LombokPost – Dominasi juara Australian Open seperti Jannik Sinner dan Aryna Sabalenka terus menjadi tolok ukur bagi generasi berikutnya. Namun, Australian Open 2026 dipastikan tak hanya menjadi panggung para raja dan ratu lama. Turnamen Grand Slam pembuka musim itu juga akan menjadi arena unjuk gigi tujuh bintang muda yang siap mengguncang Melbourne Park.
Seiring terciptanya pencapaian yang dulunya terasa mustahil — seperti 24 gelar Grand Slam Novak Djokovic — keyakinan generasi baru pun tumbuh. Dan di Australian Open 2026, harapan-harapan besar itu hadir dalam wujud nyata.
Berikut tujuh bintang muda Australian Open 2026 yang patut mendapat sorotan.
Joao Fonseca, Bintang Generasi Baru
Sekali atau dua kali dalam satu dekade, tenis melahirkan talenta generasi. Joao Fonseca adalah salah satunya.
Dunia mendapat gambaran jelas di Australian Open 2025, ketika petenis Brasil berusia 18 tahun ini mengejutkan peringkat 9 dunia Andrey Rublev dalam dua set langsung. Yang membuat Fonseca istimewa bukan sekadar hasil, melainkan ketenangan dan kematangannya di Rod Laver Arena.
Musim 2025 menjadi bukti konsistensi itu. Fonseca meraih gelar ATP di Basel dan Buenos Aires, serta menutup musim di peringkat 24 dunia — sebuah lonjakan besar menuju Australian Open 2026.
Mirra Andreeva, Remaja dengan Paket Lengkap
Nama Mirra Andreeva sudah terasa seperti gelombang besar sejak 2024. Pada usia 16 tahun, ia mencuri perhatian di Australian Open dan Roland Garros.
Tahun 2025 menjadi titik lonjakan: gelar WTA 1000 Dubai dan Indian Wells, mengalahkan empat juara Grand Slam, lalu perempat final Wimbledon. Kini, Andreeva berada di peringkat 5 dunia.
Di balik kematangannya, ada pendekatan tak biasa.“Ketika saya merasa gugup atau ingin mengingatkan diri saya tentang sesuatu, saya membuka buku catatan,” kata Andreeva kepada Tennis Channel.
Dengan Conchita Martinez di sudutnya, Andreeva menjadi ancaman serius di Australian Open 2026.
Victoria Mboko, Fenomena Baru
Victoria Mboko mencetak sejarah dengan menjuarai Canadian Open, menjadi pemain termuda kedua di Era Terbuka yang mengalahkan empat juara Grand Slam dalam satu turnamen.
Petenis Kanada berusia 19 tahun ini mengakhiri 2025 di peringkat 18 dunia, setelah memenangi WTA 250 Hong Kong dan mencatat 60 kemenangan dari 75 pertandingan.
“Saya bermain dengan pemain top sekarang jadi saya akan menang dan kalah dalam banyak pertandingan,” katanya kepada Olympics.com.
“Saya masih bersemangat dan merupakan suatu kehormatan untuk bermain melawan pemain-pemain seperti ini,” ujarnya.
Jakub Mensik, Kekuatan dari Baseline
Jakub Mensik memperkenalkan diri lewat kejutan besar: menjuarai Miami Open, mengalahkan Jack Draper, Taylor Fritz, dan Novak Djokovic.
Petenis setinggi 195 cm ini mengandalkan servis keras dan reli panjang, mirip Alexander Zverev atau Daniil Medvedev. Kini di peringkat 19 dunia, gaya bermainnya sangat cocok dengan karakter lapangan Melbourne Park di Australian Open 2026.
Maya Joint, Harapan Tuan Rumah
Maya Joint resmi menjadi petenis putri nomor 1 Australia. Musim penuh pertamanya di WTA menghasilkan dua gelar di Eastbourne dan Rabat, lima semifinal, serta 52 kemenangan.
Pelatihnya, Chris Mahony, menekankan kunci kesuksesan Joint. “Maya sangat konsisten di semua permukaan,” kata Mahony. “Kemenangan di Eastbourne membuatnya percaya bahwa dia pantas berada di peringkat 100 teratas,” tegasnya.
Kini, peringkat 32 dunia menempatkan Joint sebagai unggulan potensial di Australian Open 2026.
Learner Tien, Petarung Cerdas
Berbeda dari Fonseca atau Mensik, Learner Tien mengandalkan kecerdikan, pertahanan, dan daya tahan.
Di Australian Open 2025, ia menyingkirkan Daniil Medvedev dalam duel hampir lima jam — salah satu laga paling dramatis turnamen.
“Rasanya menyenangkan bisa menemukan cara untuk melewati pertandingan di mana Anda tidak merasa dalam kondisi terbaik,” kata Tien kepada atptour.com.
Clara Tauson, Servis dan Keberanian
Clara Tauson membuka 2025 dengan mengejutkan dua juara Australian Open di Auckland, lalu mencapai final WTA 1000 Dubai setelah menumbangkan Aryna Sabalenka dan Karolina Muchova.
Dengan 358 ace sepanjang musim dan gaya agresif, petenis Denmark ini menutup tahun di peringkat 12 dunia.
“Saya ingin menjadi tipe pemain yang memiliki servis bagus dan pukulan-pukulan keras seperti Petra Kvitova,” kata Tauson. “Saya benar-benar yakin saya bisa menjadi pemain tipe itu,” tegasnya.
Editor : Rury Anjas Andita