LombokPost - Finalis Liga Champions musim ini, Arsenal, bisa kesulitan menemukan cara mencetak gol musim depan setelah peraturan anyar sepak bola dirilis FIFA-IFAB (Badan Pembuat Aturan Sepak Bola Internasional).
Sebab, dalam aturan baru yang akan mulai diberlakukan di Piala Dunia 2026 itu, praktik blokir pemain saat set piece yang identik dengan finalis Liga Champions itu akan dibatasi.
Baik dalam situasi sepak pojok maupun tendangan bebas. Pemain yang sengaja menghalangi lawan akan dianggap melakukan pelanggaran.
Baca Juga: Alami Cedera di Final Liga Champions, Impian William Saliba Tampil di Piala Dunia Terancam Sirna
Aturan itu terinspirasi dari konsep screen dalam permainan bola basket. Pemicunya ketika Ben White menciptakan gol untuk Inggris ke gawang Uruguay dalam laga uji coba pada Maret lalu.
White juga merupakan penggawa Arsenal.
“Kami berusaha menyelesaikan masalah ini,” kata Ketua Komite Perwasitan FIFA Pierluigi Collina, dikutip dari situs resmi IFAB.
Gol dari Pelanggaran
Menurut Collina, aturan tersebut bukan merupakan sentimen terhadap tim tertentu, melainkan upaya FIFA agar tidak ada gol yang tercipta dari pelanggaran.
“Saya rasa tidak ada dari Anda yang senang dengan gol yang tercipta dari situasi akibat pelanggaran,” sambung mantan wasit FIFA berkebangsaan Italia itu.
Baca Juga: Timnas Iran Pindah Markas Piala Dunia ke Meksiko, Iran Tergabung di Grup G
FIFA sudah mulai memperkenalkan serangkaian aturan barunya tersebut dalam laga-laga uji coba internasional di beberapa hari terakhir.
Inti dari berbagai regulasi anyar itu adalah membuat pertandingan berjalan lebih lancar dan tidak banyak diwarnai taktik membuang waktu.
Ada dua inspirasi lain di balik aturan-aturan baru tersebut. Pertama, first leg playoff knockout Liga Champions antara SL Benfica melawan Real Madrid di Lisbon.
Pemain Benfica Gianluca Prestianni menutup mulutnya saat menghina Vinicius Jr dengan ejekan rasis. Vinicius merupakan wide attacker Real Madrid.
Kedua, skandal walkout skuad Senegal dalam final Piala Afrika melawan Maroko karena tidak puas dengan kepemimpinan wasit. Senegal akhirnya kembali bermain.
Sadio Mane dkk juga berhasil memenangi laga.
Namun, dua bulan kemudian, Badan Arbitrase Olahraga memutuskan bahwa Maroko merupakan juara yang sah. (ren/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online