LombokPost - Nama Muhammad Azwar mendadak jadi perbincangan hangat di jagat olahraga nasional. Atlet Lombok Tengah asal Desa Muncan, Kecamatan Kopang ini sukses membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mendunia. Lewat ajang SEA Games 2025 Thailand, Azwar berhasil menyumbangkan medali perunggu bagi Indonesia di cabang olahraga teqball.
Perjalanan Muhammad Azwar menuju podium SEA Games 2025 Thailand tidaklah mudah. Sebelum dikenal sebagai pahlawan olahraga dari NTB, ia adalah seorang pemuda desa yang kesehariannya jauh dari kemewahan. Keraguan dari orang tua hingga warga sekitar sempat mengiringi langkah awalnya saat menekuni olahraga teqball yang tergolong baru.
"Dulu memang sempat diragukan, termasuk sama orang tua sendiri. Tapi alhamdulillah, berkat pembuktian dan kerja keras, sekarang sudah dipercaya dan didukung penuh," kenang Muhammad Azwar saat menceritakan perjuangannya.
Siapa sangka, di balik kegigihannya di lapangan, atlet Lombok Tengah ini adalah seorang anak yang sangat berbakti. Sebelum berangkat latihan, Azwar memiliki rutinitas wajib yakni menyabit rumput untuk pakan ternak milik keluarganya. Disiplin waktu antara membantu orang tua dan mengejar mimpi di dunia olahraga teqball inilah yang membentuk mental bajanya.
"Pulang sekolah nyabit rumput dulu, habis itu baru latihan. Kalau belum dapat rumput, belum boleh pergi latihan," ujar Azwar sambil tersenyum.
Kedisiplinan ini rupanya menjadi modal kuat bagi Muhammad Azwar dalam menghadapi tekanan mental di level SEA Games 2025 Thailand.
Di ajang bergengsi tersebut, Muhammad Azwar turun di nomor mixed double berpasangan dengan Sumaya, atlet asal Riau. Pasangan ini tampil sangat kompetitif sejak fase grup. Mereka berhasil menumbangkan negara-negara kuat seperti Filipina, Malaysia, hingga Laos. Ketangguhan Azwar di lapangan teqball membuat Indonesia disegani lawan.
Namun, langkah mereka menuju final terhenti di babak semifinal saat menghadapi Myanmar. Muhammad Azwar mengaku sempat mengalami cedera pergelangan kaki yang cukup serius di tengah pertandingan. Meski menahan sakit, ia tetap berjuang habis-habisan hingga akhirnya berhasil mengamankan medali perunggu SEA Games untuk dibawa pulang ke Lombok Tengah.
"Kaki saya sempat terkilir di lapangan saat lawan Myanmar. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Alhamdulillah, medali perunggu ini untuk Indonesia dan keluarga di desa," ucapnya.
Kebanggaan luar biasa juga dirasakan oleh Makmun, ayah kandung Muhammad Azwar. Ia tak pernah menyangka anak bungsunya yang setiap hari bergelut dengan sabit dan sapi bisa terbang ke Thailand dan mengharumkan nama bangsa. Di mata sang ayah, Azwar adalah sosok pekerja keras yang tak pernah mengeluh meski harus membagi waktu antara sawah dan lapangan.
"Sehari-hari dia nyabit, kasih makan sapi, habis itu sore pasti pergi latihan. Tidak pernah berhenti. Sebagai orang tua, rasanya campur aduk, senang dan bangga sekali melihat dia di TV," kata Makmun dengan nada haru.
Kini, setelah sukses di SEA Games 2025 Thailand, Muhammad Azwar tidak ingin cepat puas. Atlet Lombok Tengah ini menargetkan prestasi yang lebih tinggi di ajang internasional lainnya seperti ASEAN Beach Games. Kisah Azwar adalah bukti nyata bahwa dari desa terpencil di pelosok NTB, lahir mutiara yang mampu membuat bendera Merah Putih berkibar di kancah Asia Tenggara.
Editor : Pujo Nugroho