Olimpiade Musim Dingin 2026 akan menjadi panggung besar Italia untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Ajang bertajuk Milano Cortina ini juga mencatat sejarah sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama yang digelar bersama oleh dua kota tuan rumah.
Bentangan lokasi dari pusat mode Milan hingga puncak dramatis Cortina d’Ampezzo akan menjadi latar bagi olahraga musim dingin kelas dunia yang sarat ambisi dan warisan sejarah Italia utara.
Sebanyak 16 cabang olahraga dan lebih dari 110 medali emas akan diperebutkan. Aksi kecepatan tinggi ski alpen dan bobsleigh akan berpadu dengan ketahanan dan strategi dalam biathlon serta ski lintas alam.
Sorotan utama kembali tertuju pada Mikaela Shiffrin, yang terus mendefinisikan ulang standar keunggulan di nomor teknik ski alpen.
Di arena seluncur indah, fenomena Amerika Serikat Ilia Malinin siap mencuri perhatian lewat lompatan-lompatan revolusionernya yang mengubah wajah olahraga tersebut.
Dari kubu Inggris, Lilah Fear dan Lewis Gibson membawa harapan untuk mengakhiri penantian panjang medali seluncur indah sejak legenda Jayne Torvill dan Christopher Dean pada 1994.
Balap sepatu es, termasuk nomor short track, akan menghadirkan drama dalam hitungan sepersekian detik, dengan bintang tuan rumah Arianna Fontana masih menjadi kekuatan dominan. Sementara itu, hoki es kembali menyuguhkan rivalitas panas dengan Kanada sebagai favorit abadi.
Tak ketinggalan, curling—dengan sapu khasnya—kembali membuktikan bahwa presisi dan strategi bisa sama menegangkannya dengan kekuatan fisik, dipimpin oleh Bruce Mouat dari Tim Britania Raya.
Olimpiade Milano Cortina 2026 bukan sekadar ajang olahraga, tetapi etalase ambisi Italia untuk kembali menjadi pusat perhatian dunia olahraga musim dingin. (Dikutip dari theguardian.com)
Editor : Marthadi