Penyerang Real Madrid itu gagal mengeksekusi penalti krusial setelah harus menunggu hingga 17 menit, sebuah momen yang disebut pelatih Maroko, Walid Regragui, sebagai faktor yang “mengganggu konsentrasi” sang pemain.
Maroko sejatinya mendapat penalti kontroversial pada menit kedelapan tambahan waktu usai VAR menilai El Hadji Malick Diouf melanggar Díaz di kotak terlarang.
Namun keputusan tersebut memicu kekacauan. Pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas instruksi pelatih Pape Thiaw, sebelum akhirnya kembali bermain setelah jeda sekitar 14 menit.
Secara total, Brahim Díaz dipaksa menunggu hampir 17 menit sebelum mengambil tendangan penalti.
Saat momen itu tiba, Díaz memilih eksekusi panenka, tetapi bola dengan mudah diamankan kiper Senegal, Édouard Mendy.
Senegal kemudian memastikan kemenangan di partai final lewat gol Pape Gueye pada menit keempat babak tambahan waktu. Gol itu sekaligus mengunci gelar juara bagi tim berjuluk Singa Teranga.
Kegagalan penalti tersebut menjadi akhir pahit bagi Díaz, meski secara individu ia tampil gemilang sepanjang turnamen. Pemain Real Madrid itu menutup kompetisi sebagai top skor dengan koleksi lima gol.
Pelatih Maroko, Walid Regragui, tak menampik bahwa situasi sebelum penalti memengaruhi anak asuhnya.
“Ia punya terlalu banyak waktu sebelum menendang penalti dan itu pasti mengganggunya,” kata Regragui, dikutip dari espn.com.
Namun Regragui menegaskan timnya tidak mencari-cari alasan. “Kami tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Itu pilihan Brahim dalam mengeksekusi penalti. Kami harus menerimanya dan melangkah ke depan.”
Regragui juga melontarkan kritik keras terhadap jalannya laga yang ia sebut “memalukan bagi Afrika”, merujuk pada aksi protes Senegal yang menghentikan pertandingan lebih dari 10 menit. Meski demikian, ia tetap menegaskan kegagalan penalti tersebut adalah tanggung jawab timnya.
“Situasi itu tidak membenarkan cara penalti dieksekusi. Kami harus mengakui bahwa Brahim gagal,” ujarnya.
Editor : Marthadi