LombokPost- Keputusan Mikel Arteta menurunkan Kepa Arrizabalaga di bawah mistar gawang Arsenal pada final Carabao Cup 2025/2026 berakhir tragis. Kekalahan 0-2 dari Manchester City di Stadion Wembley, Senin (23/3) dini hari WIB, seolah mempertegas adanya "kutukan" bagi kiper asal Spanyol tersebut setiap kali tampil di stadion kebanggaan rakyat Inggris itu.
Kepaa kembali gagal mempersembahkan trofi di Wembley setelah gawangnya dibobol dua kali oleh Nico O'Reilly dalam rentang waktu empat menit saja. Penampilannya di babak kedua menjadi sorotan tajam karena dianggap gagal memberikan rasa aman bagi lini belakang The Gunners di momen-momen krusial.
Kekalahan ini menambah daftar panjang kegagalan Kepa dalam empat laga final yang dijalaninya di Wembley sepanjang karier profesionalnya. Sejarah mencatat, Kepa hampir selalu pulang dengan kepala tertunduk, baik saat masih berseragam Chelsea maupun kini bersama Arsenal di kompetisi yang sama.
Baca Juga: Luis Enrique Masuk Radar Utama Manchester United, Ambisi Liga Champions Jadi Penentu di PSG
Tragedi pertama Kepa di Wembley dimulai pada final Carabao Cup 2019, yang diwarnai aksi pembangkangannya terhadap Maurizio Sarri saat menolak diganti. Meski laga berlanjut hingga adu penalti, Chelsea akhirnya kalah dari Manchester City, memulai catatan kelam sang kiper di stadion ini.
Rentetan hasil negatif tersebut terus berlanjut pada final-final berikutnya, termasuk kekalahan menyakitkan di final Piala FA dan final Carabao Cup 2022 melawan Liverpool. Dalam laga melawan Liverpool tersebut, Kepa yang masuk sebagai spesialis penalti justru gagal mengeksekusi bola panas yang melambung jauh di atas mistar.
Dengan kekalahan terbaru kontra Manchester City dini hari tadi, reputasi Kepa di Wembley kian terpuruk dan memicu kritik keras terhadap kebijakan rotasi penjaga gawang Arsenal. Publik kini mempertanyakan alasan Arteta menepikan David Raya demi menurunkan kiper yang memiliki rekam jejak buruk di partai puncak Wembley.
Baca Juga: Casemiro Masih Dibutuhkan di Old Trafford, tapi Tak Dijamin Bertahan di Manchester United
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin