Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pembinaan Atlet Bulu Tangkis Berprestasi Jadi Tantangan, Berharap Dukungan Pemerintah dan PBSI

Redaksi • Sabtu, 9 Mei 2026 | 10:12 WIB
MAIN BARENG: Laki-laki sedang bermain bulu tangkis di Lapangan Badminton Wawa Sport, Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (8/5). Bulu tangkis merupakan salah satu olahraga dengan peminat paling stabil dan lapangannya hampir tidak pernah sepi. (IVAN/LOMBOK POST)
MAIN BARENG: Laki-laki sedang bermain bulu tangkis di Lapangan Badminton Wawa Sport, Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (8/5). Bulu tangkis merupakan salah satu olahraga dengan peminat paling stabil dan lapangannya hampir tidak pernah sepi. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost - Bulu tangkis kini bertransformasi menjadi gaya hidup yang digandrungi lintas generasi. Mulai dari anak-anak, kalangan profesional, hingga komunitas ibu-ibu. Namun, di balik kemeriahan mabar (main bareng) di berbagai GOR, terselip tantangan dalam menjaga konsistensi pembinaan atlet prestasi.

Pelatih klub Warna Agung Perkasa Mataram, Doris Kurniawan Dwilaga mengungkapkan, daya tarik utama bulu tangkis yang membuatnya tetap eksis di tengah munculnya olahraga baru adalah faktor aksesibilitas dan aspek sosialnya.

"Sekarang badminton terasa lebih fun. Komunitas tumbuh di mana-mana. Ibu-ibu dan bapak-bapak sekarang banyak yang buat grup mabar, bahkan mereka sengaja memanggil pelatih (coaching) untuk meningkatkan skill sambil bersosialisasi. Dari yang beginner sampai pro bisa gabung di satu lapangan,” kata Doris, Jumat (8/5).

Baca Juga: Lalu Wirajaya Mencari Bibit Atlet Bulu Tangkis Kebanggaan NTB

Pelatih NTB pada PON XXI Aceh-Sumut lalu, menilai dari segi biaya, bulu tangkis jauh lebih terjangkau dibandingkan olahraga raket lainnya yang sedang tren. Ia membandingkan biaya sewa lapangan bulu tangkis di Mataram yang berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per jam untuk lapangan karpet, jauh di bawah tarif lapangan paddle di kota-kota besar yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per jam.

Meski minat masyarakat umum sedang tinggi, Doris membeberkan tantangan yang dihadapi klub-klub pembinaan di Mataram, khususnya dalam mencetak bibit unggul. Salah satu kendala utama yang paling dirasakan adalah sistem full day school.

“Anak-anak sekolah sekarang baru pulang jam tiga sore. Padahal, jadwal sewa GOR untuk klub biasanya terbatas dari jam tiga sampai jam enam sore. Akibatnya, waktu efektif latihan berkurang drastis. Fisik anak-anak juga sudah terkuras setelah seharian di sekolah,” keluh Doris.

Baca Juga: Padel adalah Olahraga Raket Baru yang Seru, Kombinasi Fleksibel dari Tenis, Skuas, dan Bulu Tangkis!

Untuk menyiasati hal tersebut, klub Warna Agung Perkasa yang saat ini membina sekitar 20 hingga 30 atlet dari usia dini hingga taruna, memaksimalkan latihan di akhir pekan melalui kelas privat atau tambahan jam terbang di hari libur.

Padahal, menurut Doris, konsistensi latihan dari Senin hingga Jumat adalah kunci utama bagi mereka yang ingin menembus kasta profesional.

Selain kendala waktu, faktor ekonomi juga menjadi ganjalan bagi iklim pembinaan di NTB. Doris menyoroti perbedaan mencolok antara pengelolaan klub di Jawa dan di NTB, terutama terkait apresiasi terhadap tenaga pelatih dan biaya operasional.

Baca Juga: Pertarungan Sengit di Final Bulu Tangkis SRL Cup 2024, Berakhir Dramatis dan Penuh Tekanan

Klub-klub lokal di Mataram umumnya berdiri secara mandiri di bawah naungan pemilik klub, di mana honor pelatih murni bergantung pada iuran anggota, tanpa adanya insentif khusus dari induk organisasi bagi klub-klub kecil.

Kendati didera berbagai keterbatasan, dedikasi Doris dan klub-klub di Mataram terbukti mampu melahirkan prestasi. Pada ajang PON Aceh-Sumut 2024 lalu, tiga atlet didikannya berhasil menembus seleksi ketat dan mewakili NTB di kancah nasional. Prestasi ini diraih setelah bersaing dengan atlet-atlet terbaik dari daerah lain seperti Bima dan Sumbawa.

Doris menekankan, kalender kejuaraan resmi dari PBSI sebenarnya sudah rutin terjadwal setiap tahun, baik di tingkat daerah maupun luar kota. Hal ini menjadi motivasi bagi para atlet muda untuk tetap bertahan di jalur prestasi meski harus berbagi waktu dengan urusan akademis.

“Harapan kami kepada pemerintah dan PBSI adalah dukungan nyata untuk klub-klub kecil. Karena pemain hebat itu lahir dari klub-klub bawah seperti ini. Kami butuh dukungan sarana, prasarana, dan juga perhatian pada kesejahteraan pelatih agar pembinaan tidak terputus," tegasnya.

Ia juga berpesan kepada para orang tua untuk terus mendukung minat anak, mengingat persaingan di dunia bulu tangkis sangat bergantung pada kemauan keras si atlet untuk maju.

“Tanpa dukungan orang tua dan kemauan keras dari anak itu sendiri, sulit untuk mencapai level profesional,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Agung Teguh Wirabakti. Sejak 2017 dia mendirikan klub bulu tangkis bernama Surya Bakti. Klub ini fokus membina atlet usia dini hingga remaja di Gelanggang Olahraga Masbagik, Lombok Timur (Lotim). "Klub yang saya buat mulai aktif di SK PBSI dan tergabung bersama Pengprov NTB sejak 2017," kata Agung.

Dia yakin dengan pembinaan yang berjenjang bakal menghasilkan atlet potensial. "Yang membedakan, hanya sarana dan prasarana latihan dibandingkan pembinaan klub di kota. Yang penting semua harus dijalankan dengan rasa penuh semangat," ujarnya.

Selain latihan reguler, Agung juga membuka program privat untuk mengejar ketertinggalan atlet. Menurut Agung, pembinaan dilakukan bertahap sesuai usia dan kemampuan pemain.

“Anak-anak kelahiran 2010 ke atas memang harus mengejar ketertinggalan karena mereka sudah mulai terlambat dibanding daerah lain yang pembinaannya lebih awal,” katanya.

Meski demikian, dia mengakui atlet NTB masih memiliki kendala dari sisi fisik saat bertanding di luar daerah. Perbedaan postur tubuh dengan atlet dari daerah lain seperti Bali menjadi tantangan tersendiri. “Kalau keluar daerah, kami kadang kalah di postur tubuh. Tapi mental anak-anak tidak down,” katanya. (chi/arl/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Raket #Klub #Pembinaan Atlet #komunitas #Bulu tangkis