Dengan tujuh gelar di kelas utama, Marc kini menyamai rekor legenda MotoGP, Valentino Rossi, dan hanya terpaut satu gelar dari rekor 500cc/MotoGP milik Giacomo Agostini. Di usianya yang masih 32 tahun, peluang Marc untuk melampaui rekor tersebut terbuka lebar.
Namun, yang paling berarti, gelar juara ketujuh ini mengakhiri penantian panjang Marc selama enam tahun. Ia tercatat harus menunggu 2.184 hari sejak terakhir kali meraih gelar pada 2019 silam. Masa penantian itu diwarnai perjuangan keras melawan cedera patah lengan di Jerez pada 2020 serta performa motor Honda yang terus menurun.
Perjuangan emosional tersebut tampak jelas. Marc terlihat menitikkan air mata saat comeback merayakan gelar. “Saya bahkan tidak bisa berkata-kata,” kata Marc saat track interview usai balapan. “Ini momen yang sangat sulit, tapi sekarang saya merasa damai dengan diri sendiri. Saya membuat kesalahan besar dengan kembali terlalu cepat dari cedera, tapi saya terus berjuang dan akhirnya menang lagi,” paparnya.
Bagnaia Menang, Sorotan Tetap untuk Marc
Marc finis di posisi kedua di Motegi, terpaut 4,196 detik dari rekan satu timnya, Francesco Bagnaia, yang meraih kemenangan kedua musim ini. Posisi runner-up ini sudah lebih dari cukup bagi Marc, sebab ia hanya perlu finis dengan selisih tidak kalah dari tujuh poin dari pesaing terdekatnya, pembalap Gresini Ducati, Alex Marquez, yang kemarin harus puas berada di posisi keenam.
Seusai balapan, Bagnaia mengaku memberikan ruang bagi Marc untuk merayakan. “Saya agak malu dengan apa yang saya alami sekarang. Tapi bagaimanapun juga, saya senang untuk akhir pekan ini, senang untuk performa Marc, dan saya harap mulai sekarang saya akan terus seperti ini karena dengan begini saya bisa berjuang,” papar Bagnaia.
Editor : Redaksi Lombok Post