Lombok Post- Pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso, meluapkan kekesalannya terhadap format kualifikasi Piala Dunia zona Eropa yang dianggap tidak adil bagi negara-negara besar.
Gattuso menilai sistem kualifikasi Piala Dunia Eropa saat ini membuat Italia, meski sudah memenangkan enam pertandingan dan mengumpulkan 18 poin, masih harus melalui babak play-off untuk mendapatkan tiket ke putaran final.
Menurutnya, situasi ini tidak masuk akal bagi tim yang sudah tampil konsisten sepanjang fase grup.
Gattuso menyebut bahwa pada eranya, juara grup dan sejumlah runner-up terbaik dapat lolos langsung tanpa harus menjalani mekanisme tambahan.
Ia menyoroti betapa anehnya Italia tetap menghadapi dua pertandingan lagi meski capaian mereka sudah tergolong kuat.
Bagi Gattuso, sistem kualifikasi Piala Dunia Eropa kini terlalu membebani tim-tim besar yang seharusnya mendapatkan jalur lebih adil berdasarkan performa.
Ia juga menyoroti ketimpangan antar-konfederasi.
Gattuso membandingkan format UEFA dengan Conmebol, di mana enam dari sepuluh tim lolos langsung dan peringkat ketujuh hanya menghadapi wakil Oseania di play-off.
Menurutnya, format tersebut jauh lebih logis dibanding mekanisme Eropa yang semakin rumit.
Dalam pandangannya, sistem yang berlaku saat ini membuat peluang Italia menuju Piala Dunia tidak seimbang dengan kualitas dan prestasi yang sudah mereka tunjukkan.
Gattuso juga menyinggung perubahan peta kuota di Piala Dunia dari benua lain, seperti Afrika yang kini mendapatkan sembilan slot, meningkat signifikan dari era 1990-an.
Menurutnya, perubahan kuota global seharusnya diiringi dengan penyesuaian sistem di Eropa agar tetap mencerminkan keadilan kompetitif.
Ia menegaskan bahwa pandangannya bukan bentuk kontroversi, melainkan kenyataan bahwa Italia menghadapi kesulitan besar akibat format kualifikasi yang dianggap tidak proporsional.
Meski geram, Gattuso menyatakan bahwa seluruh tim tetap fokus meraih tiket Piala Dunia melalui jalur apa pun.
Namun ia menegaskan bahwa sistem kualifikasi Piala Dunia Eropa perlu dievaluasi ulang agar tim-tim besar seperti Italia tidak dirugikan meski sudah menorehkan hasil maksimal sepanjang fase grup.
Sorotannya sekaligus memperkuat perdebatan panjang tentang urgensi reformasi format kualifikasi di benua biru.
Editor : Kimda Farida