalam olahraga. Saat aturan bisa dikesampingkan demi rasa kemanusiaan, dunia pun menaruh hormat.

Wimbledon, dunia tenis, dan dunia sepak bola kini berduka bersama. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa, tetapi juga menyatukan dunia dalam solidaritas.

 

Diogo Jota mungkin telah tiada, namun namanya kini terpatri dalam sejarah olahraga dunia—bahkan dalam catatan Wimbledon yang terkenal tak mudah berubah. (***)

Editor : Alfian Yusni
#Berbagai sumber