LombokPost-Kehadiran bus wisata berkapasitas sekitar 40 penumpang yang melintas di lintasan Sirkuit Internasional Mandalika sempat menyita perhatian publik.
Tak sedikit yang merasa kagum, namun sebagian lainnya mempertanyakan keamanan aspal sirkuit yang setiap tahun digunakan ajang MotoGP, ketika dilalui kendaraan seberat kurang lebih 17 ton.
Menanggapi hal tersebut, Track, Race Electronic, and Motorsport Manager Sirkuit Internasional Mandalika, Muhammad Awallutfi Andhika Putra, menegaskan bahwa aktivitas bus wisata tersebut aman dan tidak merusak lintasan.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian resmi dari Mandalika Experience yang digagas Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dan telah melalui kajian teknis mendalam.
“Pertanyaan masyarakat itu wajar. Namun jika dilihat dari sisi teknik sipil, fisika, dan praktik motorsport internasional, aktivitas bus di lintasan justru menunjukkan bahwa Sirkuit Mandalika dibangun dengan standar kelas dunia,” ujar Dhika sapaannya, Kamis (8/1).
Ia menjelaskan, membawa bus masuk ke lintasan sirkuit bukanlah hal baru dalam dunia balap internasional. Sejumlah sirkuit ternama dunia telah lama menerapkan program serupa, seperti Circuit Safari pada ajang Super GT di Jepang, di mana tamu VIP diajak berkeliling lintasan menggunakan bus, bahkan bersamaan dengan sesi warm-up mobil balap kelas berat.
“Apa yang kami lakukan di Mandalika bukan eksperimen, melainkan adopsi praktik standar internasional yang lazim diterapkan di banyak sirkuit dunia,” tegasnya.
Dari sisi teknis, lintasan Sirkuit Mandalika dirancang sejak awal dengan mengacu pada berbagai standar internasional, seperti European Norm (EN), ASTM, AASHTO, serta standar nasional Binamarga dan SNI.
Proses konstruksinya juga diawasi konsultan sirkuit internasional berpengalaman, yakni MRK1 dan Dromo, yang sebelumnya terlibat dalam pembangunan sirkuit Yas Marina, Buriram, hingga Zandvoort.
Aspal Mandalika menggunakan tipe flexible pavement berkualitas tinggi, yang mampu menahan tekanan hingga 150 kg/cm² pada suhu 25–30 derajat Celsius, serta tetap kuat menahan tekanan 100 kg/cm² pada suhu lintasan 40–60 derajat Celsius.
“Secara kasat mata bus memang terlihat berat, namun bebannya terbagi ke enam roda dengan bidang sentuh ban yang luas. Tekanan riil yang diterima aspal hanya sekitar 3–4 kg/cm², atau tidak sampai lima persen dari kapasitas maksimal lintasan,” jelas Andhika.
Ia menambahkan, tekanan ban motor MotoGP saat pengereman dan akselerasi ekstrem berada di kisaran 2,7–3,6 kg/cm². Artinya, tekanan yang dihasilkan bus wisata yang melaju dengan kecepatan rendah di lintasan hampir setara dengan tekanan motor MotoGP saat kondisi balap ekstrem.
“Jika lintasan ini dirancang aman untuk MotoGP, maka secara teknis sangat aman pula untuk dilalui bus wisata,” ujarnya.
Selain aspek teknis dan fisika, MGPA juga menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. Setiap bus yang masuk lintasan wajib melalui inspeksi menyeluruh dengan prinsip zero leakage untuk memastikan tidak ada cairan seperti oli, bahan bakar, minyak rem, maupun cairan pendingin yang menetes ke aspal.
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria, menegaskan bahwa setiap aktivitas di Sirkuit Mandalika selalu mengutamakan keselamatan dan kualitas lintasan.
Menurutnya, Sirkuit Mandalika dibangun dengan standar internasional dan setiap kegiatan yang dilakukan telah melalui kajian teknis yang matang.
“Lintasan ini dirancang untuk menghadapi tekanan ekstrem MotoGP. Jika aman untuk balapan kelas dunia, tentu aman pula untuk bus wisata yang melintas dengan pengawasan dan SOP ketat,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa