Di tengah euforia masyarakat Indonesia, FIFA menegaskan belum ada satu pun hasil resmi yang dirilis.
Ramainya unggahan di media sosial menyebut Ridho sedang memimpin perolehan suara.
Tangkapan layar yang beredar bahkan menampilkan angka 608.724 suara untuk pemain Persija itu, mengungguli Lamine Yamal yang diklaim meraih 562.027 suara.
Nama-nama lain seperti Declan Rice, Gonzalo Montiel, dan Pedro de La Vega turut dicantumkan dalam daftar tersebut.
Namun, seluruh angka itu disebarkan tanpa tautan atau sumber resmi dari platform voting FIFA.
Ridho masuk nominasi Puskas Award 2025 berkat gol jarak jauh ke gawang Arema, 9 Maret lalu.
Tendangan spekulatif yang melambung sebelum meluncur tepat ke bawah mistar itu menjadi sorotan dunia karena dieksekusi oleh seorang bek. Meski Persija kalah 3-1, aksi Ridho tetap dianggap salah satu gol terbaik tahun ini.
Saingannya, Lamine Yamal, juga mencuri perhatian lewat gol melengkung kaki kiri yang membantu Barcelona menang 2-0 atas Espanyol pada 15 Mei 2025.
Di balik antusiasme publik Indonesia, proses penilaian Puskas Award ternyata tidak sesederhana hitungan jumlah pemilih terbanyak.
Dalam dokumen resmi, FIFA menegaskan tidak akan memublikasikan hasil sementara selama voting berjalan. Pengumuman baru dilakukan setelah masa pemungutan suara ditutup.
Voting publik untuk Puskas Award 2025 berlangsung 13 November–3 Desember 2025 pukul 23.59 CET. Artinya, seluruh perolehan suara yang beredar di media sosial sebelum tanggal tersebut bukanlah hasil resmi.
FIFA juga menjelaskan mekanisme penilaiannya: suara fans dan panel FIFA Legends masing-masing memiliki bobot setengah dari total nilai akhir.
Setiap pemilih wajib memberi tiga pilihan dengan sistem poin 5–3–1. Setelah itu, FIFA mengonversinya ke sistem skor grup, di mana peringkat pertama mendapat 13 poin dan peringkat terakhir satu poin.
Dengan mekanisme berlapis ini, jumlah pemilih terbesar tidak otomatis menentukan pemenang. Bahkan jika terjadi hasil imbang, FIFA menyiapkan beragam tiebreaker, mulai dari akumulasi poin fans hingga keputusan panel FIFA Legends.
FIFA pun berhak membatalkan suara yang dianggap tidak wajar atau melanggar etika. Karena itu, proses perhitungan dilakukan tertutup hingga tuntas.
Situasi ini menjelaskan mengapa angka-angka yang tersebar di jagat maya sulit dipastikan kebenarannya. Meski dukungan terhadap Ridho luar biasa besar, acuan yang sahih tetap berasal dari kanal resmi FIFA.
Hingga mendekati penutupan voting, pernyataan resmi yang berlaku adalah satu: proses masih berjalan dan belum ada hasil sementara yang diumumkan. Publik diminta berhati-hati menerima klaim yang beredar tanpa verifikasi.
Pendukung Ridho masih memiliki kesempatan hingga 3 Desember 2025 untuk memberikan suara. Sementara itu, memantau laman resmi FIFA menjadi langkah paling valid agar tidak terseret informasi menyesatkan. (*)
Editor : Marthadi