LombokPost - Musim lapangan tanah liat resmi dimulai di Monte-Carlo Masters, dan perdebatan soal siapa yang terbaik di permukaan ini kembali mengemuka. Dalam sejarah tenis modern, hanya segelintir pemain yang benar-benar mampu mendominasi clay court—dengan tiga nama utama: Rafael Nadal, Bjorn Borg, dan Carlos Alcaraz.
Tiga generasi berbeda, tiga gaya bermain, tetapi satu standar yang sama: dominasi luar biasa di lapangan tanah liat.
Nadal masih menjadi tolok ukur utama. Raja Roland Garros dengan 14 gelar itu mencatatkan persentase kemenangan fantastis mencapai 90,5 persen—tertinggi di Era Terbuka. Rekornya di clay court mencapai 484 kemenangan dan hanya 51 kekalahan, menjadikannya sosok paling dominan sepanjang sejarah di permukaan ini.
Di bawah Nadal, nama besar lain adalah Borg. Legenda Swedia itu mencatatkan persentase kemenangan 86,1 persen dengan enam gelar Roland Garros. Gaya permainan baseline yang konsisten dan efisien membuatnya menjadi pionir dominasi di clay sebelum era modern.
Kini, tongkat estafet seolah berpindah ke Alcaraz. Di usia 22 tahun, ia telah mencatatkan persentase kemenangan 84,4 persen di lapangan tanah liat. Angka ini menempatkannya di posisi ketiga sepanjang masa di antara pemain yang pernah menjadi nomor satu dunia.
Performa Alcaraz di musim 2025 menjadi bukti nyata. Ia mencatatkan rekor 22-1 di clay court, termasuk menjuarai Roland Garros dan Monte-Carlo Masters.
Selain tiga nama tersebut, dua legenda lain juga layak masuk daftar elite. Ivan Lendl mencatatkan 81 persen kemenangan dengan 28 gelar di clay, termasuk tiga Roland Garros. Sementara Novak Djokovic memiliki persentase 80,4 persen dan telah meraih banyak gelar besar, termasuk emas Olimpiade Paris 2024 serta 11 gelar ATP Masters 1000 di clay.
Monte-Carlo sendiri kerap menjadi indikator awal dominasi di musim tanah liat. Nadal pernah menjuarai turnamen ini 11 kali, termasuk delapan gelar beruntun. Kini, Alcaraz berupaya menjadikan Monako sebagai pijakan untuk melanjutkan dominasinya di Eropa.
Lapangan tanah liat dikenal sebagai permukaan paling menuntut dalam tenis. Dibutuhkan kesabaran, kekuatan fisik, serta kecerdasan taktik untuk bertahan dalam reli panjang. Itulah sebabnya, hanya pemain dengan kualitas komplet yang mampu mencetak sejarah di atas tanah merah.
Editor : Rury Anjas Andita