LombokPost - Momen haru mewarnai Monte-Carlo Masters 2026 saat Stan Wawrinka resmi mengucapkan selamat tinggal. Petenis Swiss berusia 41 tahun itu menjalani pertandingan terakhirnya di Monte-Carlo setelah kalah dari Sebastian Baez pada Senin (7/4).
Tampil dengan status wildcard, Wawrinka memanfaatkan musim terakhirnya di ATP Tour untuk berpamitan dengan turnamen-turnamen yang memiliki makna besar dalam kariernya. Monte-Carlo menjadi salah satu yang paling spesial.
Di turnamen inilah Wawrinka meraih satu-satunya gelar ATP Masters 1000 dalam kariernya pada 2014. Saat itu, ia mencatat kemenangan bersejarah dengan mengalahkan rekan senegaranya, Roger Federer, di partai final.
“Kenangan yang luar biasa. Itu adalah satu-satunya gelar Masters 1000 saya, apalagi di Monte-Carlo,” ujar Wawrinka. “Saya tumbuh di lapangan tanah liat dan selalu memimpikan turnamen seperti ini,” sambungnya.
Ia juga mengenang betapa emosionalnya menghadapi Federer di final tersebut, mengingat kedekatan mereka di luar lapangan, termasuk sebagai rekan di tim Piala Davis Swiss.
“Melawan Roger selalu berbeda. Kami sangat dekat, bahkan sempat pemanasan bersama sebelum final. Mengatasi itu dan menang adalah sesuatu yang luar biasa,” kenangnya.
Kesuksesan di Monte-Carlo hanyalah bagian dari perjalanan panjang Wawrinka. Sepanjang kariernya, ia pernah mencapai peringkat tertinggi dunia di posisi tiga dan meraih tiga gelar Grand Slam—prestasi yang bahkan melampaui ekspektasinya sendiri.
Namun, bagi Wawrinka, pencapaian terbesar bukan sekadar trofi. Ia menekankan bahwa perjalanan kariernya lebih tentang proses, kerja keras, dan mentalitas untuk terus berkembang.
“Saya berasal dari desa kecil, bermimpi menjadi pemain tenis profesional tanpa pernah menetapkan target besar seperti juara Grand Slam atau nomor satu dunia. Saya hanya ingin terus berkembang dan mendorong batas diri,” tuturnya.
Meski berada di penghujung karier, Wawrinka tetap mempertahankan semangat kompetitifnya. Ia bahkan mencatatkan rekor sebagai pemain tertua sejak 1978 yang mencapai babak ketiga Australian Open awal tahun ini.
Baginya, setiap pertandingan tetap penting, bukan sekadar seremoni perpisahan.
“Saya selalu masuk lapangan untuk menang. Ini tidak pernah mudah, apalagi di usia 41 tahun. Dibutuhkan disiplin dan pengorbanan besar untuk tetap kompetitif,” tegasnya.
Wawrinka pun berharap masih bisa meraih beberapa kemenangan di sisa musim terakhirnya, sembari menikmati setiap momen di lapangan yang telah membesarkan namanya.
Editor : Rury Anjas Andita