Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Olahraga Padel Menjelma jadi Demam Baru Masyarakat Urban Kuta Mandalika

Lestari Dewi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:52 WIB
Sejumlah wisatawan asing sedang serius berolahraga padel di salah satu lapangan La Reunion Padel Club di Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah.
Sejumlah wisatawan asing sedang serius berolahraga padel di salah satu lapangan La Reunion Padel Club di Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah.

 

LombokPost-Sepintas, ia terlihat seperti tenis yang “dipadatkan”. Namun, begitu bola memantul liar di dinding kaca dan raket tanpa senar mulai beradu, padel segera menunjukkan jati dirinya yang berbeda.

Awal tahun 2026, lapangan-lapangan kaca di sudut Kuta, Pujut, Lombok Tengah (Loteng) tak pernah sepi. Ada tawa yang pecah di setiap reli, menandakan bahwa olahraga ini bukan sekadar urusan membakar kalori, melainkan ruang interaksi sosial baru.

Namun, di balik dentuman bola yang kian popular, terselip sebuah label yang sulit lepas “tenisnya orang kaya”. Stigma ini tidak muncul tanpa alasan.

Balutan gaya hidup urban, pakaian olah raga yang modis, hingga fasilitas lapangan yang eksklusif dan estetik membuat masyarakat awam seringkali memandang padel dari balik batas tembok tinggi.

Olahraga ini seolah-olah hanya menjadi milik kaum ekspatriat atau mereka yang berada di lingkaran kelas menengah atas yang mendambakan status di media sosial. Meski demikian, benarkan padel se-eksklusif itu?

Stigma ini dibantah tegas oleh Manager La Reunion Padel Club Johan Chris. Faktanya di lapangan, sekat-sekat itu mulai luruh. Padel justru menwarkan inklusivitas yang tidak memiliki tenis lapangan konvensional.

Padel jauh lebih mudah dipelajari oleh pemula, ramah bagi segala usia dan perlahan mulai merambah ke komunitas-komunitas yang lebih luas di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Investasi lapangan mulai masif di tahun ini, menunjukkan bahwa padel bukan lagi sekadar tren musiman bagi kaum elit. Melainkan sebuah industri kreatif dan olahraga prestasi yang sedang yang sedang mencari jalan menuju hati masyarakat luas.

Manager La Reunion Johan memaparkan, stigma yang masih berkembang tersebut adalah pemikiran konvensional. Bila disesuaikan dengan kebutuhan akan kesehatan, baik itu mahal atau tidak sebenarnya bukan menjadi persoalan.

Dia melihat, cukup banyak olahraga yang sangat terjangkau bahkan murah, tetapi masih ada sebagian orang tidak berolahraga agar sehat.

“Jadi mahalnya bukan pada produknya tapi niat diri sendiri,” katanya.

Jika peralatan padel ini dimurahkan, kata Johan, toh belum tentu juga masyarakat bermai-ramai mau olahraga. Daripada menjual terlalu murah, membuat olahraga dan kesehatan ini turun, olahraga padel pun dijual mahal. 

“Sehingga bisa dilihat siapa sih yang sungguh-sungguh ingin sehat atau cuma gaya-gayaan. Orang-orang yang serius dengan padel banyak, ingin menjadi pemain pro juga banyak. Bayangin kalau kita murahin, orang asal cuma main padel, tentu buat geram mereka yang sudah buang uang banyak untuk olahraga padel,” terangnya.

La Reunion Padel Club berlokasi di jalan wisata Desa Kuta, Pujut, Loteng. Berdiri di atas lahan seluas 40 are, La Reunion hadir pada akhir tahun 2023 di bulan Desember.

Saat itu, La Reunion hanya memiliki tiga lapangan padel hingga bertambah menjadi enam lapangan dan satu restoran di akhir tahun 2024.

“Sejak awal hadir La Reunion diramaikan oleh ekspatriat, dimana orang-orang ekspart yang menetap di Kuta untuk berbisnis, bekerja,” ucap pria asal Manado itu.

Hadirnya La Reunion di Kuta, Pujut, Loteng tentu bukan tanpa alasan. Pemilik fasilitas ini adalah warga negara asing (WNA), memiliki ide berupa belum hadirnya fasilitas olahraga padel di Loteng. Fasilitas ini cukup dikeluhkan WNA lain yang merukan kolega atau rekan kerja si pemilik. 

“Berawal untuk menyediakan fasilitas olahraga untuk komunitas sesama WNA, kemudian berkembang menjadi para wisatawan asing yang memang jadi pasar utama, barulah merambah warga lokal,” tuturnya.

Berbagai fasilitas pendukung dihadirkan oleh La Reunion, antara lain, handuk, shower, toilet, ruang loker bagi pengunjung, termasuk restoran. Seluruh fasilitas ini disiapkan gratis. Untuk berolahraga padel di La Reunion, tarif yang dikenakan pada pengunjung cukup beragam.

“Tarif untuk pengunjung yang memang datang berwisata, orang asing yang menetap hingga orang lokal. Untuk lokal per satu jam Rp 350 ribu, sedangkan orang asing menetap Rp 400 ribu per jam, dan turis Rp 440 ribu per jam,” beber Johan.

Kian berkembang dan diliriknya olahraga padel di Desa Kuta, kata Johan, La Reunion segera ekspansi ke dua lokasi baru, Selong Belanak dan Kota Mataram.

Memilih Selong Belanak karena melihat potensi wisata mulai berkembang, meski ini jadi pilihan terakhir, manajemen akan mengejar lokasi di Kota Mataram lebih dulu. 

“Selain penyebaran, kami ingin memenuhi standar dan menyajikan kualitas yang sama di Kota Mataram,” katanya.

Johan berharap, olahraga padel kian berkembang terpenting mereka yang berolahraga padel bukan sekadar fomo atau takut ketinggalan momen. Semakin banyak pihak-pihak membuat struktur lapangan padel sesuai standar dan sebagainya.

“Secara tidak langsung standar-satandar ini tercipta karena pasarnya sendiri,” kata Johan.

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #Kuta Mandalika #olahraga padel #Digandrungi