LombokPost – Elina Svitolina menorehkan kisah spesial di ASB Classic Auckland. Petenis Ukraina itu bukan hanya meraih gelar juara, tetapi juga menyamai pencapaian sang suami, Gael Monfils, yang menjuarai turnamen yang sama setahun sebelumnya. Tradisi keluarga di Auckland pun tercipta, lengkap dengan tekanan dan motivasi yang menyertainya.
Elina Svitolina, unggulan teratas, memastikan gelar ASB Classic Auckland setelah menundukkan Wang Xinyu (unggulan ke-7) dengan skor 6-3, 7-6 (6) pada final hari Minggu (11/1). Kemenangan ini membuat nama Elina Svitolina kembali bersinar di awal musim WTA Tour, sekaligus memperkuat cerita unik pasangan suami istri di tenis profesional.
“Ini sangat istimewa,” kata Svitolina setelah pertandingan. “Suami saya memenangkan gelar di sini tahun lalu. Dia berkata, 'Jika kamu tidak menang tahun ini, aku tidak tahu harus berkata apa," tambahnya.
Tekanan dari Orang Terdekat
Dalam wawancara dengan wtatennis.com, Svitolina mengakui bahwa keberhasilan Gael Monfils di Auckland menjadi sumber motivasi sekaligus tekanan tersendiri sepanjang turnamen ASB Classic.
“Sebelum turnamen, dia mengatakan kepada saya bahwa akan sangat luar biasa jika kami berdua memenangkan turnamen yang sama,” katanya sambil tertawa. “Dia tidak yakin apakah ini pernah terjadi sebelumnya.
“Tentu saja, saya selalu memikirkannya. Itu benar-benar memotivasi saya tetapi juga [menciptakan] sedikit tekanan. Saya mencoba melakukan yang terbaik untuk mendapatkan gelar ini,” sambungnya.
Untuk sementara waktu, Svitolina dan Monfils sama-sama berstatus juara bertahan di Auckland. Monfils, petenis Prancis berperingkat 64 dunia, dijadwalkan menghadapi Fabian Marozsan di babak pertama turnamen ATP, dengan Casper Ruud menanti di babak kedua. Pada usia 39 tahun, Monfils menyebut musim ini sebagai musim terakhir dalam karier profesionalnya.
Masuk Buku Sejarah
Kemenangan Svitolina di Auckland menempatkan pasangan ini dalam catatan sejarah tenis. Lebih dari setengah abad lalu, Chris Evert dan Jimmy Connors pernah menjuarai Wimbledon 1974 pada tahun yang sama, meski kala itu keduanya masih bertunangan.
Di lapangan, Svitolina tampil solid. Ia memenangi set pertama hanya dalam 32 menit, namun harus bekerja keras di set kedua menghadapi perlawanan gigih Wang Xinyu. Petenis Ukraina itu mencatat tujuh ace, tiga kesalahan ganda, serta memenangkan 74 persen poin dari servis pertama.
Momen penentu hadir di tiebreak set kedua. Tiga servis terakhir Svitolina tak mampu dikembalikan, mengunci gelar juara ASB Classic Auckland.
“Saya merasa seperti saya benar-benar melakukan servis dengan baik, “Saya bermain sangat baik hari ini,” kata Svitolina. “Itu membuat saya tetap bertahan dalam pertandingan di set kedua, lalu benar-benar membawa saya meraih kemenangan di akhir tiebreak. Tetap tangguh, berjuang untuk setiap poin, ya, itu membuat saya tetap bertahan dalam pertandingan,” tegasnya.
Kunci Kemenangan dan Kebangkitan Peringkat
Perbedaan utama laga final WTA Tour Driven by Mercedes-Benz ini terletak pada ketangguhan Svitolina menyelamatkan break point. Ia sukses menggagalkan keempat peluang break Wang, sementara lawannya hanya sekali kehilangan servis, yakni di gim keenam set pertama—momen krusial yang menentukan arah pertandingan.
Gelar ini terasa makin manis karena Svitolina sempat kalah di final Auckland 2024 dari Coco Gauff. Kini, ia mengoleksi rekor 9-1 di Auckland, sekaligus meraih gelar ketiga sejak menjadi ibu. Dua gelar sebelumnya diraih di Strasbourg (2023) dan Rouen (2025).
Kemenangan di ASB Classic Auckland juga berdampak langsung pada peringkat dunia. Svitolina naik dari peringkat 13 ke peringkat 12 WTA, mendekati kembali 10 besar dunia untuk pertama kalinya sejak menjadi ibu pada 2021. Ia kini termasuk salah satu dari lima pemain tertua di jajaran elite, dengan hanya Jessica Pegula yang lebih senior.
Editor : Rury Anjas Andita