Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Aryna Sabalenka Ungkap Alasan Berhenti dari Psikolog Olahraga, Pilih Kendalikan Emosi Sendiri

Rury Anjas Andita • Kamis, 11 September 2025 | 18:21 WIB
Aryna Sabalenka ungkap alasan berhenti dari psikolog olahraga. Nomor 1 dunia itu pilih kendalikan emosi sendiri dan catat rekor tiebreak.
Aryna Sabalenka ungkap alasan berhenti dari psikolog olahraga. Nomor 1 dunia itu pilih kendalikan emosi sendiri dan catat rekor tiebreak.

LombokPost - Petenis nomor 1 dunia Aryna Sabalenka akhirnya buka suara soal keputusannya berhenti berkonsultasi dengan psikolog olahraga.

Dalam wawancaranya di Podcast Jay Shetty, Aryna Sabalenka juara AS Terbuka dua kali berturut-turut itu mengaku ingin mengambil alih kendali atas emosinya sendiri.

“Saya berkonsultasi dengan psikolog olahraga selama empat atau lima tahun. Kami melakukan semacam meditasi, banyak hal di awal karir saya, tetapi kemudian saya menyadari bahwa saya sangat bergantung padanya. Saya berharap dia akan memperbaiki masalah dan emosi saya, tetapi saya justru mengulangi kesalahan yang sama berulang kali,” kata Aryna Sabalenka dilansir dari wtatennis.com.

Menurut Sabalenka, keputusan berhenti dari psikolog olahraga justru membantunya tumbuh lebih kuat secara mental. Ia merasa lebih seimbang setelah mulai bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

“Saya mulai mengendalikan emosi saya dengan jauh lebih baik, dan rasanya lebih seimbang ketika saya mengambil tanggung jawab itu,” ujarnya.

Langkah tersebut terbukti ampuh. Sabalenka sukses mempertahankan gelar Grand Slam keempatnya dengan mengalahkan Amanda Anisimova di final AS Terbuka.

Petenis Belarusia itu bahkan mencatat rekor luar biasa dengan memenangkan 19 tiebreak beruntun di Era Terbuka, sebuah pencapaian yang menegaskan kekuatan mentalnya.

Meski kini lebih percaya diri tanpa bantuan psikolog olahraga, Sabalenka tidak menutup kemungkinan kembali menggunakan jasa psikolog di masa depan, sekaligus menambahkan meditasi ke rutinitasnya.

“Bisa membawa pertarungan dan mampu menangani emosi saya seperti yang saya lakukan di final ini, itu sangat berarti. Saya sangat bangga pada diri saya sendiri saat ini,” tegasnya.

Dengan pencapaian gemilang ini, Aryna Sabalenka semakin dikenal bukan hanya karena pukulan kerasnya di lapangan, tetapi juga karena mental baja yang ia bangun melalui pilihan berani: berhenti dari psikolog olahraga dan menemukan jalannya sendiri.

Editor : Rury Anjas Andita
#grand slam #petenis nomor 1 dunia #Aryna Sabalenka #psikolog olahraga