Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ayo Jadi King Asia, King Indo! Rotasi Pemain yang Terbatas Jadi Tantangan

Lombok Post Online • Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:17 WIB
Dengan lolos ke final untuk kali pertama, Indonesia sudah menorehkan sejarah. Agar bisa menorehkan sejarah yang lebih besar di final melawan Iran yang memenangi 13 dari 17 edisi Piala Asia.
Dengan lolos ke final untuk kali pertama, Indonesia sudah menorehkan sejarah. Agar bisa menorehkan sejarah yang lebih besar di final melawan Iran yang memenangi 13 dari 17 edisi Piala Asia.

LombokPost - SAMPAI ke semifinal saja sebenarnya tim nasional (timnas) futsal Indonesia sudah mencatat sejarah besar. Sebab, timnas melampaui raihan terbaik sebelumnya pada edisi Piala Asia Futsal 2022 yang hanya sampai perempat final.

Apalagi ketika kemudian timnas berhasil menaklukkan Jepang dan lolos ke final. Tentu saja, Muhammad Iqbal dkk akan menorehkan sejarah lebih besar lagi jika berhasil menundukkan Iran dalam partai puncak di Indonesia Arena, Jakarta, malam ini.

Pelatih Garuda Futsal Hector Souto sampai meneteskan air mata setelah pasukannya memastikan langkah ke final Kamis (5/2) pekan lalu. Ia mendedikasikan kemenangan bersejarah itu untuk keluarganya di Spanyol.

“Tapi, sekarang kami harus lanjut dan menyiapkan diri untuk final,” ujar Souto dengan suara bergetar.

Secara teknis, Souto menilai pertandingan melawan Jepang berjalan sesuai ekspektasi. Garuda tampil sangat solid di babak pertama dan mampu mengontrol ritme permainan dengan disiplin taktik yang tinggi.

Namun, situasi berubah di awal babak kedua. Saat unggul 2-0, Indonesia sempat kehilangan kontrol permainan karena bermain terlalu direct. Souto mengakui bahwa sebagian pemain mungkin merasa keunggulan tersebut sudah cukup.

“Melawan Jepang, Iran, dan tim-tim besar, skor 2-0 tidak pernah cukup,” tegasnya.

Dampak bentrok yang intens melawan Jepang, sejumlah penggawa Garuda Futsal mengalami masalah fisik. Beberapa pemain mengalami masalah engkel, benturan keras, hingga kram.

Indonesia juga menghadapi tantangan tambahan berupa rotasi pemain yang terbatas. Meski demikian, Souto tetap optimistis semua kendala itu bisa diatasi.

“Kuncinya sederhana. Makan dengan baik, tidur cukup, terapi, latihan pemulihan, lalu ulangi,” ujar Souto, merangkum filosofi persiapan final.

Tekanan di Iran. Di final, Indonesia akan menghadapi Iran, tim paling dominan dalam sejarah Piala Asia Futsal. Iran telah memenangkan 13 dari 17 edisi turnamen dan hanya menelan empat kekalahan sepanjang sejarah partisipasinya.

Secara kualitas individu dan fisik, Iran diakui unggul. Mereka memiliki pemain berpengalaman yang bermain di luar negeri dan sistem futsal yang matang sejak usia dini.

Namun, Souto menolak anggapan bahwa Indonesia datang ke final tanpa peluang. Menurutnya, justru Iran yang memikul tekanan lebih besar sebagai favorit dan pemilik tradisi juara.

“Tekanan itu bukan milik kami. Ini final pertama kami. Iran yang justru dituntut harus menang,” ujarnya.

Souto menekankan bahwa kunci menghadapi Iran adalah kecerdasan bermain, bukan dominasi penuh selama 40 menit. Indonesia akan menyesuaikan pendekatan permainan berdasarkan situasi skor dan momentum.

“Kami tidak bisa bermain dengan intensitas yang sama selama 40 menit. Kami harus cerdas, bukan nekat,” katanya.

Strategi Indonesia adalah membawa pertandingan tetap terbuka hingga menit-menit akhir. Menurut Souto, laga futsal sering kali ditentukan pada fase akhir, bukan di awal pertandingan.

Dukungan publik tuan rumah juga diyakini menjadi energi tambahan. Meski kapasitas penonton dibatasi, atmosfer pertandingan disebut Souto sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah AFC.

Brian Ick, salah seorang penggawa Garuda Futsal, menyebut bahwa bermain di rumah sendiri justru menjadi motivasi, bukan tekanan. Ia menegaskan seluruh pemain siap menjalankan instruksi pelatih sepenuhnya.

“Kami tidak mau kalah di rumah sendiri,” ujar Brian singkat.

Kebersamaan tim menjadi kekuatan utama Indonesia. Souto menilai hubungan erat antara pemain dan staf menciptakan bahasa taktik yang saling dipahami di lapangan. “Kebersamaan adalah kekuatan kami,” tegasnya.

Di sisi lain, Iran menegaskan tidak gentar menghadapi tekanan publik tuan rumah maupun narasi soal beban sejarah sebagai raja futsal Asia. “Besok (hari ini) adalah pertandingan baru bagi kami. Hari yang baru dan trofi yang baru. Kami menghormati Indonesia dan pelatih mereka, tetapi fokus kami hanya bermain fair play dan memberikan yang terbaik,” ujar pelatih Iran, Vahid Shamsaee. (fiq/ttg/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#Indonesia #garuda #final #timnas #sejarah #Futsal