LombokPost-Sirkuit Internasional Mandalika kembali menjadi saksi sejarah baru bagi dunia motorsport tanah air.
Pembalap kebanggaan Indonesia, Sean Gelael, mengambil langkah yang tergolong "berani dan tak biasa" dalam ajang GT World Challenge Asia 2026 yang digelar mulai Jumat (1/5).
Alih-alih berbagi kemudi dengan rekan setim, Sean memutuskan untuk turun sebagai pembalap tunggal (solo) di bawah bendera Garage 75.
Keputusan ini sontak menjadi perbincangan hangat di area paddock, mengingat tantangan fisik dan konsentrasi yang jauh lebih besar dibandingkan skema tandem pada umumnya.
Dalam konferensi pers di Media Center Sirkuit Mandalika, Sean mengungkapkan bahwa keputusan ini bukanlah langkah spekulatif, melainkan bagian dari strategi matang tim manajemen.
“Pilihan ini lebih ke strategi tim. Ada beberapa faktor teknis dan situasi yang membuat kami memutuskan untuk jalan sendiri,” ujar Sean.
Baca Juga: Sean Gelael Siap Tampil di GTWCA 2026
Ia menambahkan bahwa tim sempat mempertimbangkan beberapa opsi pembalap pendamping, namun regulasi kelas yang diikuti serta kondisi internal membuat manajemen Garage 75 mantap memilih skenario pembalap tunggal.
Meski baru pertama kali menjajal aspal Mandalika, Sean menunjukkan profesionalisme kelas dunia. Ia datang lebih awal dan memanfaatkan tiga sesi paid test berdurasi tiga jam pada hari Kamis untuk "berkenalan" dengan karakter tikungan Mandalika yang menuntut kecepatan tinggi.
Pada hari pertama rangkaian lomba (Jumat), Sean memfokuskan diri pada pengumpulan data teknis melalui Official Paid Test Session. Atmosfer di lintasan juga semakin semarak dengan iringan sesi Mandalika Festival of Speed yang digelar hampir bersamaan.
Bagi Sean, pengalaman pertama melaju di sirkuit sepanjang 4,31 kilometer ini meninggalkan kesan yang mendalam. Ia mengaku sangat menikmati kombinasi antara tantangan teknis sirkuit dan keindahan alam di sekitarnya.
Dengan target tinggi yang telah dipatok, perjuangan Sean Gelael di ajang ini menjadi salah satu momen yang paling dinantikan oleh para penggemar balap di Indonesia.
Editor : Kimda Farida