LombokPost - Federasi Pingpong Masyarakat Seluruh Indonesia (FPMSI) mungkin tergolong baru di kancah olahraga rekreasi nasional, namun semangatnya tak terbendung. Sebagai salah satu induk organisasi olahraga (Inorga) di bawah Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), FPMSI kini mulai menorehkan sejarah, termasuk debut suksesnya di FORNAS VIII NTB 2025.
Seiring dengan semakin populernya olahraga rekreasi di Indonesia, KORMI terus berkembang menjadi payung besar bagi berbagai Inorga. Salah satu yang relatif baru namun menunjukkan potensi besar adalah FPMSI.
Kehadiran FPMSI di bawah KORMI menjadi bukti nyata bahwa olahraga pingpong, yang dikenal luas di tengah masyarakat, kini memiliki wadah resmi untuk pengembangan dan kompetisi di tingkat nasional.
”FPMSI memiliki beberapa perbedaan dengan olahraga tenis meja yang masuk dalam cabor prestasi,” ujar Technical Delegate FPMSI Indra Safari.
Indra menjelaskan dalam FPMSI ada dua kategori yang dipertandingkan. Yakni Tradisional dan Non Tradisional. Khusus untuk kategori Tradisional masih banyak mengadopsi mekanisme pada cabor tenis meja prestasi.
”Kalau Non Tradisional ini bedanya dari bet yang dipergunakan. Bet FPMSI lebih besar daripada tenis meja konvensional,” tuturnya.
Selain itu, untuk pegiat yang boleh bergabung dalam FPMSI adalah pegiat yang tidak pernah berpartisipasi dalam olahraga prestasi dan meraih prestasi. ”Jadi siapapun boleh masuk FPMSI. Dari usia dini sampai dewasa asalkan mereka tidak pernah berprestasi di cabor prestasi tenis meja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Indra mengatakan berdasarkan hasil FORNAS VIII NTB 2025 ini, pihaknya akan melakukan beberapa penyesuaian lagi. Termasuk dari segi aturan main dan administrasi lainnya.
Dengan bergabungnya FPMSI ke dalam KORMI, olahraga pingpong masyarakat kini memiliki platform yang lebih terstruktur untuk pengembangan.
Peran FPMSI meliputi standarisasi aturan main, pengembangan pelatih dan wasit, hingga penyelenggaraan kompetisi yang teratur.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas permainan pingpong di kalangan masyarakat, sekaligus menjaring bakat-bakat baru yang mungkin belum terjamah oleh induk olahraga prestasi. (puj)
Editor : Pujo Nugroho