Angka tersebut melampaui catatan musim lalu yang berada di kisaran tiga juta penonton. CEO Dorna Sports, Carmelo Ezpeleta, menyebutkan bahwa musim 2025 merupakan salah satu periode paling sukses bagi pertumbuhan MotoGP secara global.
“Musim ini luar biasa, dengan angka penonton yang memecahkan rekor dan balapan-balapan yang tak terlupakan. Angka 3,6 juta menunjukkan MotoGP terus tumbuh secara global tanpa kehilangan akarnya,” ujar Ezpeleta, dikutip dari Motorsport.
Lonjakan jumlah penonton secara signifikan terpantau bersumber dari seri-seri di Benua Eropa. Grand Prix Prancis yang digelar di Sirkuit Le Mans pada Mei lalu menjadi primadona utama dengan total 311.797 penonton. Jumlah ini sekaligus menjadi rekor kehadiran penonton terbanyak untuk satu seri dalam sejarah MotoGP.
Selain Le Mans, beberapa sirkuit legendaris Eropa lainnya juga mencatatkan pertumbuhan pesat:
Sirkuit Sachsenring (Jerman): Menarik sebanyak 256.441 penonton.
Sirkuit Jerez (Spanyol): Mencatat 224.420 penonton, angka tertinggi di sirkuit tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Sirkuit Assen (Belanda): Mencetak sejarah dengan melampaui angka 200.000 penonton untuk pertama kalinya pada Juni lalu.
Baca Juga: SHARK dan MotoGP Resmi Berkolaborasi, Helm Berlisensi MotoGP Hadir Mulai 2026
Pertumbuhan Pasar Asia Tenggara dan Mandalika
Di luar kawasan Eropa, Asia Tenggara kembali mempertegas perannya sebagai pasar kunci MotoGP.
Sirkuit Mandalika di Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dengan menarik 140.324 penonton, atau meningkat sekitar 20.000 penonton dibandingkan musim sebelumnya.
Pertumbuhan serupa juga terjadi di Sirkuit Buriram, Thailand, yang mencatatkan kenaikan dari 205.343 penonton pada 2024 menjadi 224.634 penonton pada musim ini.
Sementara itu, Sirkuit Sepang (Malaysia) dan Phillip Island (Australia) juga mengalami kenaikan meski dalam skala yang lebih moderat.
Dari total 22 seri yang diselenggarakan, hanya dua sirkuit yang mengalami penurunan jumlah penonton, yakni Silverstone (Inggris) dan Spielberg (Austria).
Di Austria, penurunan terjadi akibat kebijakan pembatasan kapasitas demi alasan keselamatan. Sedangkan di Inggris, faktor cuaca ekstrem dan kendala infrastruktur menjadi penyebab utama berkurangnya animo penonton di lokasi.
Editor : Redaksi Lombok Post