LombokPost - Nama Jorge Lorenzo kembali menggetarkan paddock. Bukan sebagai pembalap, melainkan sebagai mentor yang mengemban misi besar: membangkitkan insting ‘pembunuh’ Maverick Vinales demi menaklukkan MotoGP 2026.
Jorge Lorenzo dan Maverick Vinales kini menjadi kombinasi yang paling disorot menjelang MotoGP 2026. Setelah pensiun dari MotoGP, Jorge Lorenzo menikmati hidup nyaman. Investasi, liburan, hingga podcast mengisi hari-harinya. Namun, gairah balap tak pernah benar-benar hilang. Ketika Maverick Vinales meminta bantuannya, Lorenzo tak butuh waktu lama untuk kembali ke garasi.
Misi Jorge Lorenzo tegas: mengembalikan ketajaman dan mental “pembunuh” Maverick Vinales yang menurutnya meredup dalam lima hingga enam tahun terakhir.
Insting Pembunuh Maverick Vinales Jadi Fokus Utama
Jorge Lorenzo mengingat sosok Maverick Vinales kecil sebagai anak ajaib yang membenci kekalahan. “Dia seorang pembunuh. Dia benci kalah,” kenang Lorenzo.
Kini, bersama tim Red Bull KTM Tech3, Maverick Vinales bertekad membuktikan bahwa dirinya masih salah satu pembalap paling berbakat di grid MotoGP.
Lorenzo menilai, secara kecepatan dan bakat murni, hampir tak ada pembalap yang setara dengan Vinales. Masalahnya bukan pada skill, melainkan pada mentalitas dan urgensi. Dan di sinilah peran Jorge Lorenzo menjadi krusial.
Duel Internal KTM: Vinales vs Pedro Acosta
Tantangan Maverick Vinales tak hanya datang dari luar. Di dalam KTM sendiri, ada ancaman serius bernama Pedro Acosta.
Pembalap Red Bull KTM Factory Racing itu finis keempat klasemen akhir MotoGP 2025 dan digadang-gadang menjadi masa depan KTM. Energi, agresivitas, dan bakat Acosta menjadikannya tolok ukur performa RC16.
Target Jorge Lorenzo jelas dan tajam: Maverick Vinales harus menjadi KTM teratas. “Jika Maverick mengalahkan Pedro Acosta, maka dia bisa berjuang untuk meraih kemenangan,” tegas Lorenzo.
Artinya, sebelum berbicara soal gelar atau kemenangan seri, Maverick Vinales wajib menaklukkan rival terdekatnya di garasi sendiri.
Momentum Cedera dan Kebangkitan di Sepang
Sebelum cedera bahu di GP Jerman mengganggu performanya, Maverick Vinales sempat menjadi pembalap KTM paling kompetitif. Bahkan, ia berperan besar dalam pengembangan RC16.
Tes Sepang menjadi titik balik. Kondisi fisiknya membaik. Bahu yang sempat dikhawatirkan kini mampu menahan tekanan. Fondasi fisik Maverick Vinales kembali solid.
Ambisi Besar: Empat Pabrikan, Satu Sejarah
Maverick Vinales telah mencatat 10 kemenangan MotoGP bersama tiga pabrikan berbeda. Jika mampu menang bersama KTM, ia berpeluang menjadi pembalap pertama yang menang dengan empat pabrikan berbeda.
Namun untuk mencapai itu, insting pembunuh Maverick Vinales harus benar-benar kembali. Jorge Lorenzo memahami satu hal: pertarungan terbesar seorang pembalap bukanlah melawan rival di lintasan, melainkan melawan dirinya sendiri.
Editor : Rury Anjas Andita